02

1249 Kata
Edward menatap Mark yang sibuk bergurau dengan anak lain, anak laki-laki dari Kanada itu benar-benar tidak mengingat dirinya. Seseorang tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang, saat ia menoleh, ia mendapati Leader Davis berdiri di sampingnya. "Kenapa kalian, anak-anak baru maksudku, seperti mengenal sebagian dari kami?" tanya Davis. "Karna kami memang saling mengenal. Sebelum ini kita memang sudah saling mengenal. Aku bahkan bersahabat baik dengan Mark, tapi sekarang dia bahkan tidak mau aku dekati? Apa yang terjadi sebenarnya?" Davis menggendikan bahunya mendengar penuturan Edward. "Kalau kau mengingat kehidupanmu sebelumnya, lupakan saja. Kita semua yang berada disini tidak mengingat moment apapun, sebelum berada disini. Mulai saja hidupmu dari awal, dan coba bersikap seperti baru pertama kali mengenal Mark. Karna dia memang tidak mengenalmu." Kata Davis. "Anak-anak! Waktunya mandi!" teriak Davis kemudian. -- -- --                                                                                Kamar mandi besar dengan banyak bilik segera di penuhi oleh anak laki-laki untuk mandi sore. Hingga membuat kamar mandi bising. Beberapa anak yang paling muda mengisi bilik-bilik terlebih dahulu untuk mandi. Sedangkan sisanya, melakukan kegiatan yang lain selagi mengantri untuk mandi. Ada yang mencukur jenggot dan kumisnya, bercanda, cuci muka, pakai masker, sampai bertanding siapa yang bisa melempar baju kotor dari jarak jauh ke keranjang baju kotor. Sebagian memang ada yang sudah mulai membuka baju, namun hanya atasan, termasuk Daniel. Tepat saat Tristan berjalan di belakangnya, membuat pria bersurai coklat terang itu, dapat melihat punggung tegap Daniel. Kening Tristan mengkerut melihat ada bekas luka yang cukup dalam di punggung Daniel, jelas bekas luka itu seperti bekas gigitan. "Bekas lupa apa itu?" tanya Tristan sembari memposisikan dirinya berdiri di samping Daniel, yang kini Tengah berdiri di depan wastafel. "Bekas luka dimana?" Daniel malah balik bertanya sembari melirik Tristan. "Dipunggungmu." Balas Tristan. "Oh," gumam Daniel. Ia kemudian menggendikan bahunya. "Aku tidak tahu itu bekas luka apa. Tampak seperti gigitan ya? Tapi hampir semua anak disini punya bekas luka seperti ini, ada juga sih yang tidak. Seperti Jeffrey, Davis atau Jovin. Mereka hanya punya seperti bekas luka tembakan dan jahitan di kepala." Tristan seketika bungkam, langsung berkutat dengan pikirannya. 'Jadi otak yang sudah diambil, dikembalikan lagi? Siapa yang melakukannya? Bukannya para Profesor sudah menjadi zombie dan di bom?' batin Tristan. "Kenapa belum buka baju?" pertanyaan Daniel sukses membuyarkan lamunan Tristan. "Kau harus buka bajumu, tapi sisakan boxer mu. Nanti Evelyn keburu datang untuk mengambil baju kotor, dia yang biasanya mencucikan baju kita, tapi tidak boleh telat memasukan baju kotor kita ke keranjang, kalau telat, dia tidak akan mau mencucinya. Dan dia tidak mau mencuci boxer juga celana dalam." Kata Daniel, sembari melempar kaos beserta celana bahannya ke dalam keranjang baju kotor. "Lalu yang mencuci boxer dan celana dalam kita siapa?" tanya Tristan. "Cuci sendiri." Balas Daniel. "Cucinya pakai apa? Pakai mesin atau tangan?" Tristan kembali bertanya. "Khusus baju-baju pakai mesin, kalau pakaian dalam pakai tangan. Evelyn yang memberi peraturan." Kata Daniel. Tiba-tiba pintu kamar mandi di ketuk. "Itu pasti Evelyn, cepat buka bajumu." Ucap Daniel. Tristan pun dengan terburu-buru membuka baju serta celananya, lalu berjalan ke arah keranjang kotor untuk meletakan pakaian kotornya tersebut. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, mata Tristan melebar melihat siapa yang membuka pintu. "Rosa?" gumam Tristan. Pintu kamar mandi tiba-tiba di buka lebih lebar oleh gadis lain yang berdiri di belakang Rosa. Rosa sontak membuang mukanya yang memanas dan memerah, apa lagi saat matanya tiba-tiba bertemu pandang dengan Daniel, yang hanya menggunakan celana pendek hitam. "Hai Rosa!" teriak Daniel. "Ke-kenapa ada Rosa?" tanya Tristan pada gadis berambut hitam legam yang tampak kusut. "Dia membantuku membawa baju kotor sekarang." Balas gadis bernama Evelyn itu. "Tapi kau bisa m*****i matanya! Kalau hanya aku yang dilihat ya tidak apa-apa." Sahut Daniel, yang dibalas tatapan malas oleh Evelyn. Gadis itu kemudian mengambil keranjang kotor pertama, lalu mentitah Rosa untuk mengambil keranjang kotor yang lain. "Rosa!" panggil Daniel yang membuat Rosa sontak menolehkan kepalanya ke arah Daniel. Pemuda itu memberi cengiran lebar sembari melambai-lambaikan tangan pada Rosa. Namun wajahnya tiba-tiba dioseri krim cukur oleh Hudson yang berdiri di dekatnya. Membuat Rosa tidak bisa menahan kekehannya, meskipun hanya kecil. Daniel saat ini sedikit berubah, jadi lebih konyol Rosa rasa. -- -- -- Gadis-gadis sudah selesai mandi lebih awal, mungkin karna mereka hanya berempat, dan sekarang mereka Tengah menyiapkan makan malam. Gemma dan Ester saat ini Tengah memotong-motong daging rusa, sedangkan Evelyn dan Rosa masih pergi hendak mengambil baju kotor anak laki-laki dan akan dicuci dan dijemur besok pagi. Ester sesekali memperhatikan gadis ber-iris coklat terang itu, terlihat bekas jahitan di atas Tengkuk gadis itu, yang sepertinya menjalar ke atas kepalanya namun tertutup rambut. Karna rambut Gemma digulung, Ester jadi dapat melihatnya. "Itu bekas lupa apa? Yang ada di kepalamu?" tanya Ester. "Aku tidak tahu," balas Gemma. "Beberapa anak memiliki bekas luka seperti ini juga." Kata Gemma sembari tersenyum kecil. "Apa kau benar-benar tidak ingat dengan kehidupan masa lalumu, sebelum berada disini?" Ester kembali bertanya. Gemma menggelengkan kepalanya. "Aku datang kesini seperti bayi yang tidak tahu apa-apa, hanya cara melakukan beberapa hal yang aku tahu. Tapi Davis besar menuntunku selama disini." Kata Gemma. "Apa Davis orang pertama yang berada disini?" tanya Ester yang dibalas gelengan kepala oleh Gemma. "Tidak, ada sekitar 5 anak sebelum Davis datang dan 9 anak yang bersama Davis, tapi mereka sudah mati, karna mereka tidak tahu jika menjelang petang diluar sana akan sangat berbahaya, mana tidak punya senjata selain panah dan tombak. Mereka mencoba keluar dari hutan, tapi gagal. Davis sempat sendirian selama seminggu disini, sebelum anak-anak yang lain datang. Yang bersama kita sekarang ini. Davis selalu menjaga setiap anak agar tidak pernah sekalipun keluar jika sudah petang, meskipun itu hanya memandang keluar jendela." Cerita Gemma. "Lalu apa yang akan kalian lakukan ke depannya disini? Hanya makan, tidur, berburu, mandi? Tidak ada niatan untuk keluar dari hutan ini dan kembali ke keluarga kalian masing-masing?" Gemma memutar kedua bola matanya malas mendengar Ester kembali bertanya. "Jangan konyol, kita tidak akan bisa keluar dari sini. Meskipun ada pintu keluar, kita tidak akan bisa mencapainya sebelum petang, kecuali punya kendaraan. Lagi pula, kami semua tidak ada yang mengingat keluarga kami. Mungkin kau beserta teman-temanmu yang baru datang ingat. Tapi aku dan yang lain tidak." Kata Gemma. Ester akhirnya memilih diam dan tidak bertanya lagi. -- -- -- Selesai mandi sore, hari mulai gelap. Davis besar langsung mentitah anak-anak untuk mengunci rapat jendela dan pintu, serta menutup rapat tirai-tirai hingga tanpa celah. Davis juga menyuruh anak-anak yang baru datang, meskipun mereka kebingungan, mereka akhirnya tetap menuruti apa yang Davis perintahkan. Lucas berjalan mendekati Ian, yang baru selesai menutup tirai, diikuti Joseph di belakang. "Aku tahu kau mau apa." Tembak Ian saat Lucas baru akan membuka mulutnya untuk bertanya. "Aku mau apa memang?" tanya Lucas. "Pasang telingamu dan dengar baik-baik," ucap Ian. Lucas dan Joseph pun bungkam, dan melakukan apa yang Ian katakan. Namun bagi Joseph, tanpa perlu terlalu fokus, ia sudah dapat mendengar suara-suara aneh diluar sana. Suara geraman zombie, gemeretak gigi dan jari-jari, langkah kaki yang terdengar becek juga menjijikan, bahka Joseph dapat mencium bau busuk yang menyengat. "Ada zombie dan monster diluar. Aku mau mendekspresikan bagaimana rupanya, tapi setelah ini kita akan makan, kau bisa mual jika aku menceritakan Tentang rupa mereka. Ingat, jangan mengintip. Kecuali jika kalian mau mati." Ujar Ian sembari bergegas pergi meninggalkan Lucas dan Joseph yang masih dilanda rasa penasaran. Joseph kemudian memperhatikan Lucas yang kepalanya masih terarah ke arah jendela yang sudah tertutup rapat. Joseph bisa memikirkan apa yang dipikirkan Lucas saat ini. "Jangan melanggar peraturan." Ucap Joseph. Lucas seketika mengalihkan pandangannya ke arah Joseph, ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Ayo makan." Kata Lucas sembari melangkah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN