Perlahan, tangan Gavin menyusuri tubuh tak berdaya di bawahnya itu.
Tangannya berhenti di leher jenjangnya, mengusap-usap bekasgigitan yang ia berikan tadi.
"Mana teriakanmu?" sindir Gavin.
Nadya membuang mukanya.
"Ayo teriak, Nona Nadya. Yang kencang."
Wajahnya merah padam, namun dia masih menolak dipermalukan.
"Bapak... sungguh-sungguh tidak profesional."
Kalimat itu sukses membuat Gavin berang. Dia jengkel dengan sikap perempuan itu. Spontan, tanpa permisi, dia membuka kancing kemeja Nadya kasar, mengungkap dua gundukan yang dia permainkan tadi.
"Oh ya? Mari kita lihat, seberapa jauh saya bisa tidak profesional."
Ia membuka bra dengan kasar, menariknya ke atas, dan tanpa aba-aba, lantas menghisap p****g Nadya kuat-kuat.
Nadya tersentak. Menahan erangan yang ada di ujung lidahnya. Payudaranya yang sensitif dilumat brutal oleh lidah Gavin. Titik sensitifnya. Dia mencoba menoleh lagi, namun tangan Gavin segera menangkup dagunya. Memaksanya untuk melihat ke depan.
"Nadya," ucapnya tegas. Saliva lelaki itu menetes, hasil pergulatan kasar dirinya dengan aset Nadya.
"Lihat aku, atau tubuhmu ini kupermainkan sampai sore."
Perlahan, wanita itu menurutinya, namun ia tetap menatap tajam.
"Dan singkirkan pandangan itu," Gavin menambahkan. "Sekarang. Atau kusingkirkan dengan paksa."
Wanita itu melirik ke langit-langit. Dia tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, hari ini tubuhnya harus melayani keinginan atasannya itu. Dia melemah, raut wajahnya melunak. Seolah mempersilahkan Gavin menikmati dirinya.
Puas, Gavin tersenyum lebar. Sangat lebar. Dia menyingsingkan lengan bajunya, dan menunduk.
Membuka santapan siangnya dengan mencicipi bibir Nadya. Favoritnya.
Nadya langsung memberi mulutnya, membuka akses bagi Gavin. Nampaknya itu insting, karena itu gestur yang sudah Gavin lakukan kepadanya ratusan kali.
Bibir mereka bertaut. Lidah mereka bertemu. Gavin mendorong dagu Nadya ke atas, memudahkan aksesnya. Sementara perempuan itu menahan mati-matian keinginannya untuk mencium balik.
Nikmat, sungguh nikmat.
Setelah beberapa lama, Gavin melepaskan tautannya duluan. Nafas keduanya semakin terpacu, jalinan saliva tipis di antara mulut masih tersambung. Gavin lantas mengelap bibir yang baru dia nikmati itu dengan punggung tangan.
"Hmmm, bibir kamu masih nikmat. Seperti biasa. Sayang juga di kantor, kamu sering gunakan untuk menghina saya," tutur Gavin sambil bercanda.
Dia menatap Nadya, bersiap menahan badannya, mencari perlawanan dari tatapannya yang tersisa. Namun, yang dia dapatkan hanya tatapan jengkel, tapi memancarkan gairah.
Bagus, pikirnya. Sedikit lagi, pertahanan perempuan ini akan runtuh.
Perlahan, Nadya merasakan jari Gavin menyelusup ke dalam mulutnya, menyentuh lidahnya. Kemudian, tanpa mengelapnya, Gavin beralih ke dadanya. Dia mulai memainkan p****g Nadya lagi, menggunakan ibu jarinya, yang masih basah dengan liur Nadya sendiri.
Sial, kutuk Nadya dalam hati. Tubuhnya mengkhianatinya. Dia semakin terangsang. Bahkan, dia dapat merasakan miliknya yang mulai basah.
Seolah telepati, Nadya langsung merasa roknya yang dilepas Gavin. Membuat celana dalam tipis berenda menjadi satu-satunya pakaian yang menutupi miliknya. Namun sesaat kemudian, celana itu juga dicopot dengan paksa.
Tuntas. Gavin melucuti semua pakaian di bagian bawahnya, dan hanya menyisakan pakaian atasnya.
Tanpa membuang waktu, Gavin menyelipkan jarinya ke atas milik Nadya, mengusap klitorisnya dengan lembut. Sementara tangan satunya kembali memainkan p******a Nadya. Terus mencubit, mengelus, dan meremas keduanya.
Nadya menatap Gavin marah. Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan suara yang hampir lolos. Gavin, mengenali ekspresi itu, menambahkan satu sentuhan terakhir.
Dua jarinya, telunjuk dan tengah, mulai masuk ke dalam milik Nadya.
"Mmmm-Ah!"
Desah Nadya, seketika pecah. Gavin sumringah, semakin membenamkan jarinya ke dalam inti itu.
"Nah, itu Nadya yang saya kenal."
Kemudian, Gavin menarik kasar kaki Nadya ke arahnya.
Diangkatnya kedua kaki itu, hingga telapak kaki Nadya bertemu dengan bahunya. Pinggul Nadya melengkung ke atas, memaksa bokongnya bertemu kembali dengan milik Gavin yang masih tertutupi celana.
Keras, seperti batu, batinnya seraya milik keduanya bertemu,
Gavin mengerang, kulit polos Nadya menempel pada celananya. Kemudian, dia mulai bergerak. Dia menekan milik Nadya dari dalam, membuat rasa panas mengalir di sekujur tubuhnya. Gavin meremas bokongnya, dan dengan satu dorongan terakhir, mulai menyetubuhi Nadya dengan jari.
Spontan, desahan demi desahan meluncur bebas dari dalam bibir gadis itu. Badannya bergetar, akibat menahan hasratnya terlalu lama. Dia menatap nanar, pasrah melihat tubuhnya dipermainkan.
Dipandangnya Gavin, keringat terus meluncur dari badannya yang masih terbalut kemeja. Paras tampan yang melecehkannya itu tersenyum, mengerang, menatap balik wajahnya, penuh cemooh.
"Dua jari dan kamu sudah runtuh? Sepertinya, pertahananmu tidak sekuat argumen yang kamu buat tadi."
Nadya mendesah. Sial, miliknya merapat akibat perkataan itu. Gavin tahu persis cara membangkitkannya, humiliation. Dipermalukan.
Gavin mempercepat tempo jarinya. Mata Nadya berkabut, merasa pelepasannya segera tiba. Tidak biasanya dia o*****e karena jari Gavin, namun dia tidak peduli lagi. Erangannya semakin nyaring.
Namun tiba-tiba, Gavin berhenti. Tepat sebelum momen Nadya akan keluar. Gavin tersenyum, membiarkan milik Nadya menghimpit jarinya dengan frustasi.
"Kamu kira, dengan begitu saja saya membiarkan kamu kenikmatan? Hm? Setelah apa yang kamu lakukan tadi, Nona Nadya, yang kamu pantas dapatkan hanya hukuman."
Gavin menurunkan celananya. Kemudian, boxer abu-abunya. Spontan, benda yang Nadya sangat kenal, terkuak.
Kejantanan Gavin. Menegang sempurna.
Oke. Diam-diam, Nadya salut dengan kendali diri yang dimiliki bosnya itu. Dari tadi Gavin terus mempermainkan tubuhnya, namun semuanya hanya sengaja; demi membuat tubuhnya putus asa, semakin frustasi karena sentuhannya.
Dan Gavin sialan, rencananya berhasil. Wajah Nadya merah merona, payudaranya mencuat, tubuhnya menggelinjang. Miliknya yang basah terus meremas jari Gavin di dalam, terus mendamba pelepasannya yang gagal.
Inilah hukumannya. b******k. Dalam hati, Nadya hampir berjanji, untuk tidak merendahkan Gavin lagi.
"Tapi hari ini, bersyukur. Saya berbaik hati." Gavin mencubit pipinya.
Nadya menoleh, rasa lega menjalar di dadanya. Dia bersiap, menunggu dorongan dalam intinya.
Namun, Gavin hanya mengangkat miliknya, dan menaruhnya tepat di atas perut datar wanita itu.
"Saya mau kamu memohon, Nadya."
Dia mengadah ke atas. Menatap Gavin dengan pandangan yang sulit diartikan. Sesaat, tidak ada kata yang terucap di antara mereka.
"Kurang jelas?"
Nadya terbelalak. Ingin menolak, namun posisinya sudah begini. Kepalang tanggung. Nadya melingkarkan kakinya di sekeliling pinggul atasannya itu.
"Gav...Please..."
"Please apa?" Dia belum terkesan.
"Kedalam...Masukkan.." wanita itu mencicit lirih.
"Saya bilang mohon, bukan perintah."
"Tolong masukkan kedalam!" Nadya hampir memekik. Matanya digelapkan gairah. Tidak tahan, dia meraih miliknya sendiri, ingin memuaskannya dengan jarinya juga. Tetapi, tangan Gavin mengusirnya.
Gavin memandangi wanita kesayangannya itu sumringah. Siang ini, dia berhasil membuatnya dipenuhi hasrat. Sepenuhnya.
Gavin kemudian mengeluarkan jarinya, lantas menarik kakinya hingga ke pinggir kasur. Dia beranjak berdiri, menarik kaki Nadya ke atas. Kemudian, menaruh miliknya di pembukaan Nadya. Membuat wanita itu melenguh tak berdaya. Tersenyum puas.
"Putus asa ya, Nadya? Milikmu basah sekali."
Nadya memalingkan mukanya. Tapi semua kesombongannya telah pergi. Dia lemparkan sendiri ke lantai.
"Tahan."
Gavin menarik paha Nadya, dan dengan satu hempasan, ia menyentak masuk. Dia refleks mengerang, merasakan milik Nadya merengkuh kejantanannya yang sudah mendamba lama.
"AH!" Nadya memekik. Sensasi panas juga mulai menguasai perutnya. Desahannya semakin kuat.
"Sial, Nadya... sempit sekali..." Gavin ikut mendesah. Dia menarik tubuh Nadya lagi. Miliknya masuk semakin dalam. Kenikmatan menjalar di kedua tubuh mereka yang menyatu.
Namun, sepertinya Gavin belum puas. Dia memegang punggung Nadya, dan dalam satu gerakan, mengangkat tubuhnya ke atas, ke dalam pelukannya. Nadya melenguh nyaring. Terasa sekali Gavin semakin menghujam kejantanannya di dalam.
Nadya tidak peduli lagi. Tubuhnya sudah kacau. Dia memeluk atasannya itu, sambil mendesah tepat di telinganya. Membujuk agar Gavin segera bergerak.
Gavin terkekeh melihat itu. Dan dengan tempo yang cepat, dia mulai menggerakan tubuhnya. Desahan Nadya tidak terkendali. Miliknya semakin mengetat,
"Sini." Gavin menangkup bibir Nadya dengan miliknya lagi. Kali ini, keduanya yang berciuman, saling menjelajahi mulut satu sama lain. Nadya melingkari leher Gavin dengan lengannya yang masih terikat. Nafas mereka saling berpacu.
Tidak tahan, Gavin menghempas tubuh Nadya ke atas meja. Membuat perempuan itu terduduk. Kemudian mempercepat hujaman demi hujamannya. Tangannya meremas b****g perempuan itu, sementara Nadya menaruh tangannya yang terikat di d**a kekarnya. Suara pahanya menghantam kulit Nadya menggaung di udara.
"Anda terlihat kacau, Nona Nadya."
"Haaa...Anda juga, Pak Mardika."
Keduanya berciuman lagi. Gavin makin mempercepat temponya
"Gav...Gav..." Nadya mengap-mengap. Pelepasannya sudah di ujung.
Pria itu menciumnya.
"Lepaskan, sayang, lepaskan." Gavin mengerang, juga hampir sampai. Mempercepat temponya sekuat tenaga.
Nadya tidak tahan. Dengan satu desahan nyaring, dia mengejang, melepaskan hasrat miliknya. Sensasi itu membuatnya gemetar.
Pelepasannya juga menghantam milik Gavin. Pria itu mengerang, miliknya mengejang. Dengan satu hentakan terakhir, dia tumpah di liang Nadya, kali ini lebih dari yang biasanya.
Keduanya terengah-engah di pelukan satu sama lain.
Setelah mengatur nafasnya, Gavin melirik jam.
Jam makan siang masih tersisa 20 menit lagi. Gavin melepas miliknya dari Nadya, dan berjalan menuju laci. Mengambil handuk. Saat dia kembali, dilihatnya mata Nadya yang pilu. Dia mengelap inti Nadya yang berlumuran miliknya, sambil menciumi wajah manisnya.
Tidur dengan atasannya di jam makan siang? Rekor baru bagi Nadya. Dia menutup pahanya, tidak mau mengekspos miliknya lagi.
Gavin mengusap rambut sebahunya itu. Meraih lengan Nadya, membuka ikatan gespernya yang membekas merah. Lantas, menggendong tubuh itu ke atas kasur.
Wanita itu menghadap ke samping. Tidak mau menatap Gavin. Dari belakang, Gavin menurunkan bra-nya. Memperbaiki kemejanya yang diberantakkan. Sambil terus mengecup bahunya.
"I hate you." Nadya berkata pelan.
"Sudahi omong bohongmu, sayang." Gavin mengelus pipi Nadya.
Nadya A. Mardika. Wanita yang nikahi beberapa bulan lalu.
"Kalau mau jatah, jangan minta pas jam kerja," balas Nadya sinis.
"Tapi kamu suka, kan? Tadi kamu keenakan," bisik Gavin nakal. Nadya merah padam.
"Ehm...sekali ini saja. Besok-besok jangan lagi," gubris Nadya. Gavin mengangguk. Mengecup pipi istrinya lagi.
Nadya membalikkan badannya, menunjukkan bekas ikatan di tangannya.
"Nggak mau hilang."
"Kamu bawa jaket?"
Nadya menggeleng.
Gavin mendengus. "Ya sudah. Biarkan saja." Dia mengelus lengan yang kemerah-merahan itu. "Bilang kalau kamu kebentur atau apalah."
"Lebih mudah bilang aku ditiduri oleh Pak Mardika."
Gavin tertawa.
"Bilang saja kalau berani. Aku sih, nggak masalah."
Nadya merona, membenamkan wajahnya di d**a Gavin.
"Malah semakin mudah. Aku juga berencana mau mengungkap identitasmu segera."
Hah? Nadya menarik wajahnya, menatapnya kaget.
"Anda pura-pura membocorkan dana, Nyonya Mardika. Kalau saya membebaskan anda begitu saja, pasti timbul kecurigaan," ujar Gavin dengan menggunakan bahasa sok kantoranya lagi, mengejek.
Wanita itu berpikir sejenak.
"Ya sudah, hukum saja aku."
"Hukumannya cuma satu. PHK. Dan pilihan itu tidak menguntungkan kita. Aku sengaja naruh kamu di HRD, biar memantau kondisi karyawan yang ada. Masalah penggelapan yang kemarin belum selesai." Gavin mengusap mukanya. Rasa cemas naik ke dadanya lagi. "Kalau kamu pergi, aku kesusahan."
Nadya iba. Dia memeluk bos sekaligus suaminya itu. Mengusap-usap dadanya di balik kemeja yang terbuka.
"Bilang saja kalau dana yang dibocorkan sudah ku kembalikan. Dengan begitu, aku masih bisa memantau HRD tanpa ketahuan."
Gavin berpikir sejenak, lantas mengangguk.Dia mencubit pipi istrinya lagi.
"Jangan ulangi lagi." Nada suaranya menegas. Nadya mengangguk. Tapi tidak janji, batin perempuan itu dalam hati. Mereka kembali berpelukan bersama. Berbagi kehangatan.
---------------------------------------
Beberapa menit kemudian, Nadya masih memeluknya.
"Kamu tidak pergi?" Gavin memiringkan kepalanya .
"Punyaku...," Nadya berhenti sejenak. "Belum kering di dalam."
Gavin terkekeh. "Tidak apa-apa. Justru melihat cairanku menetes dari kamu, membuatmu semakin manis."
Nadya sontak menoyor kepala suaminya. "Mesum."
Jam makan siang pun habis.
-------------------------------
Tekan love? -RF