*** Aluna baru saja tiba di kampus, Arsya benar-benar bagaikan malaikat penolongnya, jika Arsya tidak datang, mungkin semuanya akan kacau, ia harus siap kembali mengulang kuliah di tahun depan, dengan perut yang benar-benat sudah membesar. Membayangkannya saja, Aluna sudah benar-benar ngeri, apalagi jika mengalaminya secara nyata. Arsya masih belum percaya, bisa membawa Aluna di atas motor yang sama, merasakan saat tangan perempuan itu melingkar hangat di pinggangnya, jika boleh jujur, Arsya ingin hal itu selamanya, tetap bisa mengantar dan menjemput Aluna layaknya sebagai sepasang kekasih. Sekarang, mereka berjalan berdampingan di atas koridor kampus, Arsya benar-benar merasa sangat bahagia. "Besok, mau di jemput lagi?" "Emang lo nggak repot?" "Nggak, kalau emang Bray

