Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa—sepi, dingin, dan penuh batasan. Aku berusaha menahan diri untuk tidak melanggar aturan yang dia buat. Tapi semakin aku mencoba menghindar, semakin aku merasa terjebak dalam pusaran kehidupannya.
Adrian tetap dengan wajah dinginnya yang tak pernah retak. Aku pun tetap menjadi 'boneka' istri kontraknya yang harus bertahan dalam keheningan.
Namun, kejadian sore itu mengubah segalanya.
Aku baru saja keluar dari dapur ketika mendengar suara keras dari ruang kerja Adrian. Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju sumber suara. Aku tahu aku seharusnya tidak mencampuri urusannya, tapi langkahku lebih cepat dari logikaku.
Pintu ruang kerjanya terbuka sedikit, dan dari celahnya aku melihat Adrian yang biasanya tenang kini melempar vas kaca ke lantai. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal kuat.
"Brengsek...," gumamnya sambil menatap layar komputer yang menampilkan berita tentang perusahaan rivalnya yang mencemarkan nama grup Erlangga.
Aku ingin pergi, tapi tiba-tiba tubuhnya goyah. Dia terduduk di lantai, "Keluar, Nayara..." katanya dengan suara serak.
"Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini!" balasku keras.
Aku berlari ke arahnya, memegang bahunya yang gemetar.
"Nafasmu... Kamu sesak?" tanyaku panik.
Dia hanya mengangguk lemah.
Aku segera mengambil inhaler yang tergeletak di meja dan membantunya menggunakannya. Setelah beberapa menit, napasnya mulai stabil, tapi tubuhnya tetap lemah.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau punya asma?" tanyaku marah sekaligus khawatir.
Dia menatapku lama, matanya kehilangan tajamnya.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Nayara...," gumamnya lemah.
Aku mengepalkan tangan.
"Ini bukan belas kasihan. Ini... kemanusiaan," bisikku, menatapnya lebih dekat.
Malam itu... untuk pertama kalinya aku menyentuhnya. Menyentuh pria yang berulang kali berkata aku tidak penting.
Dan di balik dinginnya itu, aku bisa merasakan betapa dalam luka yang dia simpan sendirian.
Malam itu, sesuatu dalam diriku mulai goyah. Batasan yang aku buat sendiri... mulai retak.
Dan aku benci diriku karena itu.