Eight

1859 Kata
Makan siang itu Nami menemui Neil di restoran Italia yang terletak di Little Italy, editornya itu terus merengek padanya untuk mencoba makan di restoran Italia yang baru dibuka di sana. Nami menyanggupinya dengan catatan ia harus mentraktir Nami makan siang. Butik Anne Scholz dijaga oleh Lucy dan Juliane, Anne Scholz baru akan tiba malam nanti di New York City. “Kau sudah menemukan ending yang tepat?” tanya Neil sewaktu Nami baru memesan menu makanan. “Kuakui belum,” jawab Nami dengan embusan napas panjang. “Oh Nami! Tidakkah kau pikir ini tinggal beberapa hari lagi!” “Aku tahu, Neil, tapi menulis bukan hanya soal menemukan ending yang tepat. Menulis juga soal emosional, jiwa, nyawa di dalam tulisan itu. Tanpa itu, tulisanmu tidak akan berkarakter. Kau tahu aku, tulisanku. Aku janji padamu aku akan menyelesaikannya sebelum tahun baru. Ok, sekarang kita makan dan jangan bahas itu!” Neil Alexinho tidak bisa berkata apa pun lagi. Nami Anezaki memang orang yang lemah lembut, ramah khas wanita Asia, tetapi dia juga keras kepala dan tidak ingin dibantah. Namun, justru karena semua itu ia selalu menghasilkan tulisan yang mampu membuat pundi-pundi perusahaannya menghasilkan jutaan dolar dari karyanya. Ditambah ketertarikan Andrea Pallazo yang mengadaptasi novelnya menjadi film. Intinya, Nami Anezaki adalah penulis andalan perusahaannya dan pundi-pundi uang tempatnya bekerja. “Baiklah, aku akan menantikannya dengan manis sebelum tahun baru.” Nami mengangguk dan ia memesan makanan. Restoran itu cukup padat di siang yang amat cerah di New York City. Restoran yang tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman karena penghangat ruangan yang membuat keduanya betah berlama-lama di sana. Dihiasi ornamen kayu khas pedesaan. Ada bar kecil dan wine berjejer di sana. Tidak tinggal ornamen Natal serta lagu-lagu Natal yang sesekali diselingi lagu-lagu terbaru. “Kau tidak pulang Natal ini?” tanya Nami kepada Neil. “Aku sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan malam ini ke Florida.” “Enak sekali kau merayakan Natal bersama keluargamu. Aku hanya sendirian di apartemen.” “Kau bisa menelpon orangtuamu dan mengucapkan selamat Natal. Kau tidak sendirian,” hibur Neil yang tahu bahwa Nami memang tinggal sendirian di New York City. Kakek dan neneknya dari sebelah ibunya tinggal di Washington sementara kedua orangtuanya saat ini tinggal di Jakarta. “Aku pasti akan melakukan itu, tetapi suasanannya tetap saja berbeda.” “Kau bisa mengajak—aku lupa namanya, yang kau celakakan karena tangannya terkilir—untuk merayakan Natal bersama. Bukankah kau menceritakannya kemarin kepadaku karena hal itulah kau menemaninya ke toko buku dan dia tidak bisa pulang ke San Francisco karena tangannya yang sedang sakit.” “Tidak adakah orang lain yang terpikirkan olehmu selain dia?” tanya Nami sedikit kesal. “Kenapa tidak?” “Aku selalu membuatnya sial setiap kali kami bertemu.” “Tapi yang mengherankan dia membeli semua novelmu.” “Itu tidak ada hubungannya,” ucap Nami sambil mencicipi makanan yang baru datang. “Hm, makanan ini lezat sekali.” Neil mencicipi makanan di piring Nami sebelum ia membalas ucapan Nami. “Tidak salah aku mengajakmu kemari!” Neil menampakkan raut gembira karena rekomendasi tempat makan yang dipilihnya siang itu. Nami mengangguk setuju. “Dan soal dia yang membeli semua novelmu, tentu saja ada hubungan. Mungkin ia tertarik padamu.” Nami memutar bola matanya mendengar ucapan Neil. Yang benar saja? Demi Tuhan Nami tidak akan memercayai itu. Jelas sekali Dean Gariando sangat membencinya karena semua bencana bersumber dari diri Nami. Bagaimana mungkin pria itu tertarik padanya, dari segi apa pun Nami yakin tidak ada sejengkal dari dirinya yang mampu membuat pria itu tertarik kepadanya. “Lelucon Natalmu sungguh lucu sekali,” ungkap Nami dengan nada sarkas. “Terima kasih atas pujianmu.” “Sama-sama,” jawab Nami sembari mengecek ponselnya. “Neil, ngomong-ngomong hari ini ada potongan untuk pembelian dua minuman di Starbucks. Kau mau?” tawar Nami kepada Neil. “Baiklah, dengan tambahan makanan manis. Aku sepertinya kekurangan gula minggu-minggu ini.” Neil tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya. “Bisa tolong tambahkan satu botol lagi air mineral, terima kasih,” ucap Neil kepada pelayan. “Aku justru kebanyakan gula. Kemarin aku baru menghabiskan satu kotak kue dan jus apel kemudian malam tadi aku makan es krim padahal cuaca sangat dingin di luar. Aku melakukannya agar mataku terus terbuka agar aku bisa menulis. Mungkin aku akan mengendut akhir tahun ini,” keluh Nami sembari menyuap makanannya. “Kau bisa memakan snack untuk diet. Akan aku bawakan setelah pulang dari Florida. Adikku pandai membuat cemilan untuk diet sehat. Dari buah-buahan kering dan juga sayuran kering. Dia juga membuat minuman teh dari campuran bunga-bungahan. Aku yakin kau akan suka dan hidupmu akan lebih sehat.” Nami rasanya ingin memeluk Neil sekarang juga. Editornya itu memang selalu perhatian kepada Nami. Nami yang memang tinggal sendirian selalu makan sembarangan dan kurang menjaga asupan nutrisi untuk dirinya. Neil selalu mengingatkan Nami untuk minum vitamin serta makan makanan yang sehat. “Kau sangat baik! Katakan terima kasih untuk adikmu karena memberi aku cemilan sehat buatannya!” Setelah obrolan itu mereka melanjutkan makan dan setelah makan selesai keduanya pergi ke Satrbucks yang berada satu blok dari tempat mereka makan sebelumnya. Selesai dari membeli minuman, Nami memutuskan untuk kembali ke butik Anne Scholz. Ia masih harus bertanggung jawab menjaga butik kepunyaan temannya itu. Bayangan semua perlengkapan dari desainer terkenal sudah menari-nari di otaknya. Dan satu hal lagi, ia harus menelpon orangtuanya di Jakarta. Perbedaan waktu dua belas jam lebih lambat antara Jakarta dan New York mengurungkan niat Nami untuk menelpon orangtuanya sekarang. Jika di New York City saat ini siang hari maka di Jakarta sekarang adalah malam hari. Saat Nami baru keluar dan berpisah dari Neil, ponsel Nami berdering. Ia melihat nama penelpon. Dean Gariando. Oh ada apa lagi ini pikir Nami. “Ada apa?” “Apa selalu seperti itu nada suaramu saat mengangkat telpon dariku?” Nami memutar bola matanya. Selalu saja pria itu mencari celah di mana dirinya bisa membuat Nami naik darah. “Katakan apa maumu?” tanya Nami tanpa basa-basi. Ia tahu Dean menghubunginya pasti ada sebab. “Malam ini kau harus menemaniku ke suatu tempat. Jangan berpikir aku sedang mengajakmu untuk menghabiskan malam Natal. Aku menghubungimu karena Jeremy tidak ada untuk aku perintah atau mengantarku ke mana saja yang aku inginkan. Tinggal sisa orang yang harusnya bertanggung jawab atas diriku yang saat ini terpikir olehku.” Nami mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dean. Entah apa yang tengah diocehkan pria itu padanya. Jalanan yang ramai membuat suaranya tidak terdengar jelas. Namun, Nami dapat mendengar intinya, pria itu ingin pergi ke suatu tempat. “Ke mana kau akan pergi?” tanya Nami tanpa memedulikan ucapan Dean yang panjang lebar itu. “Tugasmu hanya menemaniku tanpa banyak bertanya. Jam enam petang kau sudah harus menjemputku. Terserah dengan apa itu, mobil atau taxi. Aku tunggu dan aku tidak suka terlambat. Lima menit saja kau terlambat maka aku tidak segan-segan untuk menyebarkan berita iklan tentang dirimu. Penulis sialan.” Nami mengkerut kesal. Pria itu memang selalu membuat darahnya mendidih. Oke, Nami tidak ingin rahasianya terbongkar. Ia masih ingin hidup tenang tanpa gangguan dari enggemar. Hal yang bisa Nami lakukan sekarang hanyalah menyetujui ajakan Dean, menemani pria itu. Lupakan soal menghabiskan malam Natal dengan menulis novelnya. Ia juga perlu penyegaran. Tampaknya ia harus kembali berhati-hati agar tidak membuat kesialan dengan melibatkan Dean Gariando lagi. ❆❆❆ “Naik apa kau ke sini?” tanya Dean ketika ia membukakan pintu. “Aku meminjam mobil Anne. Kau ingin aku menemanimu ke mana?” tanya Nami sambil memain-mainkan kunci mobilnya. “Makan dan jalan-jalan. Ini semua karenamu aku harus merayakan Natal sendirian.” Nami mendengus kesal. Ia juga sendirian pikir Nami. Anne baru akan tiba pukul sebelas malam dan Danniela merayakan Natal bersama keluarganya. “Dan kenapa harus melibatkanku?” “Kau tidak perlu bertanya pertanyaan bodoh itu. Cepat kita pergi. Jalanan akan macet dan itu membuang-buang waktu.” Tanpa pikir panjang Dean duduk di sebelah kursi kemudi. Nami menjalankan mobil Anne Scholz dengan perlahan. Diakui Nami memang jalanan cukup padat. Suasana Natal semakin marak. Gedung-gedung penuh dengan lampu-lampu yang menyilaukan. Jembatan penuh dengan mobil yang ingin menyeberang dari Brooklyn menuju Manhattan. Nami menoleh sebentar ke arah pria di sebelahnya. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Satu tangannya masih terbalut perban. Dan yang paling penting aroma mint menyegarkan berpendar dari tubuhnya. Sejenak Nami membayangkan jika Dean Gariando bisa ia masukkan ke dalam karakter pemeran utama di novel keenamnya nanti. Namun, segera ditepisnya karena itu sama saja dengan ide gila. “Ke Hotel Hilton di Midtown.” Dean menyebutkan tempat tujuannya. Nami hanya mengangguk tanpa banyak bertanya. Dalam beberapa menit mereka telah sampai di tempat tujuan. Cukup mengherankan mereka bisa sampai cukup cepat padahal jalanan padat dan banyak mobil parkir di pinggir jalan. “Parkir di sana saja.” Nami lagi-lagi menurut. Ia tidak ingin terlibat banyak hal dan mengakibatkan kesialan datang lagi pada Dean karena ulah dirinya. Nami bahkan bersedia apabila Dean memintanya untuk mendorong kursi roda jika dibutuhkan melihat kondisinya yang saat ini tengah kesulitan. “Lalu kau ingin ke mana?” “Jangan banyak bertanya dan ikuti saja aku.” Nami memutar bola matanya kesal. Hari cukup dingin dan New York City sangat ramai di malam Natal itu. Tidak henti-hentinya lagu-lagu Natal terputar dari mana saja dan juga diselingi lagu-lagu yang sedang populer saat ini. Acara di televisi-televisi besar hampir semuanya menampilkan acara Natal. Lampu-lampu penghias berwarna keemasan melingkari pohon-pohon tanpa dedaunan. Nami melihat Dean Gariando berjalan ke arah keramaian. “Aku ingin makan itu dan kau harus mengantrenya untukku.” Nami melihat antrean yang sangat panjang di depannya. Antrean panjang itu tepat berada di seberang Hotel Hilton. Ia tentu saja tahu apa yang membuat antrean panjang itu. Nami sering membelinya dan merupakan makanan favorit warga New York City. The Halal Guys, makanan khas Timur Tengah dengan pilihan daging ayam serta domba. Gerobak kecil itu belum dibuka, tetapi antrean sudah panjang terutama ini malam Natal di mana warga New York City berkumpul di pusat-pusat keramaian. “Lalu kau?” “Aku?” “Ya kau, aku mengantre sedangkan kau, apa tugasmu?” tanya Nami heran. “Duduk di sana,” jawabnya tidak acuh. Meninggalkan Nami yang kesal setengah mati. Dean duduk di bangku yang tidak jauh dari gerobak kecil itu membuka gerainya. Sungguh demi apa pun, Nami ingin mencekiknya. Dan dengan berat hati Nami akhirnya ikut mengantre di antrean panjang itu seorang diri. Dean benar-benar memanfaatkan tenaganya serta tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk selalu menyusahkan Nami. “Lamb Over Rice.” Nami menatap kesal Dean yang menelponnya kemudian menyebutkan menu pesanannya dan setelah itu mematikan begitu saja panggilannya. Nami melihat dari kejauhan Dean tengah mengutak atik ponselnya lagi. Nami langsung melihat ponselnya lagi begitu ada pesan masuk. Ia membukanya. Malam Natal ini setidaknya jangan pasang wajah jelek sialanmu itu. Kau terlihat seperti nenek-nenek di barisan antrean itu, bahkan dari jauh pun aku bisa mengenali wajah masammu itu. Setidaknya angkat sedikit sudut bibirmu karena ini malam mengembirakan. Nami langsung membulatkan matanya begitu membaca pesan dari Dean dan dengan cepat ia mengangkat kepalanya menatap Dean Gariando yang kini tengah sibuk menatap orang-orang yang berlalu lalang. Dia mungkin terlihat tidak acuh dan seenaknya, tetapi dia tahu apa yang Nami pikirkan. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN