Bab 2 - Rumah Sang Musuh

363 Kata
Pagi itu, langit mendung masih menggantung seperti hatiku. Aku berdiri di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang angkuh. Rumah Adrian Erlangga. Atau lebih tepatnya, penjara baruku. Aku menarik napas panjang sebelum menekan bel. Suara belnya terdengar nyaring, menggetarkan seluruh tubuhku yang sudah tegang sejak semalam. Tak lama, seorang pria paruh baya membuka gerbang. Dari seragamnya, aku tahu dia adalah kepala pelayan. "Nona Nayara Ayudia?" tanyanya sopan, tapi matanya memandangku dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai apakah aku pantas menginjakkan kaki di rumah megah ini. Aku hanya mengangguk. Suaraku tercekat. "Silakan masuk. Tuan Adrian sudah menunggu di dalam," katanya, mempersilakanku masuk. Langkahku terasa berat melewati lorong panjang yang dingin dan megah. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan mahal yang bahkan aku tak tahu siapa pelukisnya. Bau ruangan ini terlalu steril, terlalu sempurna—seperti pemiliknya. Sampai aku tiba di sebuah ruang keluarga yang luas dan minimalis. Di sana, dia duduk di sofa putih, mengenakan kemeja hitam yang membuat aura dinginnya makin menusuk. "Telat sepuluh menit, Nayara," sapanya datar, tanpa menoleh. Aku mengepalkan tangan. Sabar, Nayara. Ini baru permulaan. "Maaf. Aku harus bereskan semua barangku," jawabku ketus. Dia akhirnya menoleh, menatapku dengan pandangan yang sulit kutebak. "Aku tidak peduli alasanmu. Di rumah ini, aku tidak suka keterlambatan," katanya tegas. Aku membalas tatapannya. "Baik, Tuan Adrian." Dia berdiri, langkahnya mendekatiku. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang mahal—dan menyebalkan. "Ini kamarmu," katanya, menyodorkan sebuah kartu akses. Aku meraih kartu itu dengan hati-hati. "Aku punya aturan di sini. Pertama, kita tidak akan pernah mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kedua, jangan ganggu aku di kantor atau di rumah. Ketiga..." dia berhenti sejenak, menatapku tajam. "Jangan pernah lupa siapa kamu di rumah ini." Aku mengangguk pelan. "Hanya istri di atas kertas." Dia tersenyum miring. "Bagus. Kamu cepat belajar." Tanpa berkata lagi, dia pergi meninggalkanku sendirian di ruang yang terasa lebih dingin dari salju. Aku menatap kartu akses di tanganku. Mulai hari ini, aku resmi tinggal di rumah musuhku sendiri. Tapi aku tidak akan mundur. Aku akan bertahan. Aku akan menunjukkan bahwa aku bukan gadis lemah yang bisa dia injak seenaknya. Dan yang paling penting, aku tidak akan membiarkan perasaanku terlibat dalam perjanjian konyol ini. Setidaknya... itu yang kupikirkan saat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN