Johnny memberengut melihat kondisi ricuh, padahal hanya mau makan malam. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a, dan hanya berdiri agak jauh dari meja-meja duduk yang disusun, dengan bantal-bantal untuk duduk.
Davis besar terlihat sibuk menyuruh anak-anak untuk duduk tertib, dan berhenti bercanda, bermain, bahkan ada yang berlari-lari-an seperti anak kecil. Bukan hanya anak-anak termuda yang bertingkah seperti itu, tapi juga pemuda-pemuda seperti Daniel, Hudson, Carson dan beberapa lainnya. Mereka bercanda sampai saling memukul. Meskipun mereka sudah duduk rapih di atas bantal, di depan meja, namun mereka tetap saja membuat suasana ricuh, dengan guyonan mereka.
Bahkan Lucas, dan anak-anak baru lainnya mulai berbaur dan ikut membuat keributan. Kecuali Johnny tentunya, serta Tristan dan para gadis, karna masih sibuk menyiapkan makan malam.
Ya, Tristan ikut membantu menyiapkan makan malam, meskipun Davis sudah mengatakan itu hanya tugas anak perempuan, tapi Tristan tidak tega melihat Rosa yang tampak kewalahan karna harus menyiapkan banyak makanan.
"Akh! Bisakah kalian duduk dengan tenang?!" pekik Davis kesal.
"Tidak usah makan ya!" ancam Davis yang tetap diabaikan. Mungkin karna mereka tidak mendengar apa yang Davis katakan, karna terlalu ribut.
Merasa kasihan, Johnny akhirnya mengambil tindakan.
Ia tiba-tiba menangkap dan menarik tubuh Chase yang sebelumnya berlarian dengan Davis kecil dan Nathan, kemudian mendudukannya di atas bantal. Davis dan Nathan yang melihat itu langsung berhenti berlari dengan mata berkedip-kedip.
Johnny kemudian mentitah Davis dan Nathan untuk duduk menggunakan isyarat jarinya.
Davis pun akhirnya menurut, dan segera duduk di samping Chase, namun Nathan masih diam di tempat, membuat Johnny mendengus.
"Kau mau makan malamkan? Duduk yang manis." Ucap Johnny.
Nathan akhirnya menurut. Suasana yang ricuh pun berubah Tenang.
Ian, Evan, Jeno dan Nolan yang sebelumnya main permainan papan di atas meja makan, jadi buru-buru menyembunyikan mainan mereka.
Davis besar memasang ekspresi haru.
"Akhirnyaaa... ada yang efektif membantuku mengurus anak-anak gila ini." Ucap Davis.
Tak lama Tristan muncul bersama Gemma dengan membawa mangkuk-mangkuk besar berisi makanan. Mereka kemudian menyusunnya di meja. Di susul dengan Ester dan Evelyn yang membawa makanan lain dan nasi.
"Dimana Rosa?" tanya Daniel.
"Masih di dapur menyiapkan piring dan alat makan yang lain." Balas Evelyn.
Daniel langsung beranjak berdiri dan bergegas ke dapur. Tristan hanya diam memperhatikan pemuda itu yang tak lama menghilang dibalik dinding dapur.
Sesaat setelah Daniel sampai di dapur, matanya melebar melihat Rosa yang hendak membuka tirai jendela dapur. Ia segera berlari menghampiri gadis itu dan menarik tangannya untuk menjauh dari jendela. Kening Daniel mengkerut dan raut wajahnya terlihat panik.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Daniel dengan nada berbisik.
Rosa tampak gelagapan untuk menjawab pertanyaan Daniel.
"Peraturan utama adalah tidak boleh melihat keluar di malam hari. Apa kau lupa dengan peraturan itu? Kau bisa membunuh dirimu sendiri." Kata Daniel.
"Apa monster dan zombie di luar sana semengerikan itu? Mereka pasti bisa kita lawan." Ucap Rosa.
Daniel menggelengkan kepalanya.
"Kita hanya punya tombak dan panah, apa yang bisa dilakukan dengan itu? Sedangkan zombie dan monster di luar sana sangat kuat." Kata Daniel.
"Tombak dan panah itu senjata yang cukup. Tristan sangat pintar memanah. Lagi pula bagaimana kau tahu zombie dan monster di luar sangat kuat? Apa kau pernah mencoba melawan mereka tapi gagal?" Rosa rupanya hendak mengajak berdebat, membuat Daniel berdecak.
"Aku tidak pernah bertemu dengan mereka, sama sekali tidak pernah. Tapi Davis besar menceritakan semuanya. Dia lebih banyak tahu dibanding kita." Kata Daniel.
"Aku dan anak-anak yang baru datang yang lebih banyak tahu. Aku yakin monster dan zombie di luar sana bisa kita hadapi, dan kita bisa keluar dari hutan ini." Kata Rosa.
"Diam! Dan hanya turuti semua peraturan yang ada! Kau mengerti?!" bentak Daniel yang membuat Rosa tersentak dan mematung. Selama Rosa mengenal Daniel, baru pertama kali Daniel membentaknya seperti tadi.
"Kau mengerti? Ini demi keselamatan semuanya." Ucap Daniel kemudian dengan nada lembut. Ia sadar sudah membuat Rosa terkejut karna tiba-tiba dibentak.
"Tap-"
"Tidak ada tapi. Jangan melanggar peraturan. Aku mohon." Daniel berucap dengan raut wajah serius.
"Ayo aku bantu bawa alat-alat makannya. Teman-teman sudah menunggu untuk makan malam, mereka pasti sudah kelaparan." Kata Daniel sembari mengambil piring-piring yang sudah ditumpuk.
Rosa pun akhirnya mengikuti, ia membawa sendok, garpu serta pisau kecil untuk menyantap daging. Ia kemudian melirik Daniel yang hendak bergegas keluar dapur, namun Rosa tiba-tiba menginjak kakinya pelan, membuat Daniel menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya, ke arah Rosa yang berdiri di sampingnya.
"Dan, apa kau tidak ingat apapun Tentang hidupmu sebelum disini?" tanya Rosa.
Daniel terdiam sejenak, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingat apapun." Ucap Daniel.
"Kau punya orang tua yang bercerai, dan Ibumu sekarang sendirian." Kata Rosa.
"Aku tidak ingat apapun, jangan paksa aku untuk mengingatnya, karna itu membuat kepalaku pusing." Balas Daniel.
"Tapi aku serius. Ibumu sendirian dan kesepian, hanya kau yang menjadi temannya selama ini di rumah. Dia merindukanmu." Kata Rosa.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Agar aku termotivasi untuk keluar dari hutan ini? Tapi sayang, aku tidak termotivasi sama sekali, karna aku bahkan tidak ingat wajah Ibuku sama sekali. Aku menyukaimu, tapi aku tidak akan melakukan hal bodoh hanya karna mendengar perkataanmu." Kata Daniel sembari kembali akan melangkah pergi.
-- -- --
"Kenapa lama sekali?" tanya Davis besar saat melihat Daniel muncul dari dapur dengan membawa piring.
Daniel hanya diam sembari menggelengkan kepalanya.
Rosa tak lama juga muncul.
Davis menatap mereka dengan mata memicing.
"Kalian tidak melakukan yang macam-macam kan?" tanya Davis.
Daniel dan Rosa segera menggelengkan kepala mereka.
"Bagus. Ingat, tidak boleh berhubungan? Jangan lakukan pemicunya juga. Seperti berduaan di tempat sepi, melakukan kontak mata yang lama, berpegangan tangan, apa lagi sampai berciuman." Kata Davis.
"Bagaimana kau tahu kalau berciuman jadi pemicu s*x? Apa kau punya pengalaman?" celetuk Carson sembari tersenyum jail, membuat Davis gelagapan.
"Jangan mengingatkannya pada masa lalunya." Sahut Elias.
"Angel, Angel, miyu miyu..." ledek Nolan.
"Angel?" gumam Rosa dengan kening mengernyit.
"Angel itu kekasih Davis selama ini, tapi..." Elias menggantungkan kalimatnya sembari melirik Davis yang air mukanya berubah murung.
"Ah lupakan saja." Ucap Elias sembari tertawa kikuk.
-- -- --
Kamar di rumah besar ini ada 7. Dan setiap kamar di isi 5 orang, tapi ada dua kamar yang hanya diisi empat orang. Kamar para gadis, dan kamar yang berisi anak laki-laki yang tersisa. Setiap kamar mempunyai single bed dan lemari pakaian yang jumblahnya pas dengan mereka.
Perubahan teman kamar pun dilakukan dan diumumkan sebelum tidur oleh Davis, setelah diatur cukup lama oleh Davis, Tristan, Daniel, Johnny dan Liam.
Kamar pertama, diisi oleh Davis besar, Tristan, Daniel, Elias dan Johnny.
Sedangkan kamar kedua, diisi Hudson, Jeffrey, Kevin, Liam, dan Miles.
Kamar ke tiga, di isi Ian, Jeno, Nolan, Evan, dan Jovin.
Kamar ke empat, di isi Chase, Nathan, Davis kecil, Edward, dan Mark.
Kamar ke lima, di isi Ten, William, Andrew, Elliot dan River.
Kamar ke enam, di isi Lucas, Joseph, Carson, dan Yuto.
Dan kamar ke tujuh di isi anak perempuan.
-- -- --
Jeffrey membuka matanya kemudian beranjak duduk sembari matanya mengamati ranjang-ranjang teman-temannya, dan ia menemukan Kevin dan Hudson yang belum tidur.
Hudson terlihat mencoba tidur, namun Kevin memang masih membuka matanya lebar-lebar.
"Jangan dipaksakan kalau memang belum bisa tidur." Ucap Jeffrey yang membuat Hudson membuka matanya. Ia kemudian beranjak duduk sembari mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa aku tidak bisa tidur? Suara monster-monster itu semakin berisik dari hari ke hari." Keluh Hudson sembari menggembungkan pipinya.
"Aku juga tidak bisa tidur." Ucap Jeffrey. "Hei Kevin." Panggil Jeffrey.
"Ya?" sahut Kevin sembari beranjak duduk.
"Kau tidak lupa memori masa lalu kan?" tanya Jeffrey, yang di jawab anggukan oleh Kevin.
"Aku pernah bermimpi, empat hari setelah aku disini. Aku bermimpi pernah berada di dunia yang hancur dan penuh zombie, lalu aku juga tiba-tiba ditarik paksa oleh orang-orang yang berpakaian serba hijau ke ruangan serba putih dan ada lampu besar yang menyoroti kepalaku." Cerita Jeffrey.
"Orang-orang itu Dokter, dan kau dibawa ke ruang operasi." Ucap Kevin.
"Oh. Tapi apa mimpiku itu, sepenggal memori kehidupanku dulu? Atau itu sebenarnya hanya mimpi belaka? Aku pernah cerita mimpi ini pada Leader Davis. Tapi dia bilang itu hanya mimpi belaka." Kata Jeffrey.
"Kau pernah ada di kehidupan itu." Ucap Kevin.
"Aku pernah bermimpi digigit zombie lalu bahuku di tembak Daniel, berarti kejadian itu juga pernah terjadi di hidupku? Berarti Daniel memang pernah menembakku?" Timpal Hudson.
"Itu tidak disengaja, dia mau menembak zombie yang menggigitmu, tapi malah kau yang tertembak." Kata Kevin.
"Tapi semua itu terasa tidak pernah terjadi sama sekali pada hidup kita ya?" gumam Hudson.
"Kita pasti punya keluarga yang menunggu kita, meskipun kita tidak ingat mereka." Ucap Jeffrey.
"Tentu saja," sahut Kevin.
"Yang jadi masalah, kenapa kita ada disini? Kenapa kita lupa ingatan? Dan siapa biang dari semua ini?" Kata Hudson.
-- -- --
Lucas hampir saja membuka tirai, kalau saja Carson tidak menyadarinya, dan segera menahan tangan Lucas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Carson dengan nada berbisik, karna tidak menggangu yang lain, yang sudah tidur.
Carson kemudian duduk di pinggir ranjangnya yang berada di samping ranjang Lucas. Hingga Carson berhadapan dengan Lucas, yang juga duduk di pinggir ranjang, sembari merapatkan tubuhnya pada jendela.
"Jangan penasaran, di luar berbahaya. Apa kau tidak takut mendengar suara-suara mengerikan di luar sana?" ujar Carson.
"Aku, bahkan kalian, sebenarnya bukan sekali dua kali berada dalam kondisi berbahaya seperti ini, dikepung banyak monster dan zombie. Kita pernah berhadapan dengan mereka." Kata Lucas.
"Lalu kita kalahkan?" celetuk Carson, membuat Lucas bungkam.
"Dari perkataanmu tadi aku jadi berpikir. Kau bilang kita sebelumnya pernah berhadapan dengan zombie dan para monster itu. Penjaga sering bilang, kita adalah anak-anak yang pernah mati. Jadi kesimpulannya karna kita pernah berhadapan dengan zombie dan monster-monster itu, kita jadi mati. Lalu apa mungkin, kita mau mati untuk yang kedua kalinya? Kau dan anak baru yang lain mungkin memang belum pernah merasakan mati, lalu kalian mau merasakannya? Jadi intinya, kita akan kalah kalau berhadapan dengan mereka. Buktinya saja aku dan anak lain pernah matikan?"
"Lalu maksudmu kau mau kita semua terus terjebak di hutan ini, selamanya? Sampai mati?" tanya Lucas.
Carson kemudian hanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
"Kita harus keluar dari sini." Ucap Lucas.
"Aku tidak mau mati!" pekik Carson. Ia kemudian mengepalkan kedua tangannya, dengan rahang mengeras dan gigi bergemeletuk. "Lagi pula kalau kita bisa keluar dari hutan ini, bukan berarti kita bisa kembali ke keluarga kita. Kita pasti akan ditangkap penjaga, dan otak kita diambil. Kita sama saja tetap akan mati dengan cara mengenaskan." Kata Carson.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Lucas.
"Kekasih Leader Davis. Davis sebenarnya sudah pernah sampai garis finish bersama pacarnya, tapi saat kekasihnya itu baru melangkahkan kakinya keluar hutan, seorang penjaga langsung membekapnya, dan membawanya ke sebuah bangunan yang tak jauh dari hutan. Davis saat itu otomatis bersembunyi saat kekasihnya tiba-tiba di bekap. Kemudian ia mendengar penjaga lain berbicara untuk pengambilan otak. Dia ingin menyelamatkan kekasihnya, tapi penjaga terlalu banyak dan mereka membawa senjata. Jadi Davis kembali berlari ke asrama." Cerita Carson.
"Jadi mulai sekarang berhentilah berpikir bisa keluar dari sini." Ucap Carson sembari berbaring pada kasurnya. "Tidak usah pertanyakan apakah kita mau disini sampai mati. Karna rencana ke depannya bisa berubah sewaktu-waktu. Sekarang, jalani saja dulu hidupmu yang seperti ini."