” Kamu itu seperti angin, tiba tiba datang memberi kesejukan di tengah kegusaran yang melanda dan tiba tiba pergi tanpa meninggalkan jejak.”
Angin berhembus sedikit kencang malam ini , membuat siapa yang berada di luar ruangan merasakan dingin yang menusuk, langit tampak gelap, bintang dan bulan malam ini seakan malu menampakan cahaya nya, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Kini jam sudah menunjukan pukul 22.00 wib dan Difia tengah berada di pinggir jalan raya sambil menunggu taksi, kalian pasti bertanya kenapa tidak pake jasa ojek online saja? Ini kan zaman serba online, oke HP Difia low to the bet (Lowbet) . Ya sehabis meeting terakhir tadi dengan pihak Winata, ia di kabari kalau pak Adi supir pribadinya tidak bisa menjemputnya karena lagi ke bandara mengantar orangtua Difia untuk ke Singapura. Setelah mendapat pesan dari pak Adi , tidak jauh dari restoran Y ada minimarket dan Difia memutuskan untuk ke sana dulu untuk beli sesuatu, setelah itu Difia pun keluar untuk duduk santai di tempat duduk yang di sediakan dari minimarket tersebut untuk memesan taxi online tapi sayang Hp nya lowbet jadinya Difia pun memutuskan berjalan ke pinggir jalanan untuk menunggu taxi tapi sekitar 15 menit berdiri taxi kosong tak kunjung lewat sedangkan angin malam semakin kencang membuat ia menggosok-gosakan tangannya di lengan karena anginnya benar-benar dingin. Di saat Difia masih menoleh kanan kiri menunggu taxi lewat tiba-tiba seseorang singgah di hadapannya.
"Ppipp, ppiipp, ppiippp."
Difia mengangkat satu alisnya, entah siapa laki-laki di hadapannya kini mengendarai motor besar sambil membunyikan klakson ke Difia, sepertinya Difia tidak mengenali orang ini dan perasaan takut sedikit menghinggapi Difia.
"Maaf mas, saya tidak pesan ojek online," ucap Difia sopan .
Di balik helm hitamnya, laki-laki itu malah tertawa dan membuat Difia semakin heran, siapa pria ini pikir Difia.
"Kamu?" ucap Difia kaget sambil menunjuk pria itu yang baru melepaskan helmnya, Difia sedikit kaget apalagi melihat gaya pria itu, celana trening abu-abu , kaos abu-abu kemudian jaket navy membuat penampilannya tampak keren dan berbeda dari sebelumnya yang Difia lihat.
" Iya bu, saya Daniel karyawan baru ibu. Kenapa bu, saya ganteng ya? hehhehe, maaf bu maaf, bercanda. Kalau boleh tau ibu lagi apa sendiri malam-malam disini?" Tanya Daniel kemudian turun dari motor besar nya dan berdiri berhadapan dengan Difia dengan santainya seperti kalau teman sendiri.
"Ehh ehh anda kok tidak sopan begitu?” bukannya menjawab pertanyaan Daniel , Difia malah protes karena barusan ada karyawannya jika bertemu baik itu di luar jam kerja berlaku tak hormat padanya .
“ Boleh bicara santaikan bu, ini juga sudah bukan jam kantor jadi boleh lah kita berteman , iya kan bu?” Tanya Daniel lagi dengan memamerkan deretan gigi putihnya tapi Difia malah diam dan tidak peduli pada Daniel dan kemudian berusaha lagi mencari taxi.
“ Tadi bu Difia belum jawab pertanyaan saya , ibu lagi apa di sini malam malam sendiri?”
“ Tidak lihat anda saya lagi berdiri," Ucap Difia ketus karena sudah jengah pada Daniel yang cerewet , astaga jutek sekali pikir Daniel.
"Ya maksud saya bu, aduhh bagaimana ya bicara nya," ucap Daniel gregetan sendiri melihat sikap bosnya sambil menggaruk kepalanya yang jelas tak gatal.
"Ibu dari mana, mau kemana, lagi apa sendiri disini? Kenapa tidak di jemput sama supir begitu bu maksud saya," lanjut Daniel.
" Anda ini seperti petugas saja ,banyak tanya," semprot Difia.
"Ya maaf bu, kan heran saja bos cantik saya kenapa ada di pinggir jalan jam segini. mana angin kencang sekali lagi."
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Difia langsung menoleh saat menyadari kalimat Daniel ada yang janggal di telinga nya.
Daniel yang menyadari kata katanya tadi menyelipkan kata bos cantik langsung salah tingkah dan tersenyum minta maaf lagi.
" Bu difia, kenapa tidak di jawab pertanyaan saya. Ibu tidak punya pulsa ya jadi tidak balas? Saya Transfer mau bu?"
Pria ini kenapa sih banyak tanya sekali, sudah kelakuannya tengil sekali, sok care lagi. Barusan nih ada karyawan aku yang seperti ini bentukannya, berani ajak aku bicara lama, mana karyawan baru lagi. Itulah yang Difia pikirkan tentang Daniel yang masih setia menunggu jawabannya.
“ Bu jangan cuekin yang perhatian dong, nanti ibu rindu lagi,” ucap Daniel pelan namun masih bisa Difia dengar.
"Hmmm, tadi saya habis meeting sama client dekat sini." Akhirnya Difia menyerah dan menjawab pertanyaan Daniel dengan harapan supaya orang ini cepat pergi karena jujur Difia capek dan ingin cepet pulang ke rumah.
"Terus ibu kenapa belum pulang? Ini sudah jam 10 lebih tau bu, tidak baik perempuan sendirian di pinggir jalan seperti ini nanti di kira butterflies night lagi bu." Tiba-tiba daniel menutup mulutnya lagi pertanda ia salah bicara.
" Saudara Daniel andai anda tidak singgah dan banyak tanya , mungkin dari tadi sudah ada taxi yang mengantar saya pulang dan saya sudah bisa istirahat."
" Begitu ya bu, maaf deh. tapi mana tega si saya lihat bos cantik saya tinggal sendiri di pinggir jalan apalagi ini menjelang tengah malam," ucap Daniel santai.
"Anda itu yaa ," ucap Difia sedikit geram karena Daniel sangat menyebalkan menurutnya dan malah semakin banyak bicara bukannya pulang.
" Baiklah bu, sebagai permintaan maaf saya. Bagaimana kalau ibu saya antar pulang," tawar Daniel dengan gaya so cool.
" Tidak usah, saya naik taxi saja," ucap Difia ketus karena sudah terlanjur jengkel dengan Daniel.
"Bu difia bu bos ku, sekarang ini sudah setengah sebelas malam tau bu, berarti sudah kurang lebih 15 menit kita berdiri di sini , angin juga semakin kencang petir mulai mengeluarkan suaranya hujan tidak lama lagi akan turun. Kalau saya pergi meninggalkan ibu terus hujan turun dan taxi tidak datang - datang bagaimana, ibu mau sendirian disini basah kuyup?" Daniel masih berusaha membujuk Difia agar mau di antar pulang.
"Ya sudah , ayo, " ucap Difia pasrah karena ada benarnya juga apa yang di katakana karyawan tengilnya ini walau Difia dongkol pada kelakuan Daniel, sedangkan Daniel bahagia bukan main karena berhasil membujuk bos juteknya itu untuk di antar pulang.
“ Ayo kemana bu? Ke penghulu?” Tanyanya menggodaa namun Difia langsung menatapnya tajam, membuat Daniel mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai permohonan maaf.
" Jadi mengantar saya atau tidak? Kenapa malah senyum- senyum, keburu hujan," ucapnya ketus kemudian Daniel pun mempersilahkan Difia naik ke motornya namun sebelum Difia benar-benar naik , tiba-tiba Daniel menahan lengan Difia membuat Difia menatap Daniel kaget.
“ Ibu pakai jaket saya, udaranya semakin dingin.” Tanpa drama menolak karena takut Daniel yang kedinginan, Difia langsung mengambilnya dan menyampirkannya di bahu dan karena motornya tinggi jadinya Difia memegang kedua pundak Daniel dengan sedikit ragu dan membuat Daniel tersentak kaget dan Daniel merasa ada getaran aneh saat Difia memegang pundaknya begitu juga Difia sebaliknya, Dan motor Daniel pun kini berjalan menyusuri dinginnya malam kota jakarta dengan saling diam dan Daniel pun menuju tempat yang Difia berikan tadi.