“Wajahmu berwarna semakin cerah. Benar seperti dugaanku.” Nami membuka matanya, tubuhnya masih kaku. Dia masih bisa merasakan debaran jantungnya. Listrik juga seolah masih ada di sisa-sisa tubuhnya. Nami yakin ia tidak berhalusinasi dengan kejadian beberapa saat lalu. Dean benar-benar telah menciumnya. “Apa yang kaulakukan?” “Apa yang aku lakukan?” Dean menatap Nami dengan alis terangkat. Jelas sekali raut wajahnya itu dibuat-buat. Nami tahu ia menyembunyikan sesuatu. “Dean, barusan kau benar-benar menciumku?” tanya Nami tanpa basa basi. “Ya, memangnya kenapa?” “Kau gila!” Nami menampakkan raut kesalnya pada Dean. Sementara Dean hanya menyeringai. Lionel masih tertidur dengan nyenyak. Nami mengusap bibirnya, jelas masih terasa di sana bagaimana rasa bibir yang selalu mengejeknya it

