Setelahnya, Hanna dan Rani duduk di bibir ranjang. Rani masih terus menenangkan Hanna. Mengusap punggungnya dengan lembut. Sementara, Hanna masih menunduk sedih. “Aku dan suamiku bertengkar,” kata Hanna. Rani mendesah singkat. “Apa karena dia pulang lebih cepat tempo hari?” Hanna menggeleng. “Masalahnya.. lebih rumit kali ini.” “Apa ada kaitannya dengan Pak Jae Kyung?” “Tidak. Dia hanya menolongku.” “Lalu, kenapa kau di sini?” “Itu... Aku juga tidak begitu ingat. Aku hanya ingat pergi dari rumah. Duduk di depan minimarket. Minum-minum. Dan, saat sadar aku sudah berada di kamarnya.” “Tunggu sebentar. Kenapa kau pergi dari rumah?” tanya Rani. “Suamimu pulang?” Hanna mengangguk kali ini. “Lalu, kalian bertengkar hebat?” “Iya.” Rani menghela napas singkat. Terkesiap kemudian. “Dia

