Davis Leader membangunkan Tristan perlahan, membuat pemuda bersurai coklat terang itu terpaksa membuka matanya.
"Ada apa?" tanya Tristan. "Apa ini sudah pagi? Sepertinya aku baru tidur sebentar." Tristan berujar sembari beranjak duduk.
"Ini memang masih subuh." Ucap Davis.
"Lalu kenapa kau membangunkanku jam segini?" tanya Tristan.
Davis menghela nafas sejenak, sembari duduk di pinggir ranjang.
"Aku ingin berbicara sesuatu padamu, dan aku hanya ingin kau yang mendengarnya." Davis kemudian menjeda sejenak ucapannya. "Aku rasa kau spesial. Ini soal mimpiku, mimpiku semalam setelah ada disini."
"Mimpi apa itu?"
"Aku bermimpi, pernah berada di sebuah gedung, ada seseorang yang terlihat menyeret siapapun yang telah mati, dan memasukannya ke dalam sebuah tempat, seperti lift, tapi aneh, seperti banyak tombol-tombol, tak lama gedung semakin hancur, lalu meledak, bersamaan dengan lift itu yang menghilang seperti teleportasi. Aku awalnya berpikir itu hanya mimpi belaka, karna dimimpi, sepertinya aku sudah mati. Tapi mimpi itu menggangguku, membuatku jadi tidak yakin itu hanya sekedar mimpi. Hampir semua anak sering bermimpi aneh kalau sudah beberapa hari disini, tapi aku kira itu hanya mimpi. Bagaimana menurutmu?"
Tristan mengerjapkan matanya sejenak mendengar cerita panjang lebar Davis. Otaknya jadi berputar. Ketidak mustahilan, kenapa anak-anak disini masih hidup, sedikit terjawab.
Tapi ia tidak bisa membalas perkataan Davis, karna tidak tahu harus berkata apa.
"Dan satu lagi rahasia." Ucap Davis, sembari membuka laci meja nakas yang berada di Tengah-Tengah ranjangnya dan Tristan.
Davis mengeluarkan belati kecil, membuat Tristan mengernyitkan keningnya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Tristan.
Davis mengarahkan belati itu pada perpotongan lehernya, membuat Tristan otomatis hendak menarik tangan Davis.
"Aku tidak akan mati, kau Tenang saja." Ucap Davis. "Kau perhatikan disini ada bekas luka tembak sekaligus jahitankan?"
Davis kemudian menggores sedikit perpotongan lehernya namun cukup dalam, hingga kulitnya langsung membelah. Tristan sampai bergetar melihatnya. Padahal Davis sama sekali tidak kesakitan saat melakukannya.
"Berdiri, dan perhatikan." Titah Davis.
Tristan dengan ragu beranjak berdiri, dan memperhatikan ceruk leher Davis yang sudah digores. Mata Tristan melebar melihat isi di dalam kulit Davis. Isinya seperti baja atau lempengen besi, yang sedikit kotor karna darah.
"Didalamnya ada mesin-mesin, dan hanya sebagian kecil saja bagian tubuhku yang terbuat dari mesin." Kata Davis. "Aku tahu semua ini karna melihat sebagian tubuh temanku hancur karna moster. Dibagian dadanya terdapat mesin, di area adanya jantung. Tapi jantungnya sendiri tidak ada. Dan aku ingat, dibagian d**a temanku itu, ada bekas luka tembak sekaligus jahitan. Sejak saat itu aku memberanikan diri untuk menggores bagian tubuhku yang memiliki bekas luka tembak dan jahit. Ternyata ditubuhku juga ada mesin. Aku rasa semua anak kondisinya juga sepertiku, ditubuh mereka ada mesin. Kecuali kau dan anak baru yang lain mungkin."
Tristan kembali duduk di tempatnya.
"Apa anak-anak yang lain tahu soal ini?" tanya Tristan.
Davis menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin mereka tahu sendiri." Ucap Davis.
"Kenapa?" tanya Tristan.
"Aku rasa itu akan membebani mereka. Mereka jadi bertanya-tanya, dan nekat mencari tahu dengan kehidupan abnormal yang sedang mereka jalani ini, hingga nanti nekat mencoba keluar dari hutan." Balas Davis. "Dan soal monster-monster itu. Aku tahu aku dan anak-anak terlihat pengecut karna sangat takut dengan mereka. Tapi percaya padaku, mereka sangat mengerikan. Zombie tidak ada apa-apanya. Monster ini besar, mereka penuh darah dan nanah, cakarnya panjang dan tajam, sekali raup. Tubuhmu akan hancur."
Kening Tristan mengkerut.
"Apa semengerikan itu?" tanya Tristan.
"Aku tidak berbohong. Aku pernah melihat tubuh temanku terpotong sebagian, bagian depan tubuhnya hancur dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mereka kuat. Panah dan tombak tidak bisa mengalahkan mereka." Balas Davis. "Dan nanah juga darahnya bisa membuat kulitmu terbakar kalau kena."
-- -- --
Tristan memperhatikan setiap inci tubuh bagian atas teman-temannya, yang baru selesai mandi, tapi masih ada yang belum dan sedang mengantri untuk mandi.
Tristan baru menyadari mereka memang memiliki bekas luka jahitan, sekaligus bekas luka tembak dan panah.
"Tristan," seseorang yang memanggilnya sukses membuyarkan lamunan Tristan. Rupanya Jovin yang memanggilnya, bocah itu memanggilnya sambil menyikat gigi.
"Mau ikut berburu? Aku dengar kau jago memanah." Ujar Jovin.
"Eum, ya, bo-boleh," ucap Tristan.
"Johnny, Lucas dan Yuto juga katanya mau ikut." Jovin berujar sembari membuang busa di mulutnya pada wastafel, kemudian ia berkumur. "Kalau kau ikut, aku jadi bisa istirahat di rumah, hehe. Aku lelah berburu terus seminggu ini." Kata Jovin setelah mulutnya bersih.
"Biasanya berapa orang yang berburu setiap hari?" tanya Tristan.
"Tidak diTentukan sih. Tapi terkadang ada anak yang malas untuk melakukannya, mereka lebih suka di rumah mengerjakan pekerjaan lain atau bermain. Akhirnya Leader Davis sering marah dan menyuruh anak-anak yang penurut sepertiku." Balas Jovin.
"Selain berburu, apa lagi yang di lakukan di luar asrama?" Tristan kembali bertanya.
"Anak perempuan biasanya ada yang menjemur pakaian, ada yang ke hutan juga ikut berburu, atau mencari tanaman dan buah yang bisa dimakan. Kalau anak laki-laki, ada yang bermain, latihan bertarung, padahal tidak tahu mau bertarung dengan siapa. Ada juga anak laki-laki yang membantu anak perempuan mencari tanaman dan buah. Yahh... lumayan banyak yang bisa dilakukan di luar asrama. Tergantung kau mau melakukan apa, kecuali mencoba keluar dari hutan ini." Kata Jovin.
-- -- --
Selesai sarapan, anak-anak yang hendak berburu pun bersiap-siap.
"Gem, hari ini kau yang jemur pakaian ya? Aku sudah cuci semuanya. Aku hari ini ingin berburu." Ujar Evelyn sembari mengenakan tas berisi anak panah.
"Aku tidak enak badan." Ucap Gemma.
"Aku saja." Kata Ester sembari mengangkat tangannya, membuat Evelyn meliriknya.
"Oh ya sudah. Kau juga sepertinya memang lebih cocok mengerjakan tugas rumah." Kata Evelyn.
Carson tiba-tiba menghampiri Evelyn sembari menyodorkan busur pada Evelyn.
"Kau hampir lupa." Ucap Carson.
"Terimakasih." Timpal Evelyn seraya tersenyum.
Sedangkan di sisi lain, Mark menghampiri Gemma yang tampak sedang memijat-mijat bahunya.
"Kenapa kau tiba-tiba tidak enak badan?" tanya Mark. Gemma menggelengkan kepalanya.
"Mungkin masuk angin. Miles akan membuatkan obat nanti." Balas Gemma.
"Kau yakin tidak apa-apa Gem?" Elliot tiba-tiba menyahut, padahal sebelumnya sedang sibuk mengasah belati.
"Aku tidak apa-apa, tidak usah berlebihan." Kata Gemma.
Elliot tak lama berjalan mendekati Gemma, dan menge cek suhu tubuh Gemma menggunakan punggung tangannya.
"Badanmu panas. Ayo aku antar ke kamar." Ucap Elliot.
"Aku saja." Timpal Mark.
Gemma memutar kedua bola matanya malas.
"Aku bisa ke kamar sendiri." Kata Gemma menjauhkan punggungnya yang sebelumnya bersandar pada dinding, dan hendak pergi ke kamarnya dari ruang tamu. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba terhuyung dan Lucas yang berdiri tak jauh dari Gemma dengan sigap menangkap tubuh Gemma.
"Kau tidak apa-apa? Ayo aku saja yang antar ke kamar." Ucap Lucas.
Mark dan Elliot sama-sama mendengus, yang ditimpali tawa oleh River secara tiba-tiba.
"Evelyn tadi menyuruhku menjaga Gemma loh, hahaha. Kalian pasti panas." Ujar River dengan gelakan tawa yang lebar.
Elliot dan Mark seketika sama-sama menatap Evelyn tidak terima.
"Eve! Apa-apaan kau ini?! Menyuruh anak baru menjaga Gemma? Kalau dia macam-macam bagaimana?" Kata Elliot.
"River terlihat polos dan imut, dia tidak akan macam-macam. Kau dan Mark kan sudah berjanji sebelumnya pada Gemma, mau membawakan rusa tergemuk yang pernah ada." Kata Evelyn.
River mencoba menyembunyikan seringaiannya saat Evelyn menyebutnya polos dan imut.
-- -- --
"Kau yakin mau ikut berburu? Tidak istirahat saja?" tanya Tristan sembari mengejar Rosa yang sudah berjalan duluan keluar asrama bersama Johnny dan Yuto.
"Ya. Aku tidak apa-apa kok, aku penasaran dengan hutannya." Balas Rosa sembari tersenyum kecil.
Daniel tiba-tiba muncul dan berjalan di belakang Tristan.
"Rosa," panggil Daniel.
"Ya?" sahut Rosa sembari menolehkan kepalanya ke belakang sejenak, untuk melihat Daniel.
"Saranku, jangan jauh-jauh dariku. Aku ingin melindungimu."