Bab 3 - Di Balik Topeng Adrian Erlangga

323 Kata
Hari-hari pertama di rumah Adrian Erlangga berjalan seperti di neraka. Aku merasa seperti bayangan yang tidak dianggap, hanya sekadar formalitas yang menumpang di rumah mewah ini. Aku bahkan harus makan sendiri di ruang makan sepanjang dua puluh meter, sementara Adrian lebih sering mengurung diri di ruang kerjanya yang terlarang untukku. Namun, malam itu, rasa penasaranku mengalahkan ketakutanku. Aku mengendap melewati koridor panjang yang sunyi, mendekati ruang kerjanya. Pintu kayu hitam itu tertutup rapat, tapi dari celah kecil, aku melihat sosok Adrian yang berbeda. Dia duduk sendirian di meja kerja, memandang sebuah foto lama. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak rapuh, lelah, bahkan... sedih. Aku menahan napas. Untuk pertama kalinya, aku melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang tersembunyi di balik topeng kesombongannya. "Apa kau sudah puas menguping?" Suaranya tiba-tiba terdengar tajam. Aku terkejut, hampir menjatuhkan diri. Dia menoleh, menatapku dengan mata gelapnya yang menyala marah. "Aku... aku hanya lewat," elakku gugup. Dia bangkit, berjalan mendekatiku perlahan. Langkahnya tenang, tapi setiap langkah itu seperti mengoyak pertahananku. "Jangan pernah memasuki ruang pribadiku tanpa izin, Nayara," katanya rendah, tapi dinginnya menusuk tulangku. Aku menunduk, bibirku bergetar. Tapi di sisi lain, aku juga penasaran. "Foto siapa itu?" tanyaku nekat, menatapnya menantang. Dia terdiam, rahangnya mengeras. "Tidak ada yang perlu kamu tahu," jawabnya datar. Aku menatapnya dalam-dalam. Ada luka di matanya. Luka yang selama ini dia sembunyikan di balik arogansinya. Malam itu aku sadar, Adrian Erlangga bukan hanya pria sombong yang kubenci. Dia juga manusia yang menyembunyikan luka yang sama dalamnya denganku. Dan itu... membuat segalanya jadi lebih berbahaya. Karena semakin aku tahu sisi rapuhnya, semakin sulit bagiku menjaga jarak. Dan aku tidak boleh jatuh. Aku tidak boleh. "Aku ingatkan lagi, Nayara. Jangan pernah cari tahu tentang aku. Kita hanya dua orang asing yang terikat kontrak. Tidak lebih," katanya lagi sebelum meninggalkanku membeku di koridor yang dingin. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Tapi dalam hati kecilku, sebuah tanya mulai tumbuh liar. Apa sebenarnya yang disembunyikan Adrian Erlangga?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN