Hari-hari berikutnya berjalan seperti badai yang tak terduga. Semuanya berubah sejak malam itu. Adrian yang dulu hanya menatapku sebagai istri kontrak, kini... aku merasakan ada sesuatu yang berubah di tatapannya.
Dan aku membencinya.
Aku membenci caraku mulai menunggu langkah kakinya terdengar dari pintu depan. Aku membenci caraku memperhatikan ekspresi wajahnya setiap kali dia pulang larut. Aku membenci diriku yang mulai merasa nyaman berada di sampingnya.
Tapi aku tidak bisa mengendalikan semuanya.
Seperti malam ini, saat aku berdiri di balkon, menatap langit gelap yang tanpa bintang. Adrian tiba-tiba berdiri di sampingku, membawa dua cangkir cokelat hangat.
"Aku dengar kamu suka cokelat," katanya santai, menyodorkan salah satunya padaku.
Aku menatapnya heran. "Kapan kamu jadi perhatian begini?"
Dia terkekeh pelan, menatap langit yang sama.
"Anggap saja... aku mencoba peran suami yang baik," katanya.
Aku menahan senyum getir.
"Kamu tidak perlu berpura-pura, Adrian. Bukankah kita sudah sepakat? Ini hanya kontrak," aku mengingatkannya.
Dia mengangguk pelan. "Benar. Tapi kadang... aku ingin pura-pura sedikit lebih lama."
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk, membuat hatiku yang sudah retak semakin remuk.
"Apa kamu pernah berpikir... kita terlalu sering menyakiti diri sendiri hanya karena ego?" gumamnya, nadanya lirih, nyaris seperti dirinya sendiri yang tidak ingin mendengarnya.
Aku menggigit bibir. Ya. Ego kami memang terlalu besar. Kebencian yang dulu kukira satu-satunya tali yang mengikat kami, kini perlahan berubah menjadi simpul yang membingungkan.
Malam itu, aku tahu... perasaanku mulai mengkhianatiku.
Aku tidak hanya ingin menjadi istri di atas kertas. Aku mulai ingin lebih. Dan itu... adalah kesalahan terbesar yang pernah kubuat.
Aku Nayara Ayudia, gadis yang bersumpah tidak akan pernah jatuh hati pada pria yang menghancurkan keluargaku. Tapi malam itu... aku merasa janjiku sendiri mulai berkhianat.
Dan aku takut... takut karena aku mulai menyukai monster yang kupikir kubenci.