Bab 5 - Retakan di Dinding Hati

269 Kata
Sejak malam itu, aku tak bisa membohongi diri sendiri—ada retakan yang perlahan merambat di dinding hatiku. Aku mulai memperhatikan Adrian lebih dari yang seharusnya. Senyumnya yang jarang muncul, caranya menatap keluar jendela seolah mencari sesuatu yang hilang. Aku membenci diriku karena itu. Karena aku tahu, aku tidak boleh terlalu dalam. Tapi Adrian justru mulai menunjukkan sisi yang berbeda. Dia mulai pulang lebih awal. Kadang makan malam bersamaku, meski tetap dalam diam yang kaku. Seperti malam ini. "Kau suka spaghetti?" tanyanya tiba-tiba saat kami duduk di meja makan yang besar itu. Aku hampir tersedak. Ini pertama kalinya dia bertanya hal sepele seperti itu. "Eh... iya. Kenapa?" jawabku kikuk. Dia tersenyum kecil, membuat jantungku berdetak aneh. "Hari ini aku suruh koki buatkan khusus. Anggap saja... terima kasih karena menyelamatkan nyawaku waktu itu," katanya tenang. Aku membeku. Adrian Erlangga... berterima kasih? "Jangan terlalu kaget, Nayara. Aku masih manusia," katanya dengan nada mengejek, tapi kali ini lebih hangat. Aku mengalihkan pandangan. "Aku tidak menuntut ucapan terima kasih, Tuan Adrian." Dia menatapku lebih lama. "Hentikan memanggilku Tuan. Di luar sana mungkin aku monster, tapi di rumah ini... panggil saja Adrian." Aku terdiam. Nama itu terasa aneh di lidahku, tapi untuk pertama kalinya aku mengucapkannya. "Adrian." Dia tersenyum tipis, entah kenapa aku merasa senyum itu... tulus. Malam itu, keheningan di antara kami terasa berbeda. Bukan lagi dingin menusuk, tapi lebih seperti keheningan dua orang yang diam-diam mencoba membuka pintu ke arah yang mereka benci. Namun aku tahu, ini berbahaya. Karena semakin aku mengenalnya, semakin aku sulit mengendalikan hatiku. Dan aku takut, suatu hari... aku akan benar-benar jatuh ke dalam jurang yang seharusnya kuhindari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN