Minggu, 25 Maret 2017
"Hai, manis."
Dexter menyusuri pinggangku dengan tangannya, membuatku tidak nyaman. Jujur, aku tidak suka dengan perawakannya. Rambutnya cokelat abu, tangannya berurat, dan suaranya terlalu serak, membuat dia nampak lebih tua dari sebenarnya.
Tidak seperti...
"Jadi kau mainan baru Little Louie, hah?"
Tangannya seperti berencana menyusup ke celah pahaku, sebelum tangan dingin Louis mencegatnya. Suara dingin Louis berkumandang di ruangan.
"Kusarankan untuk menjauhkan tanganmu dari barangku, kak," ucapnya pelan. "Kali ini, yang ini terlalu berharga untuk kau rusak."
Aku tersipu, mendengar bahwa aku miliknya. Tapi ah, aku hanya seperti barang. Lupakan saja.
Dexter tergelak. "Berapa harganya saat kau beli, hah? Akan kuganti 5 kali lipat. Bahkan menghitung fakta kalau dia sudah tidak... perawan." dia menyeringai, sekilas paras Louis tercermin di wajahnya.
"Kau sungguh baj*ngan beruntung. Ia jadi milikmu saat masih polos. Dimana kau mendapatkannya?"
Mendengar itu, Louis tersenyum tipis, rautnya dipenuhi aura angkuh.
"Bukan urusanmu. Tetapi, aku mendapatnya dari sumber terbaik."
Yah, kalau ayahku yang mabuk-mabukan dan suka judi kau anggap sebagai sumber terbaik, standarmu pasti rendah sekali.
"Aku ingin memakainya. Kubayar tujuh kali lipat?"
"Tidak."
"Delapan kali lipat?"
"Tidak."
"Sembilan kali lipat?"
"Tetap tidak."
Dexter mendengus, frustasi. "Sepuluh kali lipat."
"Tidak," ujar Louis final. "Kau tidak pernah tahu cara merawat barang."
Memangnya kau bisa? Aku mendelik.
Pria itu tidak berfokus pada Louis lagi. Sekarang, dia mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia menunduk, dan mata cokelatnya menatapku dalam.
"Bagaimana kalau kau coba sekali saja, sayang?" Dexter menatapku intens. "Akan kupuaskan kau lebih dari yang sudah-sudah. Pemula itu tidak tahu caranya, kan? Aku lebih berpengalaman."
Aku bergidik, jijik akan sifat genitnya. Iiih, tidak. Melayani satu pria saja sudah melelahkan.
Tapi pria ini terus mendekatiku padahal aku sudah menggeleng kuat-kuat. Dahi kami hampir menempel, sebelum Louis mendorongnya menjauh. Kini si adik menatap kakaknya tajam.
"Jangan sentuh," desisnya.
Louis mengancungkan pistolnya tadi, kemudian menunjuk ke arah pintu. Mungkin dia sama muaknya denganku.
"Pergilah, sebelum kugunakan ini secara paksa. Aku bergabung dengan kalian sepuluh menit lagi."
Dexter terkekeh, khawatir melihat pistol itu.
"Baiklah, sepuluh menit lagi." Nadanya sarat akan kecewa. Dia pun berbalik pergi.
Klik. Pintu tertutup.
Louis menurunkan tangannya, kemudian membuang napas kasar. Wajahnya makin tampan jika terlihat dari samping.
Membuat aku menatapnya lamat-lamat.
Dari percakapan tadi dan perawakan mereka, ia adalah adik Dexter, tapi jelas-jelas berbeda. Rambut Dexter cokelat abu, Louis lebih terang. Dia juga lebih tinggi dan kekar.
Dan Louis, bisa kubilang, seperti batu es, dingin dan kaku. Sementara Dexter genit, bersikap seperti pria h*dung b*lang yang bisa kau temukan di bar, klub, atau apalah.
Paras dingin Louis mendadak menoleh, menangkap basah aku yang sedang memandanginya. Wajahnya berubah kaku, dan ia mengangkat alis.
Oh tidak. Kubuang pandanganku jauh-jauh.
"Apa yang kau lihat?" ujarnya ketus. Mengingatkanku pada minggu-minggu pertama kami bertemu.
"Uhm..tidak, tidak." Aku menggeleng, menundukkan kepala. "Bukan apa-apa."
Ia mendekat. Posisinya persis seperti Dexter tadi.
"Kenapa, hm? kecewa aku tidak mengijinkan b******n itu tidur denganmu?"
Aku menggeleng cepat.
"Kau sebegitu ingin bercinta dengannya?"
Aku nenggeleng lagi. Astaga, pria satu ini.
"Kau bahkan tidak repot-repot ingin menyingkirkan tangannya." Dia menunduk, menatapku tajam. "Kau suka saat diraba?"
"Ah...bukan. Itu karena aku... takut."
Aku menunduk, lelah dengan diriku yang lemah. Suasana hatiku berubah mendung, membuatku mundur.
Tapi saat aku melangkah ke belakang, rasa mengganjal agak muncul dari benda oval yang ada di dalamku. Louis yang memasukkannya setelah ia bermain denganku tadi pagi. Entah gunanya apa.
Ia mundur sejenak. Matanya menerawang sebelum mengeluarkan ponselnya, dan mengarahkannya padaku. Sebuah tombol bundar dengan tuas di tengahnya.
Sekejap kemudian ia menariknya ke atas. Benda yang berada tepat di dalamku langsung bergetar hebat, dan sensasi dadakan di belahan paha membuatku jatuh terduduk. Gemetar.
Kuangkat tanganku minta pertolongan, tapi Louis makin menaikkan tuas itu, membuatku terkapar sementara desahan mendesak keluar dari mulutku.
"Ja–ah–ngan disini ... Aku mohon, Louis."
Tapi perkataanku membuatnya melotot tajam. Segera ia berjongkok di hadapanku, dan menarik daguku ke depan.
"Kau milikku. Terserah kau ingin kuapakan."
Ia memainkan jarinya di layar ponsel, membuatku melenguh lagi. Suara dengung dari alat itu bisa terdengar jelas. Kucengkram kuat-kuat gaun yang dia pakaikan tadi.
Melihat itu, tangannya masih menangkup daguku, tapi suaranya mulai melunak.
"Jadilah gadis baik hari ini. Kau akan kupamerkan."
Langsung kuangguk-angguk kepalaku. Apapun, apapun asalkan benda ini berhenti bergetar.
Akhirnya dia mengangkat jarinya, dan dengung pun spontan berhenti. Kutarik napas panjang, rasa lega langsung terlepas dari dalamku. Ia kembali berdiri tegak, namun ia bahkan tidak repot-repot mengangkatku ke atas.
Dengan paha yang masih gemetar, aku berdiri sempoyongan. Kuluruskan hiasan emas di atas kepalaku. Louis mengusap kusut dari kemeja hitamnya, kancingnya yang paling atas terbuka. Membuat garis dadanya terlihat.
Ia mengangguk, dan penjaga langsung membuka pintu. Ini adalah ruang bawah tanah mansion, dan sekarang dipenuhi orang-orang kaya yang berpesta.
Semuanya mendongak saat Louis, yang adalah tuan rumah masuk. Membuat semua pandangan tertuju padanya, dan padaku. Kuekori Louis dari belakang.
Setelah itu, Louis duduk di kursi, tapi di memintaku untuk berdiri saja. Puluhan orang menatapiku. Pria maupun wanita, semuanya bertopeng, semuanya berbaju mempesona dan mahal.
Di bawah sorot mata mereka, tubuh kecilku hanya dibalut gaun abu-abu transparan. Motifnya akar emas dan memamerkan lekuk tubuhku seluruhnya. Dan dengan hiasan daun emas di kepalaku, aku terus tertunduk, sebelum Louis mengangkat daguku dengan paksa lagi.
Setelah diijinkan, mereka mendekat. Dan sikap mereka tidak lebih baik dari Dexter tadi. Menggodaku, mencubit pipiku. Bilang kalau aku manis, aku imut dan pemalu ketika aku berusaha menghindar. Beberapa bahkan menawar untuk memiliki atau mencicipiku lagi. Louis tetap berkata tidak.
Begitu terus yang terjadi sepanjang sore. Aku merasa seperti hewan atraksi di kebun binatang. Namun sesekali, Louis mengelus kepalaku. Membuat dadaku merasa hangat dan mengabaikan otakku yang ingin mendorongnya hingga terjatuh.
Aku memelas ingin pergi dengan menatap mata dinginnya, tapi dia hanya menaikkan alis, lantas mengangkat ponselnya. Membungkamku.
Aku tidak mau mendadak jatuh, lantas mendesah seperti jalang haus sentuhan hanya karena getaran benda sialan di dalamku, apalagi di depan orang-orang kaya b******k ini.
Dengan perilaku dan sikap mereka, terlihat sekali. Mereka ini manusia yang sama kejinya dengan Louis.
Satu dentang gelas, dan semua menoleh. Louis mendehem, kemudian berbicara omong kosong, seperti terima kasih sudah datang, dan blablabla. Omongan tentang bisnis, tanah, entah apa yang tidak bisa kupahami. Seluruh pelajaran SMA sudah aku lupakan.
Di antara lamunanku, pidatonya berhenti. Dia menoleh sekali ke arahku, dan melanjutkan omongannya.
"...dan tidak lupa aku berterima kasih atas perhatian yang telah kalian tujukan pada Ophelia. Dia memang gadis yang manis, dan kami sangat berterima kasih...."
Tunggu. Siapa? Ophelia? Siapa?
Pandangannya tadi seolah-olah ia mengacu padaku. Tapi aku punya nama. Nama lamaku, masih kupakai. Walau dia tak pernah memanggil namaku yang itu. Jadi siapa 'Ophelia' ini?
Tahu-tahu, acaranya selesai. Pestanya bubar. Semu bertepuk tangan, lantas menyalami Louis dan beranjak pergi. Aku akhirnya diizinkan duduk. Tapi tak lama, karena dia menyuruhku segera ke kamar ganti.
Di kamar ganti, Ia melepas risletingku, tapi menyuruhku melepas sisa gaunku sendiri. Dan setelah aku melepasnya, dia langsung mendorong tubuhku ke tembok. Merobek kain di badanku yang tersisa, dan kembali ia mengangkat ponselnya.
Kugigit bibir, dan langsung melenguh ketika sensasi itu kembali. Ia memutar tuas di layar itu, dan alat itu ikut berputar juga. Kupeluk dirinya karena aku tidak punya pegangan,
Sembari tersenyum sinis, ia menciumi pipiku. "Gadis pintar. Karena kau, belasan konglomerat b******n itu berebut menjadi partnerku."
Aku mendesah seraya mengernyitkan dahi. Apa hubungannya denganku? Aneh.
Dengan gerakan yang sudah kuhapal, Louis membuka celananya, dan jarinya meraba dalamku lagi. Sejurus kemudian, ia meraih benda oval itu di dalam, lantas melempar barang itu keluar — masih bergetar — dan memasukan benda lain. Miliknya sendiri.
Ia bergerak lagi. Melenguh di telingaku dan mendorong pinggulku mendekat. Lalu mengangkat kakiku ke atas. Membuat betisku melingkari tubuhnya.
"Mmm...Ophelia..."
**************
Terus kutekan tubuh empuknya ke dinding. Desahannya merdu di telingaku. Dan sisa-sisa glitter emas yang menghiasi matanya tadi membuat parasnya makin indah. Fakta kalau makhluk cantik ini sedang melenguh tak berdaya di pelukanku membuat dadaku makin panas.
Makhluk milikku. Punyaku. Semua orang di pesta tadi memandangnya dengan liar. Mereka menawarnya dengan harga fantastis dan gila, namun orang-orang malang itu hanya bisa mengaguminya dari luar saja.
Karena pada akhirnya, Ophelia tetap milikku. Aku yang menemukan gadis manis ini dan membuatnya begini. Dia milikku, sepenuhnya. Hanya aku yang bisa merasakannya. Mengklaimnya. Memasukinya. Memakainya sesuka hati.
"Louis..." panggil Ophelia pelan. Suaranya terdengar lembut di sela-sela nyaring desahan kami.
"Hm?" Aku mengangkat kepalaku sambil masih menyesap putik merahnya. Buah dadanya masih di tangkupanku.
"Si-siapa? Ophelia? Siapa-" Kata-katanya belum selesai saat aku menghujamnya lebih keras. Dia memejamkan mata, gelombang hasrat terus mengalir di antara kami berdua.
Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum kecil melihat betapa polos tingkahnya itu.
Jadi dia belum sadar?
Maka dari itu, kuangkat pergelangan tangan kanannya, dan kuarahkan sendiri ke matanya, membuat pupilnya membulat.
Di sana, dengan tinta hitam permanen, tertulis :
Ophelia - L.R.K
Sementara mata cokelatnya mengerjap, langsung kuhentak tubuhnya tanpa henti. Sungguh nikmat. Dia menggeleng kuat-kuat, air mulai menetes dari netra karamelnya seraya tubuhnya berguncang.
"Kau belum sadar, hm? Kutulis itu di lenganmu tadi pagi, Ophelia," kutekankan nama miliknya.
Ada sepercik murka muncul di kedip matanya.
Sejurus, Ia mencoba menjambak rambutku dengan tangan mungilnya, namun dengan mudah kuhempas tubuhnya lagi. Kuakui dia terlihat seksi saat mencoba melawanku, padahal tidak ada gunanya.
Tidak tahan lagi, kuremas rambutnya kuat-kuat, membuat hiasan daun di kepalanya terjatuh. Makin kupercepat gerakanku. Dengan tetes air mata yang membuat maskaranya luntur.
Dalam erangan kami berdua, kulepaskan diriku keluar.
Campuran kami berdua yang berasal dari dalamnya menetes di lantai keramik. Aku lupa memakai pengaman lagi. Biar saja. Sudah kupastikan dia minum pil secara rutin.
**************
Setelah permainan Louis yang kasar, seluruh kakiku bergetar dan aku langsung terperosok ke bawah. Louis mengeluarkan sapu tangan, dan membersihkan miliknya sendiri. Kemudian, ia mengelap sisa-sisa dari tetesan tadi. Tubuhku masih berguncang. Aku tadi juga mencapai pelepasan.
Kepalaku masih berkabut. Rasa kaget masih memenuhinya. Kuangkat tanganku yang ditindik tulisan tadi, masih tidak percaya.
Ophelia. Nama baruku.
Jadi aku dibelinya, dirawatnya, dan sekarang dia memberiku nama sesuka hatinya? Apa bedanya aku dengan hewan peliharaan?
Ah, setidaknya hewan peliharaan diperlakukan dengan cinta dan kasih sayang. Aku yang notabene manusia malah harus siap melayaninya kapan saja, dan itu hampir setiap hari.
Jadi apa aku? Boneka pemuas yang kebetulan hidup? Dan jangan lupakan kalau dia memamerkanku tadi. Air mataku berjatuhan.
"Berdiri. Ke kamarku," perintahnya sambil melepas kemeja hitam yang penuh keringat. Yah, mudah saja kalau hanya menyuruh. Aku mencoba berdiri lagi, tapi kakiku terlalu lemas. Napasku juga terdengar lelah. Isakanku sudah berhenti, namun badanku terasa gontai.
Louis mendengus, dan ia mengangkat tubuhku.
**************
Aku terbangun di bawah selimut bulu. Di atas kasur, sprei hitam dengan harum parfum mewah. Pandanganku semakin jelas, seraya cahaya komputer berpendar di kamar Louis.
Dia sedang duduk. Tangannya sibuk mengetik, sekali-kali menggerakan mouse. Rambut cokelatnya yang tadi kutarik masih berbekas.
Sejak malam dia memaksaku menenggak obat aneh, lalu memakaiku habis-habisan, sikapnya sudah agak melunak, walau masih sedikit dingin.
Perlakuannya malam itu membuatku terkapar seharian, dan aku tidak bisa berjalan selama dua hari. Setelahnya, aku jalan pincang hampir seminggu. Untungnya dia tidak memakaiku sampai aku benar-benar sembuh. Mungkin dia merasa bersalah? Ah, tidak mungkin.
Kugulung selimut tadi hingga menutupi tubuhku. Aku ingin kembali ke kamarku. Tapi saat aku berdiri, ia menoleh.
"Kau mau kemana?"
"Ke kamar," jawabku pelan. Ia menyipitkan matanya, dan berbalik.
"Tidak. Tetap di sini," sahutnya sambil mengetikkan sesuatu.
Aku mendelik, namun tidak berniat untuk melawan. Ingat apa yang terakhir kali terjadi saat aku melawan? Nah.
Sehingga aku hanya mendekatinya. Dia pasti ingin sesuatu. Kupandang dua monitor komputer yang menampilkan angka-angka, garis hijau yang bergerak naik, dan situs-situs yang tidak kukenal.
Aneh. Bukannya dia kaya? Dia bahkan punya petugas keamanan sendiri. Seharusnya anak buah yang bekerja untuknya. Hmm, itu yang ingin kutanyakan sejak lama. Louis sebenarnya siapa?
Dia menoleh sekilas, menangkap pandanganku yang sedang berpikir keras. Dahinya berkerut, sebelum berkata. Namun tidak ketus.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Ah, aku..."
Kupandangi lantai yang dilapisi karpet beludru. Tidak ada salahnya bertanya, kan? Itu hanya pertanyaan biasa.
"Pekerjaanmu apa?"
Matanya kembali menoleh ke arah monitor. Sepertinya ia berpikir.
"Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Karena aku hanya ingin tahu," jawabku sambil tertunduk. "Rumahmu besar, pelayanmu banyak. Orang-orang kaya dan terpandang datang saat kau merayakan pesta. Kau siapa?"
Sekejap, jantungku beku. Tegang, tidak percaya kalau diriku yang pemalu mampu mengatakan itu semua. Aku menunggu bentakan, kata-kata ketus atau marah, tapi tidak ada. Dia hanya menghembuskan napas, kemudian memandang langit-langit.
"Apakah kau mafia?"
Tapi mendengar itu, dia malah terkekeh pelan. Bukan kekehan sinis, tapi tawa kecil seperti dia habis mendengar suatu lelucon.
Jadi dia menggapai ponselnya, membuatku panik. Tapi sudah tidak ada tanda-tanda benda tadi masih di dalamku. Aku bernapas lega sesaat.
Dia mengetik sebentar, kemudian menyodorkan ponselnya padaku.
Aku menerimanya dengan bingung. Tapi dia hanya menunjuk dengan dagu, menyuruh aku memegangnya.
Seketika, mataku membulat. Di laman hasil pencarian, nampak foto dia sendiri sedang berjalan, memakai jaket hitam kesayangannya dan kacamata. Tapi foto itu seperti ditangkap paparazi.
Kugulir halaman itu ke bawah, dan ada beberapa berita.
——————————————
Mengenal Louis Kennedy, putra bungsu Duke of Merioneth, tuan tanah terkaya di Inggris!
Dexter & Louis Kennedy, dua bersaudara tampan plus bangsawan. Psst, mereka lajang!
Skandal pelecehan Dexter Kennedy memanas. Sang adik — Louis yang misterius — jadi saksi di pengadilan.
——————————————
Aku menggulir lagi ke bawah, dan kini nampak foto muka Louis dari angle yang lebih baik. Dia sedang berjalan, rahangnya terlihat tegas. Rambut cokelatnya tertata. Mata gelapnya memandang tak peduli — tipikal.
Keterkejutanku sempurna setelah membaca tulisan biru besar di bawahnya :
Louis Reinald Kennedy, 4th Viscount of Rochester.
Vi-viscount? Pikirku. Kucoba menggali-gali ingatan tentang pelajaran gelar-gelar bangsawan di sekolah. Materi yang selalu kuanggap tak penting.
Seorang Viscount.... seingatku berada di bawah seorang Earl, tapi di atas seorang Baron.
Artinya, pria keji pemilikku ini adalah salah satu dari puluhan bangsawan tinggi Inggris yang tersisa.
"K-kau..." aku hampir tak bisa berkata-kata. "Kau... seorang Viscount?"
Bukan hanya itu, dia anak seorang Duke. Duke of Merioneth.
"Hm."
Louis menjawabnya dengan acuh tak acuh. Tanpa menoleh dari komputer, Ia mengambil ponselnya lagi dan lanjut mengetik. Mengabaikan kekagetanku sepenuhnya. Ia menunjuk monitor besar.
"Aku bermain saham sebagai hobi."
Yah, itu menjelaskan angka-angka dan statis yang daritadi ia pandangi.
"Oh..." gumamku pelan sambil tertunduk.
Pantas saja ia tinggal di mansion besar. Pantas saja ia punya kolam renang. Pantas saja dia punya banyak bodyguard, dan mampu mengadakan pesta dengan konglomerat-konglomerat bertopeng konyol.
Dan pantas ia mampu mengakses pasar hitam, lantas membeliku. Manusia bernyawa, yang bernapas, punya hidup dan cita-cita.
Kejam sekali dunia. Aku makin menunduk.
"Kau puas setelah mendengarnya?" tanyanya tegas. Aku menggeleng.
Ia mendengus.
"Duduk di pangkuanku."
Tanpa tenaga, kugerakkan tubuhku yang lemas. Kubuka balutan selimut, otomatis mengekspos tubuh telanjangku, dan duduk di pangkuannya. Membelakangi monitor. Aku sudah di posisi ini beberapa kali.
Kulitku langsung bersentuhan dengannya. Dan sensasi itu datang lagi. Rasa hangat, rasa panas yang kudambakan setelah tahu fakta-fakta yang kejam.
Malam itu, fakta kalau aku sudah dipaksa minum obat perangsang. Dan hari ini, fakta kalau Louis adalah bangsawan kaya dan berkuasa, yang membuatku makin terperangkap.
Ia mengangkat daguku, dan bibirnya mengecupku satu kali. Kemudian lagi, dan lidahnya masuk. Kusambut benda itu ke dalam — aku tidak punya pilihan — dan aku pegang pipinya. Hangat.
Ingin lebih, kutempelkan tubuhku pada d**a bidangnya yang hangat. Hangat, hangat. Aku suka hangat.
Membuatku lupa pada dunia yang dingin.
Louis sepertinya tahu sesuatu. Karena dia menggenggam tanganku, lantas mengarahkannya ke mulut. Dia menyeringai, mengelus tanganku, sebelum menghembuskan napasnya ke telapakku yang beku. Aku terpejam penuh kenikmatan.
Tangannya yang satu bermain dengan dadaku yang bulat. Putik merah mudaku sudah akrab dengan jarinya. Ia mengusapnya sedikit hingga berdiri, sebelum kemudian meremas seluruhnya.
Lenganku diarahkannya ke bawah, dan dapat kurasakan sesuatu mulai naik.
Kutarik celananya perlahan, dan benda itu menyembul. Sudah puluhan kali aku berkontak dengannya, tapi tetap saja. Mukaku selalu bersemu. Dengan mata yang tertutup, kuraba benda itu, dan mengusapnya dengan tanganku. Kuintip sedikit, dan bisa kulihat Louis tersenyum tipis.
Untuk beberapa lama, aku terus memijat miliknya. Sementara Louis bermain-main dengan tubuhku. Meremas dan memainkan dadaku. Mencium leherku hingga naik ke telinga, kemudian menggigit daunnya pelan. Membuatku mengerang. Tidak ada gerakan kelewat kasar darinya, untuk yang pertama kali.
Bisa kurasakan intiku membasahi dirinya sendiri, bersiap. Selimut yang tadinya masih di pundakku kini terjatuh sepenuhnya.
Dia mengangkat pinggulku, dan milikku yang basah bersentuhan dengannya. Rasa panas itu kembali lagi. Terus kuusapkan punyaku, terus dan terus hingga sensasi itu menguar ke seluruh tubuh.
Louis mendesis, mulai tidak sabar, dan mengangkat tubuhku lagi. Setelah memposisikan miliknya, dia menjatuhkanku, membuat benda itu memenuhiku secara penuh. Lenguhan yang tidak bisa kutahan terus keluar.
Berusaha bertahan, kugenggam bahunya kuat-kuat, lantas kugerakkan pinggulku. Maju dan mundur, memainkan dirinya di dalamku. Dia yang puas terus menyesap aset-asetku lagi. Sesekali menggigitnya.
Kujepit erat miliknya di dalam, membuat kami berdua mengerang. Makin cepat pinggulku bergerak. Hari ini, aku melayaninya sekaligus memuaskan diriku sendiri. Kususuri rambutnya dengan jariku, dan kutekan sedikit wajahnya saat Ia menikmati badanku di bawah.
Sebenarnya aku suka. Sejak malam itu kusadari, aku suka kehangatan Louis. Bukan hangat udara, bukan hangat perapian. Hanya hawa tubuhnya. Panas yang berasal dari makhluk yang dingin. Kusebut namanya di sela-sela erangan bingung dan ekstasi.
"Louis..."
"Ophelia..."
Disisipkannya rambutku yang tinggal seleher ke balik telinga. Dengan seringainya, ia menampar bokongku, membuat gerakanku makin lekas.
Otomatis. Seperti perintah. Seperti keseluruhan fungsi tubuhku sudah terprogram untuk menyesuaikannya. Aku tertawa dalam tangis menyadari hal itu.
Dia masih tersenyum tipis, jarinya menyusuri seluruh tubuhku, dan pada akhirnya, mengelus pipiku.
"Siapa dirimu?"
"Ophelia."
"Siapa pemilikmu?"
"Louis."
Suaraku terdengar miris, antara desahan dan tangis.
"Louis Kennedy."
Dia tersenyum senang, lebar. Tipe senyumannya yang paling langka. Tangan besarnya naik, dan mengusap kepalaku lembut. Sementara jarinya turun, dan membelai bagian atas milikku dengan melingkar. Mulutnya di dadaku lagi, menyesapnya kuat-kuat. Aku melolong dan pinggulku bergerak sekuat tenaga. Aku tak tahan lagi.
"LOUIS!" kupekikan namanya nyaring, dan gelombang lega terlepas dari bawah perutku. Dia menekan pinggulku kuat-kuat, dan semburannya juga memenuhi intiku. Cengkramanku menancap di bahunya.
Kujatuhkan wajahku yang lelah pada bahunya. Kami sama-sama berkeringat.
Gelak tawanya mengudara. "Gadis nakal. Aku bahkan tidak menyuruhmu bergerak sekali pun."
Kubalas komentarnya dengan gumaman tidak jelas. Hmm, biar saja. Aku lelah. Nampaknya hari ini dia sedang senang. Tidak apa-apa kalau aku hanya ingin kehangatannya sedikit.
Dia mengambil lap dari laci — dia suka kebersihan, ada lap di setiap sudut mansion — dan mengelap sisa-sisa kami berdua. Mataku mulai berat di bahunya. Aku mengantuk.
Dia mengangkat tubuhku yang masih di bahunya, dan merebahkanku kembali di kasur. Aku spontan menggeliat karena sensasi lembut dari sprei mewah. Dia mengambil selimut bulu tadi, dan menutupiku. Kemudian sosoknya juga menyusup dalam selimut, dan mengelus kepalaku lagi.
"Kau tidur di sini mulai sekarang. Paham?"
Aku mengangguk, air mataku sudah kering. Kusambut sensasi nyaman, hangat telapak tangannya seraya kelopakku menutup.
********
Selasa, 18 April 2017
Kumuntahkan semua daging sapi yang tadi bersemayam dengan nyaman di perutku keluar, sambil terbatuk-batuk menghadap toilet. Awalnya aku sanggup makan setengah piring, sebelum rasa mual naik ke perutku, rasa pusing menguasai ubun-ubunku, membuatku kabur ke kamar mandi.
Louis sedang pergi—dia pergi setidaknya dua kali dalam sebulan. Dan dia selalu pergi selama satu minggu. Aku hanya tinggal sendiri sekarang, bersama beberapa pelayan.
Sebelum pergi, Louis bilang, buah dadaku makin lembut. Entah kenapa. Aku makin sensitif dengan tiap sentuhannya. Bahkan sentuhan jarinya di putingku mampu membuatku sampai terpejam pejam.
Nah, beberapa hari ini tubuhku rasanya lemah sekali. Aku terus sempoyongan, dunia terasa berputar-putar. Suasana hatiku juga jadi aneh. Aku bisa menari kegirangan di ruang tamu, namun beberapa menit kemudian meringkuk ketakutan di bawah selimut.
Dan anehnya, aku sudah tidak datang bulan—oh.
—————————-
Cold – The Full Story [21+] sudah saya upload di profil saya. Silahkan dicek, update per minggu