The King’s Little Rose

2043 Kata
"Selamat malam, Yang Mulia." Callan, merasa sesuatu naik ke pahanya, perlahan terbangun dari tidurnya. Mata biru keunguannya terbuka, langsung terbelalak. Terperanjat melihat pemandangan di depannya. Myra, sedang duduk di pangkuannya, tubuhnya polos tanpa satu kain pun. Rambut merah terangnya terikat ke atas, dan... Gadis itu sedang menciumi leher Callan. Belum selesai kekagetannya, tiba-tiba Myra meraup mulutnya. Menekan bibirnya yang merah, menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Callan. Memegangi pipi sang raja, dan memejamkan matanya nikmat. Mengeksplorasi mulut Callan dengan lembut, sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Mata sang raja membulat, ketika lidahnya mengecap rasa sisa minuman keras di mulut Myra. Karena itu, Callan mencoba bergerak, tapi langsung gerakannya tertahan. Terlihat di atas, kedua lengannya tergantung. Dirantai ke balok kayu. Dan kedua kakinya, kanan dan kiri, terikat tali. Terlilit tiang ranjang di bawah. Gadis sialan... umpatnya seketika dalam hati. Sadar jika suaminya sudah bangun, Myra menghentikan cumbuannya. Garis bibirnya naik, dan menyapa Callan dengan nada riang. Seolah sedang tidak terjadi apapun di antara mereka. "Selamat malam, Yang Mulia. Ada apa?" "Apa yang kau lakukan?!" Callan melotot. Dia langsung mencoba berontak, namun lengan kekarnya masih tertahan oleh rantai. " Oh," Myra menyunggingkan senyum nakal. "Eng, Yang Mulia... terlalu sibuk akhir-akhir ini. Aku merasa kesepian." Gadis itu pura-pura memasang raut wajah sedih, menyandarkan pipinya di d**a Callan. "Jadi aku putuskan untuk... menikmatimu. Malam ini saja," ucapnya sambil tersenyum lebar. "Kau mabuk, hah?" sahut Callan ketus, keningnya mengerut. Myra menggeleng, namun sedetik kemudian justru tertawa terbahak-bahak. "Ah... tidaaak. Edelin hanya memberiku sebotol penuh. Dan aku meminumnya pelan-pelan. Pelan-pelan, Yang Mulia, pelaan pelaaan. Mana mungkin aku mabuk. Hohoho." Callan memutar mata amethyst-nya, mendelik mendengar omong kosong dengan nada bicara orang mabuk itu. Tapi tetap saja, Ia tidak percaya. Sangat sangat tidak percaya dengan apa yang dilihat mata kepalanya sendiri. Myra yang dia tahu tidak mungkin bersikap seperti ini. Istri mungilnya itu tidak terlalu suka saat melayaninya di ranjang, apalagi menggodanya. Myra, mungkin karena umurnya yang masih belia, terlalu polos dan dungu. Mukanya selalu merah, malu tiap Callan sentuh. Bahkan justru akhir-akhir ini, saat Callan menyentuhnya, Myra sering berpaling. Saat mereka menyatu, gadis bermata karamel itu malah membuang muka. Seolah berharap cepat selesai. Tapi sekarang? Justru Ia yang memeluk leher Callan dengan rindu tanpa sehelai kain pun. Ada apa dengan gadis ini? Di bawah, jemari Myra menyusuri otot-otot perut Callan dengan kagum. "Tubuhmu sangat indah, Yang Mulia. Apalagi...ketika kau berkeringat. Aku menyukainya. Kau terlihat semakin menawan." Callan terdiam seketika. Mencoba tidak menghiraukannya, ia menunduk ke arah Myra, mencari-cari matanya. "Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?" Myra mendongak, menatap suaminya itu dengan heran. "Hum? Apa yang engkau maksud, Paduka? Aku memang selalu seperti ini. Kau saja yang..." Spontan, ia meluruskan badannya, lantas menarik dagu sang raja paksa. Menatap mata amethyst-nya yang terbelalak marah. Di tengah sunyi istana, di antara hawa dingin, tatapan mata karamel itu terasa tajam. "....tidak pernah menyadarinya." Mendengar itu, bulu kuduk Callan menegang. Sontak, kelengahan pria itu dimanfaatkan oleh Myra. Ia menarik kain yang menutupi paha sang raja, menyingkap bagian tubuhnya yang mulai mengeras. Dia tersenyum seolah menemukan harta karun, dan tanpa basa-basi, langsung menduduki benda itu, berkontak dengan miliknya sendiri yang basah. Gelombang panas segera menerjang tubuh keduanya. Callan mengerang seketika. Sialnya, erangan itu seperti membangkitkan sesuatu dalam Myra. Dengan matanya yang menyala, dia mengangkat bagian tubuh Callan yang baru setengah mengeras. Myra mengangkat badannya seraya meremas bahu Callan. Mendorong benda itu ke dalam miliknya sendiri. Gadis itu mendesah nyaring. Callan melotot seraya Myra menggeliat di bahunya. Sensasi panas menyebar bagian tubuhnya yang dimasukkan paksa. "Kau sudah gila, hah?!" bentak sang raja yang kaget. Daripada menjawab, sosok yang dibentaknya itu justru tertawa kencang, seperti mengiyakan. Namun tiba-tiba, gadis berambut merah terang itu terdiam. Ia mendekati wajah tampan Callan, dan, pria bernetra ungu itu menatapnya balik tak kalah tajamnya. Rambut gelap Callan yang sebahu berkeringat. d**a bidangnya naik turun, dipenuhi kebingungan, gairah, dan amarah. "Benar sekali, Yang Mulia. Aku, gila." Dan Ia menekan bibir merahnya pada Callan. "Gila karenamu." Matanya melebar, dan dengan senyuman tipis, ia mulai menggerakan pinggulnya. Lenguhan keduanya seketika bangkit, namun tertahan oleh ciuman Myra yang ganas. Pinggul Myra terus bergerak, seraya tangannya merangkul leher Callan. d**a bulatnya mulai berguncang. Gadis itu berkeringat, dan dindingnya terus meremas Callan di dalam. Membuat sang raja memejamkan mata nikmat. "Kau menyukainya, bukan?" tanya Myra dengan nada menggoda. Callan membuka matanya, mendelik. "Kau mawar sialan..."ujar Callan di sela-sela erangannya. Umpatan yang biasa sang raja lontarkan, terutama untuk klan asal Myra, klan Rosean yang Callan benci setengah mati. Namun malam ini, alih-alih marah, Myra malah tertawa. Seperti membalas dendam pada sikap dingin yang terus Callan berikan, gadis itu malah mempercepat temponya, terus mendesah sembari menatap sang Raja. Membuat gairah pria itu makin membara, dipenuhi rasa frustasi karena tak dapat mengontrol dirinya. Cukup! Tidak tahan lagi, Callan menyentak tangannya. Rantai-rantai itu seketika hancur. Merusak tali yang membelenggu kakinya. Langsung ditatapnya Myra dengan murka. Awalnya ia berencana diam. Ia penasaran, ingin memperhatikan apa yang akan gadis itu akan lakukan. Namun rasa frustasi memenangkan egonya. Gadis itu kaget melihat Callan yang terbebas. Tapi belum sempat Ia kabur, Callan spontan menghempas tubuh kecilnya ke bawah. Callan, menyeringai melihat gadis nakal itu tak berdaya, menindihnya. Mengikat lengan Myra pada tiang ranjang di samping. Namun, Callan tidak mengunci kaki Myra. Dia justru membuka paha mulus itu lebar-lebar. Mengekspos milik basah gadis itu untuk dirinya sendiri. Dia merampas ikat rambut yang Myra pakai, membuat rambut merah terangnya teruntai, dan lantas mengikat rambut gelapnya yang sebahu. Menyempurnakan wajah tampannya, membuat hati sang ratu kecil berdegup. Berdetak tak karuan. Sentuhan terakhir, Callan melepaskan celananya, dan mengangkat paha Myra tinggi-tinggi. Sengaja mempermalukan gadis itu. Dengan tatapan marahnya, Ia mulai menggeram. "Beraninya kau mengendap-endap ke kamarku, hah ratu kecil?" Lantas Ia menampar b****g Myra kuat-kuat, membuat gadis itu menggelinjang. Callan meremasnya, meninggalkan jejak merah. "Menyentuh tubuhku tanpa ijin, hm? Rasakan akibatnya." Sekarang giliran ia yang menyeringai sinis. "Ke-kenapa kau bisa lepas?!" Mata Myra terbelalak. Sensasi perbuatannya tadi masih terasa, namun tanpa pelepasan, rasa itu membuat kepala Myra memanas. Callan tidak menjawab, meniru gerakan awal Myra tadi. Bibirnya menyusuri leher pucat pasi gadis itu. Menyusuri hingga telinganya. Mengigitinya perlahan, membuat gadis itu merintih. "Mengikatku dengan rantai berkarat, tentu saja dengan mudah kuhancurkan. Kau sama sekali tidak cerdas, tuan putri." Baik tatapan dan perlakuannya penuh ejekan. Callan menurunkan tangannya, giliran meremas d**a padat Myra perlahan. Lenguhan mulai lolos dari bibir kecilnya. "Melakukan itu, sama saja dengan hukuman tiga puluh tahun di sel bawah tanah." Remasan telapaknya membuat erangan gadis itu bertambah, semakin membangkitkan gairah Callan. Oh, dia akan benar-benar menikmati malam ini. Salah gadis itu sendiri yang memancing singa dari kandangnya. Dia mengalihkan mata amethyst-nya ke wajah Myra. Alih-alih marah, raut gadis itu malah menjulurkan lidahnya, penuh dengan saliva, menarik napas sembari membalas pandangannya intens. Ratunya yang masih belia itu terlihat justru makin terangsang setelah terikat. Dia meraih miliknya di bawah, mengeras sepenuhnya. Ia mengusapnya ujungnya pada pembukaan Myra. Lihat saja, gadis itu akan dibuatnya makin menggila. "Rasakan akibat ulahmu sendiri, tuan putri." Satu dorongan kasar, kejantanan Callan yang besar melesat ke dalam. Milik Myra yang basah makin memudahkannya. Otot-otot dindingnya mengeras. "Callan! Nghhh!" erang Myra yang memanggil suaminya tanpa embel-embel lagi. Satu hentakan lagi, dan kejantanan Callan masuk sempurna. Sensasi kasar membuat gadis itu menggelinjang hingga punggungnya melengkung. "Kau tidak akan kuampuni malam ini Myra," ujar Callan, penuh kemenangan sambil mengangkat paha istrinya itu. Tidak memberi jeda istirahat untuk gadis itu, Ia langsung menghentak tanpa ampun. "Mhmm...Paduka..." lenguh Myra. Sang raja menunduk, melumat bibir Myra dengan ganas. Kemudian tampang pria itu turun, memilin p****g merah muda Myra dengan mulutnya. Gadis itu makin meronta di ranjang dengan lengannya yang masih terikat. Pasti akan menimbulkan bekas nanti. Namun fakta itu malah membuat Callan menyeringai senang. Dia makin terangsang, menghantam Myra semakin cepat. Persetan dengan kendali diri. Persetan dengan menjaga kesannya sebagai raja dan suami. Untuk malam ini, dia harus memberi gadis itu pelajaran yang kasar agar dia tidak mengulanginya. Lidah mereka masih bertaut. Mulut mereka berdua penuh dengan saliva. Keduanya terus mengerang, dan dapat Callan rasakan Myra semakin menegang. Mendadak, gadis itu memohon. "Callan...pelankan...aku hampir tiba," lenguh Myra yang terguncang. Ia sudah di ujung tanduk, namun belum mau kehilangan sensasi nikmat yang menguasai tubuhnya. Bukannya melambat, sang raja malah menghantamnya lagi, tidak menghiraukannya. "Sudah lupa, hm? Kau dihukum malam ini." "Tapi aku belum mau tiba," rengek putri itu dengan nada manja. "Sangat nikmat, Yang Mulia. Aku tidak mau kehilangan sensasinya-nghh." Mendengar itu, Callan tersenyum sinis, khasnya. Ia lantas menurunkan tangannya, menyusuri tubuh gadis itu lagi. Dan tepat di atas pembukaan gadis itu, Callan mencubitnya, membuat gadis itu mendesah nyaring. "Lepaskan, Myra." Callan menunduk, berbisik. "Malam masih panjang. Dan lihat saja, akan kubuat kau terus tiba..." Dia menghentak. "...tiba.." Menghentak lagi. "...dan tiba." Setelah itu, Ia menghantam Myra sekuat tenaga. Tajam hingga ke ujung rahimnya. Mata Myra mendelik keatas, tali-tali di lengannya mengetat. Perutnya yang tertahan penuh sensasi bara. "CALLAN!" Dan begitu saja, Ia melepas. Tidak tahan, sang raja pun mengerang. Juga melepaskan miliknya di dalam. Di tengah sunyi istana, napas keduanya terdengar jelas. Untuk sekarang, ia melepaskan tali-tali yang menjerat gadis itu, berencana menikmatinya nanti. Kemudian Callan terduduk, berusaha mengatur napsnya. Namun alih-alih kabur, gadis itu justru naik lagi ke pangkuannya. Myra menyandarkan kepalanya lagi, dan mulai mencumbu tubuh besar Callan yang kekar. Kontras dengan dirinya yang pucat dan mungil. Turunan ayahnya, pikir Callan, karena semua anggota klan Rosean yang dia tahu memiliki tubuh yang tinggi. "Hal itu tidak akan meringankan hukumanmu, Myra," tegur Callan dengan ketus. Amarah masih menguasai kepalanya. Gadis itu mendongak sebentar, "aku tahu, Paduka," sebelum kemudian menciumi dadanya lagi. Membuat sang raja mengerut. Myra yang polos, yang dia perawani beberapa bulan lalu, yang bahkan tidak pernah menyentuh dirinya sendiri, menghilang malam ini. Diganti dengan Myra yang manja dan tidak tahu malu. "Siapa yang mengajari sikapmu ini, hm?" tanya Callan penasaran. Myra mengangkat wajah dari d**a Callan sejenak. "Emm, rumah bordil di ujung pasar, Yang Mulia." Kembali ia menekuri tubuh Callan, seolah tak peduli. Sedang pemilik tubuh yang dicumbunya itu menegang. "MAKSUDMU?" bentak Callan nyaring. Dua prajurit yang berjaga di dekat pintu, seketika terbangun, langsung berdiri mendengar bentakan sang raja. Tak jauh dari situ, ibu Callan—ratu Adela terlonjak dari tidur di kamarnya. Ia meraba jantungnya, kaget. "Ah, bukan begitu," Myra tertawa. "Diane yang mengintip rumah itu, lalu menceritakan isinya padaku. Aku hanya mengikuti petunjuknya saja. Paduka suka?" Callan mengiyakan dalam hati. Namun sebaliknya, ia meraih pipi tembam Myra, menekannya dengan jari. "Kau sungguh...." pria itu membuang napas, "untuk apa kau repot-repot mempelajarinya?" Karena.... "Emm ... aku hanya penasaran dengan reaksi Paduka," ujar Myra sembari memasang nada riangnya. "Kau bertingkah seperti jalang." Terhenyak, Myra terdiam. Senyumannya sirna. Hinaan itu menusuk hatinya. Pelan, sebutir air mata mendesak keluar, tapi Ia menahannya kuat-kuat. Ah, suaminya bersikap dingin lagi. Callan membuang muka. Merasa perkataan tadi terlalu kasar, diam-diam Ia merasa bersalah. Toh, dia juga menikmati Myra tadi? Tapi tanpa disangka, Myra kembali berbisik. "Aku... bukan jalang, Yang Mulia. Karena yang kulayani, hanya satu pria saja. Kau." Masih merasa sakit hati, Myra ingin beranjak, tapi benda basah yang menyentuh pahanya membuat Ia menunduk. Seketika matanya menyala lagi. Dia meraih barang itu, dan mulai membersihkannya. Mungkin minuman keras tadi memang terlalu berdampak padanya. "Argh..." erang Callan tiba-tiba. Tidak menyangka akan sentuhan itu. Membuat gadis itu kembali tersenyum senang. Dari ujung ke ujung. Myra menjilatnya, dan menelan semua cairan yang tersisa. Callan terpejam. Tangannya mengusap kepala gadis itu, lantas meraup rambut merahnya segenggam penuh. "Lagi," perintah sang raja dengan nada penuh hasrat. Myra menurut. Ia mengemut ujungnya, sebelum kemudian memasukkan benda itu sepenuhnya ke mulutnya. Ia mulai menghisap. Lidahnya mencumbu. Terus mencumbu benda itu di dalam. Callan makin mengerang. Suaranya semakin berat. Anehnya, bisa dengan mudah Myra membangkitkan hasratnya lagi. Sial. Myra mempercepat temponya, sembari memandang Callan yang bersemu merah. Nampak gadis itu terkikik kecil. Berang, sang raja menekan mulut gadis itu lebih dalam, membuat tenggorokannya seketika sesak. Tapi Myra tidak menyerah. Ia menarik napas, berpegang pada kasur, dan terus bertahan, mempercepat temponya. Callan mendesah, pelepasannya sangat dekat. Sehingga gadis itu memandangnya lagi, dengan tatapannya yang lugu, terus mencumbu barangnya. Membuat pria itu memuncak, dan melepaskan benihnya ke dalam mulut Myra. Puas, Myra menelan seluruhnya dengan gembira. Ia mendongak sambil mengelap bibirnya, mengira suaminya akan tersenyum, namun tidak. Mata biru keunguan itu justru menggelap. To be continued. —————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN