Kang Mina diam sesaat. Menyeringai kemudian. “Sayang, aku butuh uang untuk membayar kuliahku. Sayang, ibu pemilik rumah meminta uang sewa kamar. Sayang, sepatuku rusak. Sayang, aku lapar tapi tak punya uang.” “Hentikan!” “Apa? Itu hanya sebagian saja. Bahkan, saat kau pergi berkencan dengannya—kau, meminta uang padaku, kan? Aku tahu itu, sejak kau belum pindah ke Seoul. Aku, terlalu bodoh saja. Diam seperti orang gila.” Wajah Pak Jun Su merah padam. Malu tak karuan. “Aah, kau bilang apa tadi? Aku kemari, hanya untuk mengejar mu?” Kang Mina mendengus. “Jangan mimpi. Tunanganku,” lanjut Kang Mina dengan merangkul pinggang Hoon. “Dia, seribu kali lebih baik dari pada kau. Jadi.. Untuk apa aku mencari SAMPAH sepertimu.” “Kau, dengar, kan? Kau, akan sangat menyesal sudah membuang gadis he

