Dean dan Nami sama-sama diam. Sudah seperti itu semenjak lima menit yang lalu dan mereka tidak tahu harus mengucapkan kata apa. Nami hanya menekuri jari tangannya yang kini saling bertaut. Sementara Dean menengadakan kepalanya menatap plafon apartemen Nami. Mereka berdua telah melalui obrolan yang panjang beberapa saat yang lalu setelah penggakuan Dean Gariando. Mulut Nami seakan terkunci untuk berbicara dan mulut Dean seakan tertempel lem super lengket untuk berucap. Hanya terdengar suara helaan napas, detik jam, dan juga bunyi pendingin ruangan di sana. Suasana senyap sekali sehingga menimbulkan ketidaknyamanan yang luar biasa. Ingatan Nami kembali ke beberapa saat yang lalu dan awal mula berdiamnya mereka berdua. Beberapa saat yang lalu… “Aku memang berengsek karena mencintaimu.” Bet

