Cold

2832 Kata
Kamis, 16 Maret 2017 Rasa hangat yang tadinya terpercik kini menjalar ke seluruh tubuhku. Bukan itu saja, aku juga merasa ditindih dan dihentak berkali-kali. Sesuatu yang hangat terus menghujam inti tubuhku, memaksanya berdenyut. Perlahan, kelopak mataku terbuka. Langsung pandanganku dipenuhi oleh seseorang. Dia berambut hitam, dan matanya gelap. Wajahnya dengan dingin menatapku. Tubuhnya yang berat menindihku, pahanya terus menghantam bokongku. Dia lah yang menyodok sesuatu di dalamku, membuatku mengerang. Baju tidurku sudah terlepas. Namun sebelum aku dapat menjerit, dia membekap mulutku dengan tangan besarnya. "Hmmph! Hmmph!" Aku meronta, menggeleng, mendorong, menendang. Sebutkan semua. Namun tubuhnya lebih besar dan kuat- semuanya gagal dengan mudah. Nyawaku yang belum terkumpul sepenuhnya dari bangun tidur membuatku pusing. Pikiranku melayang, mencoba mengingat-ingat mengapa aku disini. Tetapi di bawah tekanannya, aku tidak bisa mengingat apa-apa. Aku penuh keringat. Dia juga. Ekspresinya arogan, dan seperti sedang menahan sesuatu. Hentakan demi hentakan yang dia berikan membuatku merasa penuh. Karena hentakan itu, milikku mengetat, membuat kami berdua mengerang. Dan untuk sesaat, dia memandang wajahku. Mata kami bertemu. Dan- katakan aku gila, tapi baru kusadari kalau raut wajahnya tampan, walau berantakan. "Sial. Milikmu hangat, padahal ini masih pagi." Suaranya menggema, kesannya sinis. Pandangannya juga beku. Nuansanya yang dingin terasa familier. Tapi kepalaku belum bisa mengingat siapa dia. Hujamannya semakin cepat, membuat bekapannya di mulutku semakin kuat. Napasku yang tersumbat hampir habis. Rasa sakit naik ke dahiku. Dapat kurasakan kulit wajahku mulai membiru, pandanganku mulai menggelap. Mata gelapnya mengerjap sebentar, tersadar akan akibat ulahnya. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, ia menangkup mulutku. Meniupkan sesuatu. Kurasakan udara, dan dengan itu, kesadaranku, kembali mengisi paru-paruku. Kemudian ia melepaskan tautannya. Kembali mencengkram tubuhku dan memompanya. "Haah...haah..." Tersadar, kuhela napasku dengan lidahku yang berliur, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tapi karena itu, matanya menyala dan dia meraup bibirku lagi, kembali menikmati mulutku. Kupejamkan mata kuat-kuat, aku pasrah. Aku hanya ingin semuanya berakhir. Erangannya memuncak, dan akhirnya, dia melepaskan dirinya ke di dalamku. Itu juga mengingatkanku pada sesuatu. Setelah beberapa saat, dia menarik miliknya yang masih menetes keluar. Turun dari atas ranjang, dan kembali memasang celananya. Aku merasa lengket, kotor, dan lemas. Tubuhku lelah, seperti habis berlari puluhan kilometer. Kesadaranku belum bangkit sepenuhnya. Dan parahnya, aku masih belum bisa mengenali siapa orang b******k ini, pengecut yang diam-diam menggagahiku saat aku tertidur. "Selamat pagi," sapanya, namun dalamnya tidak ada sedikitpun nada tulus. Seperti hanya melontarkan basa-basi. Dia membuka laci, dan menyodorkan 1 kapsul disampingku. "Minum satu setiap pagi. Aku lupa menggunakan pengaman." Napasku masih terengah-engah, sebelum akhirnya sebuah handuk mendarat di wajahku. "Bersihkan dirimu. Aku berangkat." ujarnya sambil beranjak menutup pintu. Klik. Kuraba tubuhku yang masih gemetar, dan kutarik selimut hingga ke ubun-ubun. Dalam helaan napas yang masih belum pulih, ingatanku sudah kembali sepenuhnya. Itu dia. Pria yang membeliku dari penagih hutang ayah beberapa minggu lalu. Pria itu tidak pernah memberi tahu siapa namanya, jadi aku panggil saja pria itu 'dia'. Begitu saja, dia pergi. Setelah menggagahiku diam-diam saat aku masih di alam mimpi. Dan sejak hari aku dibeli, hampir setiap hari, ia memperlakukanku begini. Seolah aku hanya barang, bisa dipakai kapan saja, diperuntukkan untuk memuaskan nafsunya saja. Nada bicaranya selalu sinis, mukanya selalu dingin dan ketus. Sikapnya membuatku bertanya, bisakah kau tidur dengan seseorang yang kau benci? Baginya, jawabannya mungkin iya. ——————————————————————- Aku miskin. Dulunya. Ayahku awalnya lumayan berada, warisan yang dia dapat dari kakekku lebih dari ratusan juta. Namun, kecanduan judi membuatnya gila. Semua harta kami habis tergadaikan. Ibuku sendiri tidak pernah peduli denganku. Ia hanya melahirkanku saja, kemudian pergi. Menceraikan ayah, dan meninggalkan kami sebelum semuanya terlambat. Ibuku tahu bahwa ayahku adalah bencana, tapi dia bahkan tidak berpikir untuk membawaku, untuk menyelamatkanku'. Dan benar saja. Dengan judinya, ayah terus menumpuk hutang yang tidak pernah bisa dia bayar. Pintu kami terus digedor-gedor para penagih. Akhirnya, setelah kehabisan akal, dia menggadai harta satu-satunya yang tersisa. Aku. Darah dagingnya sendiri. Pendeknya, aku dijual oleh ayah. Usiaku yang masih muda, dan tubuhku yang masih perawan membuatku dihargai £15000. Terlalu mahal? Mungkin. Kemudian di tangan mereka yang membeliku, aku dijual kembali. Jadilah berakhir di tangan pria ini. Entah bagaimana. Yang kutahu hanya dia membeliku untuk jadi mainan pemuasnya semata. Mungkin kisahku kedengaran klise, tapi ini nyata, dan aku hanya bercerita adanya. Mungkin juga kau bertanya, mengapa orang-orang bisa sekejam itu? Percayalah. Orang-orang jahat memang benar-benar ada. Mereka nyata, senyata fakta bahwa kau bisa mengunggah foto di i********:. Mereka berdarah beku, dan hati mereka seperti mati. Hidup di antara mereka terasa dingin. Sangat dingin. Berkali-kali aku mencoba lari. Berkali-kali juga mereka berhasil menemukanku, menarikku kembali dalam kegelapan. Aku dan hatiku lelah mencoba. Aku ingin mati, tapi rasanya belum siap. Jadi untuk sementara, kunikmati saja kedinginan yang menyelimutiku ini. ——————————————————————- "Hapus wajah itu," ujarnya sambil mendorongku berlutut. Aku terjatuh di depan kakinya, dan dengan segera ia menurunkan celana. Bagian tubuhnya yang besar terancung di depan mukaku, membuatku tak nyaman. Perkataan kecil yang sering mengangguku muncul di kepalaku lagi. Suara kecil yang memintaku untuk menurutinya saja, cepat-cepat menyelesaikannya. Tapi, dadaku dipenuhi amarah. Dendam yang terus kupikirkan sejak serangan tadi pagi membuat aku muak, sungguh muak. Dia memperlakukanku seperti mainan saja, dia tidak pantas aku turuti. Peduli amat dia membeliku mahal sekali. Rasa marah itu semakin berkobar. Kali ini, aku akan melawan. "Tidak," ucapku sambil menggeleng. "Aku, tidak mau." Antiklimaks? Ya. Perkataanku patah-patah, tapi percayalah, butuh keberanian yang besar untuk mengucapkannya. "Aku bukan bertanya, tapi memerintah. Lakukan saja." Dia menyodorkan miliknya lagi. Aku tetap menggeleng. Dan kali ini, kucoba menatap matanya yang gelap dengan tajam. Nampak mata gelapnya mulai berang. "Tidak," ujarku final. Dia mengunyah pipi, membuat rahangnya semakin terlihat. "Baiklah," pungkasnya sambil berbalik. Sesaat, aku menatapnya tidak percaya. Tidak ada ucapan ketus? Makian? Kemarahan? Mujizat kah ini? Dia membuka kulkas, lalu berjalan ke atas meja dapur. Dibalik badannya yang terbalut jaket, nampak sedang mencampur sesuatu ke dalam air. Kemudian, ia meminumnya sedikit. Aku bernapas lega. Sepertinya dia bersungguh-sungguh. Akhirnya, penderitaanku hari ini selesai. Aku beranjak berdiri, ingin kembali ke kamarku, berniat mengucapkan selamat malam. Namun dugaanku salah. Sejurus kemudian, sosoknya yang hitam berbalik. Jemarinya yang dingin menarik daguku. Dengan pandangannya yang marah, dia menekan bibirku dan mulutnya dengan paksa. Dia melumat bibirku sebentar, dan kemudian mengigitnya kuat-kuat. Rasa sakit menyengat bibirku, membuatku refleks berteriak, sebelum akhirnya dia mengambil kesempatan itu. Dia memaksa lidahnya masuk, membuka rahangku lebar-lebar. Dia menahan agar mulutku tetap terbuka, sebelum menuang gelas berisi cairan yang dia buat tadi ke dalam tenggorokanku. Cairan itu terasa panas dan pahit, membakar kerongkonganku. Terasa seperti hidupku. Ia menekan lidahnya lagi, memastikan agar cairan itu tidak lolos setetespun. Setelahnya, aku terbatuk-batuk. Namun belum selesai aku terbatuk, ia mendorongku hingga aku jatuh berlutut. Dia meraba wajahku, dan dengan jarinya yang dingin, membuka mulutku kembali. Sekarang, giliran miliknya yang menekan paksa ke dalam. Dia menarik rambutku kencang, sehingga ukurannya yang besar masuk sempurna hingga kerongkongan. Mulutku yang mungil terasa sesak. Aku sulit bernapas. Namun dia tidak berhenti. Dia menjambak rambutku lagi, membuatku melihat ke atas. Mukanya terlihat meradang. Ia meraup rambutku, dan mulai menggerakkan kepalaku dengan kasar. Maju mundur. "Ohmmm! Ohmmm!" Bagian tubuhnya berotot dan keras, menjejali mulutku tanpa jeda. Napasku sesak. Sesaat, aku kagum dengan mulut bawahku yang mampu menerima benda ini berkali-kali. Aku mengepalkan tangan, bersiap mengigitnya dari dalam. Tapi, rasa panas yang aneh muncul dari dalam perut. Tunggu. Mengapa tiba-tiba tubuhku terasa hangat? Rasa panas tadi menjalar hingga syaraf-ku. Niat ingin melawan seakan dihapusnya. Namun pria itu tidak peduli, makin mempercepat tempo mulutku. Wajahnya terlihat meringis saat aku memandangnya lagi. Mataku terasa basah. Tidak, tidak. Cairan apa itu tadi? Kupandang matanya, meminta jawaban. Oh, dan belas kasihan yang tak mungkin kudapatkan. "Tunggu ," jawabnya, seolah bisa membaca pikiranku. Dia sedikit memperlambat tangannya. Benar saja. Sesaat, rasa hangat tadi sekarang menjadi api, membakar tubuhku, membuat dadaku mencuat. Tanpa sadar, panas itu membara, membuat aku ikut menjilat tubuhnya di dalam. Sedikit menikmati miliknya yang kenyal. Aku bahkan menghisapnya sedikit. Entah kenapa, rasanya nikmat saja. Perbuatanku membuat dia semakin meringis. Senyum tipis terlukis di wajahnya. Dan ekspresi itu, entah kenapa, membuat dadaku senang. Kucengkeram pahanya dengan kuku seraya kudorong mulutku dalam. Rasa sesak tadi kurasakan kembali, namun sekarang berbeda. Benda di mulutku kini rasanya nikmat, membuatku ingin lagi dan lagi. Alam bawah sadar menguasaiku, melempar akal sehatku jauh-jauh. Aku terus menjilati dan mengisapnya kuat-kuat. Tangan besarnya sudah tidak meraup rambutku lagi. Sekarang aku yang menggerakan kepalaku sendiri. Kupandang wajahnya, mencari ekspresi yang bisa kuartikan sebagai pujian, dan dia menyeringai. Aku gembira. Sebagai rasa terima kasih, kuhisap benda itu kuat-kuat untuk yang terakhir kali, sekalian kupandang matanya. Satu tekanan terakhir, dan ia mencapai kepuasannya. Rasa asin mulai memenuhi kerongkonganku, tapi dia kembali menekan wajahku. Dalam. "Habiskan semuanya. Tenggak. Itu hukuman pertamamu hari ini." Bulu kudukku menegang, saat sadar tentang apa yang kulakukan tadi. Tidak, tidak! Apa yang barusan kulakukan? Oh Tuhan, hukuman dari orang ini tidak pernah menyenangkan. Ia akhirnya melepaskan rambutku, dan aku jatuh terhuyung dengan mulut yang berlumuran. Badanku terbanting di lantai, dan aku memejamkan mata. Berusaha tidak melihat lidahku sendiri yang meraup cairannya untuk kutelan. Tapi api yang dipantik di dalamku masih ada. Dan sekarang membuatku gelisah tak karuan. Tubuhku kepanasan, organ-orang intiku berdenyut, putus asa ingin sentuhan. Setengah sadar, aku mengapit celah di antara pahaku erat-erat, berusaha menenangkan kedutannya. Ia menjambak rambutku lagi (mungkin sebaiknya aku potong pendek saja) dan menatapku. Masih dengan wajah dinginnya. "Katakan kalau aku salah, tapi rasanya kau sangat menikmati milikku tadi. Apakah itu benar?" Dengan cepat aku menggeleng. "Tidak, tidak! Aku tidak sengaja." "Oh ya? Jadi mengapa kau tadi menjilatnya, menghisapnya, hm? Kau menyukainya?" Suara beratnya membuat tubuhku semakin membara. Aku terguncang, menggeleng lemah. "Jadi jelaskan reaksimu ini." Dia menarik piyamaku hingga robek, kancingnya berterbangan. Menunjuk dadaku yang ujungnya mengeras. Aku masih menggeleng, tidak mau mengakui. Walau seluruh reaksiku mengatakan ya, akal sehatku yang tersisa akan kupertahankan sekuat tenaga. Dia mengangkat ujung alisnya. "Kau menyukainya. Lihat ini." Tangannya memasuki celana dalamku, mengusap-usap lipatan yang basah total disana. Ia memilin dadaku, meremasnya dengan tangan yang satu lagi. Syarafku menegang, akhirnya mendapatkan apa yang tubuhku inginkan. Sekarang aku menggeliat hebat, dan suara-suara m***m lolos dari mulutku tanpa bisa kukendalikan. "Ini...haah...semua...karena-haah...obatmu,," ujarku seraya ia melanjutkan aktivitasnya. Pandanganku mulai berkabut, dan pikiranku sudah tak jernih. "Benarkah? Aku juga meminumnya, dan tidak terjadi apa-apa," sanggahnya sambil terus menekan klitorisku. Terasa sengat, dan aku menggelinjang. Pelepasanku akan segera tiba. "Uhm..uhmm." Aku menggeleng lagi, daya berpikirku hampir habis. "Kau menyukainya, jalang." Pandangannya menusuk tajam, seperti hinaannya. Jarinya menekan sekuat tenaga. "AH!" Punggungku melengkung, dan aku mendesah nyaring, melepaskan sesuatu. Apa itu? Pelepasanku? Kesadaranku? Harga diri ku? Mungkin semuanya. Setelah itu, pandanganku menggelap. Kurasakan tubuhku melayang. Terhempas pelan pada kayu yang berlapis kaca, yang kuingat sebagai meja makan. Ia melepas jaket hitamnya, menarik celana tidurku, dan mengesampingkan celana dalamku. Sejenak, ia mengusap celahku. Kemudian rasa hangat yang familier memasukiku lagi. Aku bergetar, menggeliat senang. Aku mengangkat kaki, dan dengan milikku, kuremas dalam-dalam benda yang menusukku itu. Rasa panas yang dia berikan sungguh candu. Kurentangkan tanganku kedepan, memeluk sosoknya yang terus menghujam tubuhku. Hangat dadanya menempel di pipiku. Mataku mendelik keatas, tenggelam dalam sensasi nikmat. "Ah, ya, teruskan, terus, terus-" Kupeluk dia dalam-dalam dan aku melenguh di telinganya. Tersenyum senang. "Jalang," bisiknya dingin. Ia menyeringai tipis. Mataku berbinar, dia memang tampan. Ia bangkit dari rengkuhanku, dan menyusuri tubuhku. Meremas payudaraku pelan, lalu tangannya naik, meraba leherku. "Nikmati sensasinya, jalang." Lalu dia mencekik. Aku terkesiap. Napas langsung tertahan di dadaku, membuat hujaman kejantanannya semakin terasa. Dia menyeringai, mempercepat temponya, dan seketika tenggelam dalam ekstasi yang ia berikan. Milikku yang menggila semakin mengetat. Mataku mengejang ke atas, lidahku terjulur keluar. Ia menggeram, lalu ibu jarinya membelai bibirku lembut. Aku menjilatnya, tertawa bahagia. "Jalang." Aku melahap jarinya, mengisapnya tanpa henti. Sembari menatapnya, ditengah-tengah desahanku, kukedipkan mata. "Kau menyukaiku, hm?" Aku mengangguk. "Tubuhmu hangat, aku baru sadar. Aku sangat-nghh, suka." "Kau mau tahu apa yang lebih hangat, jalang?" "Iya." Dia mencekikku kembali, membuat dindingku mengejang ketat. Aku terus mendesah seraya ia menghujam lebih dalam. Kuraba tangannya di leherku, dan seraya temponya makin cepat, aku mengerang, tenggelam dalam puncak yang membuatku lega. Dengan suaranya yang serak dia menggeram. Sepertinya pelepasanku tadi di dalam mengenai miliknya. Ia menghempas tubuhnya satu kali, dan cairan intimnya memenuhiku. Turun mengalir di pahaku. Hangat. Aku menyukainya. Ia melepaskanku, dan menarik kursi meja makan disamping. Dia duduk dengan miliknya yang masih menetes, entah cairan milikku atau dia. "Turun dari situ. Bersihkan ini." Dari atas meja makan yang tinggi, kupaksa diriku bangkit dan aku jatuh terduduk. Sensasi nikmat tadi masih mengisi kepalaku, dan aku merangkak di lantai, duduk diantara kedua pahanya. Menyambar tetesan tadi hingga bersih tidak tersisa. Aku tergelak. Rasanya lucu. Ia masih menatapku dingin, dan bangkit dari kursinya. Diraupnya gelas berisi cairan ungu tadi, dan menenggak yang tersisa. Setelah selesai, dia melempar gelas itu ke lantai. "Mari kita mulai." ——————————————————————- Berjam-jam. Atau mungkin hanya beberapa menit. Setelah tadi, dia meraup rambutku lagi. Mendorongku ke atas meja makan, kemudian memainkanku dengan jarinya. Kemudian ia memasukiku lagi. Mengirim sensasi ketat dengan otot-ototnya. Terus dan terus. Setiap hentakan, hujaman, hempasan seperti membawaku ke surga. Aku terbang diantara awan-awan, bersama burung dan elang. Kemudian aku memasuki terowongan pelangi, dan bermain disana hingga puas. Beberapa saat kemudian, ia mengangkatku lagi. Memompaku di depan kaca jendela yang dingin. Ia membuka tirai, nampak halaman luas bersalju menutupi taman bunga. Namun saljunya sudah menipis. Ia menyuruhku menatap ke bawah, terlihat orang-orang dengan senapan yang berjaga, dan berbisik. "Lihat mereka yang di bawah?Jika mereka mengadah ke atas, kau akan terlihat." Bisikannya yang serak selanjutnya mengirim sensasi panas, hingga ke tulang. "Seorang jalang yang sedang dipakai tuannya." Aku mengangguk, melenguh nyaring. Aku tidak peduli lagi. Setiap sentuhan, setiap bisikan, ia memberiku kehangatan yang selalu aku dambakan. Dan kurasakan miliknya memenuhiku lagi dengan cairannya. Entah sudah yang keberapa. Kemudian, ia menghempasku lagi di atas meja makan. Aku terantuk-antuk. Sensasi terbang tadi sudah menghilang, menyisakan kantuk yang berat. Rasa bergetar masih tertahan di perutku, pelepasanku hampir tiba. Di bayanganku, aku akan mendarat di atas awan. Aku membuka mata, menatap wajahnya. Matanya masih gelap, namun raut mukanya sudah tidak beku. Dia menatapku seperti lapar dan terus bergerak. Mata kami bertemu. Dia menatapku dalam. Aku tersipu, hatiku gembira karena dia tidak dingin lagi. Kututup mataku untuk yang terakhir. Sejenak, aku merasa menjadi botol soda. Diguncang, kemudian... Dia mencekik kuat-kuat, dan sekali lagi, aku pun tiba. Seperti botol soda yang dicabut tutupnya. Dan aku tahu, bukan itu saja yang terlepas. Kali ini, kesadaranku.... ————————- Jumat, 17 Maret 2017 "Hei." "Hei, hei." Aku menepuk pipi tembamnya perlahan. Tidak ada jawaban. "Bangun." Masih tidak ada. Lamat-lamat, putik dadanya yang merah mulai melemah. Matanya menutup perlahan, dan kuraba lehernya. Denyut nadinya semakin teratur. Dia jatuh tertidur setelah pelepasan. Aku mendengus. Bagus. Reaksi obat tadi sudah selesai rupanya. Dan setelah terangsang seperti gila, wajar saja tubuhnya sangat kelelahan. Oke, kuakui, itu semua karena kurangsang secara paksa. Tadi aku juga meminumnya, dan aku bohong kalau bilang aku tidak terdampak. Hanya berefek sebentar, namun sensasi itu mampu membuatku terbang. Membuat tubuh gadis itu ekstra nikmat. Jarang sekali obat seperti itu bisa berdampak padaku. Berarti benda itu memang ampuh. Aku menarik punyaku keluar. Menggapai handuk yang tadi kusiapkan, dan mengelap tubuhku hingga bersih. Kuambil handuk baru dan menyiramnya dengan air hangat di wastafel. Di atas meja makan, kuhampiri dia lagi, dan kuusap tubuhnya pelan-pelan. Harus perlahan. Mainan-ku ini rentan rusak. Setelah itu, kuseka benihku yang masih tersisa di bibirnya. Sempurna. Sekarang wajahnya terlihat seperti gadis polos yang lugu. Yah, walaupun dia telanjang. Perlahan, kuangkat tubuhnya ke atas, kutaruh dalam gendonganku. Dengan mainanku dalam dekapan, aku keluar dari dapur. Kususuri lorong-lorong mansion. Baru satu dua pelayan yang bangun pagi. Dan dia masih tak sadarkan diri. Kuraba pahanya, dan aku tersenyum tipis. Makanan yang kuberikan akhir-akhir ini bekerja. Tubuhnya yang dulu kurus semakin memadat, makin sesuai dengan seleraku. Aku mendorong pintu kamar. Kutaruh badannya di atas kasurku. Kau istirahat disini, untuk hari ini saja. Kututup dirinya dengan selimut tebal. Aku berpaling ke belakang, dan komputerku masih menyala. Di layarnya terpampang sisa-sisa pencarian nama. Sebelum pergi ke dapur, satu nama menarik mataku tadi. Seorang gadis dari drama Hamlet karya Shakespeare. Namanya terdengar klise, tapi sesuai untuknya. Gadis indah yang malangnya ditelantarkan. Tidak dianggap. Ophelia. Kumatikan komputer itu, dan aku berbaring di sisinya. Puas. Efek obat itu memang kelewatan, tapi benar-benar bekerja. Aku menoleh ke samping, memandang Ophelia lagi. Ia tertidur dengan pulas. Rambut hitamnya teruntai, senyum manis yang belum pernah kulihat terukir di wajahnya yang jelita. Transaksi terbaik yang pernah kulakukan. Ophelia. Mainanku yang indah. Aku memejamkan mata. Ingin kubuang obat itu, tapi aku putuskan untuk menyimpannya. Hanya untuk berjaga-jaga. To be continued. ————————————— Cold - The Full Story [21+] tersedia di akun saya, silahkan dicek kalau minat. <3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN