“ Tak semua hal bisa kamu langsung pahami, kadang butuh waktu baru kamu bisa paham akan hal tersebut.”
Tak terasa 3 bulan sudah Daniel bekerja di Dilmurat company, pekerjaan nya rapi, bekerja dengan cekatan,cerdas dan diam-diam Difia mengagumi kinerja Daniel karena jarang-jarang ada karyawannya sesuai dengan keinginannya dan tak jarang mereka berdua terlibat pekerjaan hanya berdua.
"Ehhh guys sini-sini, ada gosip terpanas tau. Sumpah ini gosip fresh from the oven," ucap Elsa memanggil teman satu divisi nya untuk kumpul saat yang lain tengah sibuk kerja.
“ Ganggu saja kamu,” gerutu Rio di balik kubikelnya.
" Apa sih Sa, lebay deh kamu. Palingan juga gosip murahan anak-anak yang pacaran sesama divisi, iyakan?" lanjut Mega masih menatap layar komputernya.
" Astaga Mega ku sayang, makanya sini kumpul dulu biar saya jelasin, ini soal bu bos."
" Maksud kamu bu Difia, Sa?" Mendengar nama Difia rasa penasaran Daniel pun muncul.
"Iyalah siapa lagi, dengerin saya baik-baik ya. Pasti kalian akan kaget dengar berita ini."
" Gila selama saya kerja di sini, ini kali pertamanya saya lihat ada cowok yang mendatangi bu Difia sampai ke kantor mana cowoknya ganteng sekali lagi," Ucap Elsa dengan antusias.
"Serius kamu, Sa? Demi apa bu Difia sekarang punya cowok atau diam-diam bu Difia selama ini memang sudah punya pacar tapi dia sembunyiin barulah kali ini ketahuan karena pacarnya datangi langsung bu bos."
" Bisa jadi Meg, wah ternyata bu bos pandai juga menyimpan rahasia."
Disaat para wanita ini sibuk dengan pemikiran nya masing-masing, para pria-pria hanya menyimak tapi lain dengan Daniel dia tampak berpikir apa yang temannya katakan tentang Difia.
"Lah, mau kemana Niel? Woe Daniel," teriak Rio saat Daniel tiba-tiba meninggalkan ruangan tanpa pamit.
"Toilet." begitu ucapan Daniel ketika sudah di ambang pintu keluar.
" Anak itu ada-ada saja, di kejar setoran mungkin, hahahahhaa," celetuk Elsa.
"Vira, bu Difia ada di dalam tidak? Ada yang perlu saya bahas sama bu Difia," Tanya Daniel yang tiba tiba sudah berada di depan meja Vira sang sekertaris bu Difia.
" Astaga mas Daniel mengagetkan saya saja,” ucap Vira sambil mengelus dadanya karena kaget tiba - tiba Daniel muncul di hadapannya saat dia serius mengetik.
“ Ada tapi lagi ada tamu mas."
"Siapa?"
"Pak Jeremy Jhonsonn."
" Ohh, ada apa?"
"Mas Daniel kepo , tidak tau juga sih. Mungkin ada keperluan sama bu Difia."
"Ohhh, ya sudah saya pamit ya Vir. Nanti saja saya bicaranya." Daniel pun pergi meninggalkan Vira dan berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya ke lantai 12.
"Apa bener Jeremy Jeremy itu pacarnya bu Difia? Ahh rasanya aku tidak mau percaya deh kalau memang benar tapi aku ini kenapa merasa tidak rela bu Difia di miliki pria lain. Masa iya aku suka sama bos sendiri , bos yang super dingin," gerutu Daniel saat sudah berada dalam lift yang kebetulan cuman dia sendiri yang berada dalam lift tersebut.
" Dif ayolah, kita makan siang bersama, " Pinta Jeremy saat berada dalam ruangan difia.
"Sorry , saya sibuk sekarang, masih banyak berkas yang harus saya periksa. Saya juga ada meeting nanti sama staf jam 2, " jawab Difia yang masih sibuk mengecek beberapa berkas client dan beberapa laporan dari beberapa manager.
"Ok, bagaimana kalau makan malam, bisa?" Jeremy masih berusaha membujuk Difia agar dia mau jalang bersama dengannya.
" Jer, apa kamu tidak punya kerjaan lain, datang di saat jam kerja hanya untuk mengajak saya makan?"
" Difia saya ini bos, kita ini bos jadi kita bebas mau melakukan apa saja yang penting kita tetap gaji mereka. Ayolah Dif makan malam dengan saya, sudah lama kita tidak jalan bersama."
" Meskipun kita bos tapi kita harus menunjukan bagaimana sikap pemimpin yang sebenarnya kepada karyawan kita, jangan mentang mentang kita bos kita bisa seenaknya saja," protes difia yang tak setuju pada pemikiran Jeremy dengan menatap nya dengan tajam.
"Oke oke, jadi intinya bagaimana mau tidak makan malam dengan ku?" ucap Jeremy mengalah karena sudah melihat Difia dengan mode garangnya.
“ Saya tidak janji, karena hari ini aku sibuk sekali Jer."
" Ya sudah saya tunggu kepastian kamu Dif dan saya harap kamu tidak menolak saya. Ya sudah saya pamit, mau kerja."
Difia hanya mengangguk kan kepalanya dan Jeremy pun hilang dari balik pintu ruangan Difia, Tak lama seperginya Jeremy tiba tiba Vira masuk keruangan Difia.
" Ibu kenapa? Lagi sakit kepala? " Tanya Vira sedikit cemas karena melihat sang bos tengah menundukan kepalanya di meja.
" Saya tidak apa apa , ada apa?"
" Itu tadi mas Daniel mencari ibu pas pak Jeremy datang." Difia sedikit bingung karena tiba tiba Daniel mencarinya.
"Ada apa dia cari saya?"
" Tidak tau juga bu, mas Daniel tidak bilang juga dan karena saya bilang ibu ada tamu jadinya mas Daniel nya pergi." Difia pun hanya mengangguk angguk dan setelah itu Vira pun pamit keluar.