Bab 1 - Perjanjian yang Mengikat Luka
Hujan di luar sana seperti mengerti perasaanku malam ini—deras, kelabu, dan menyesakkan d**a.
Aku menatap surat kontrak yang tergeletak di atas meja kayu tua yang entah sudah berapa kali menjadi saksi bisu tangisku. Tanganku gemetar, mataku panas, tapi aku tidak punya pilihan lain.
"Beri aku alasan kenapa aku harus tanda tangan ini, Tuan Adrian," suaraku terdengar serak, hampir mati rasa.
Pria itu duduk di depanku, menyilangkan kaki dengan elegan. Tatapannya dingin, penuh arogansi. Dia pria yang bahkan senyumnya bisa menusuk lebih dalam dari sebilah pisau. Adrian Erlangga. Pewaris tunggal grup Erlangga Corp yang kekayaannya bisa membuat siapa pun bertekuk lutut.
Tapi bagiku, dia adalah musuh.
Keluarganya penyebab runtuhnya hidup kami.
Namun malam ini, aku justru duduk di hadapannya, diminta menjadi istri kontrak untuk pria yang paling kubenci.
"Aku tidak perlu memberimu alasan, Nayara," jawabnya ringan, suaranya serendah malam yang menyesakkan. "Kamu tahu, hidup tidak selalu tentang pilihan. Kadang kamu hanya harus menelan kenyataan mentah-mentah."
Aku menggigit bibirku, menahan amarah yang siap meledak.
"Kenapa aku?" tanyaku lagi, mencoba mencari celah dari situasi gila ini.
Dia bersandar santai di kursinya, memandangku dari atas ke bawah seperti aku ini barang murah yang bisa dia beli kapan saja.
"Kamu butuh uang. Aku butuh istri formal. Simple, kan?" katanya.
Aku menertawakan getir nasibku sendiri. Memalukan.
Seorang Nayara yang selalu bermimpi hidup bebas dan bahagia, kini hanya bisa menggadaikan dirinya demi bertahan hidup.
"Berapa lama?" tanyaku, suara nyaris berbisik.
"Tiga tahun," jawabnya singkat.
Tiga tahun... Tiga tahun menjadi istri dari pria yang kubenci.
Tiga tahun hidup dalam bayang-bayang Adrian Erlangga.
"Aku punya syarat," akhirnya aku angkat kepala, menatap matanya yang seperti jurang tak berdasar itu.
Dia tersenyum tipis. "Kamu di posisi minta tolong, Nayara. Tapi silakan, aku dengar."
"Kita... tidak akan menyentuh satu sama lain," kataku tegas, meski hatiku bergetar hebat.
Dia tertawa pelan, sarkas.
"Kau pikir aku menginginkan tubuhmu, Nayara? Percayalah, aku tidak tertarik pada gadis lusuh yang bahkan tidak tahu cara berdandan," ejeknya.
Aku mengatupkan rahangku. Dia benar. Aku bukan siapa-siapa. Tidak cantik. Tidak berkelas. Hanya seorang gadis desa yang tersesat di kota besar ini.
"Tanda tanganlah," katanya lagi, mendorong pulpen ke arahku.
Aku menatap tinta hitam di kertas putih itu. Sekali kutulis namaku, hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Tapi... aku tidak punya pilihan.
Dengan tangan yang hampir membeku, aku menulis namaku. Nayara Ayudia.
Tamatlah sudah hidupku yang dulu.
Dia mengambil kertas itu, menatapnya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam map hitam elegan.
"Mulai besok, kamu pindah ke rumahku. Biar kuberi tahu batasanmu di sana, Nayara. Di rumah itu, kamu hanya istri di atas kertas. Jangan pernah bermimpi lebih," katanya, lalu berdiri.
Aku hanya bisa menunduk, menelan pahitnya kenyataan.
"Kita lihat saja, Tuan Adrian... siapa yang akan lebih dulu tersiksa dalam perjanjian ini," bisikku dalam hati.
Tanpa sadar, air mataku jatuh lagi.
Tapi kali ini, aku tidak akan menangis karena lemah.
Aku akan bertahan. Bahkan kalau perlu, aku akan membuat Adrian Erlangga merasakan sakit yang sama seperti yang dia dan keluarganya tanamkan di hidupku.
Aku Nayara Ayudia, dan aku bersumpah... suatu hari kau akan berlutut di hadapanku.