Bab 12. Terluka

2039 Kata
*** Brayen masuk ke dalam kamar mandi,  lalu berteriak kuat, hingga menggema di telinga Aluna. Laki-laki itu menatap schok ponselnya yang ada di dalam closet, pasti benda itu sudah rusak, tidak bisa diperbaiki lagi  bahkan untuk menyentuhnya pun Brayen sangat enggan, jijik. Wajah Brayen bersungut-sungut, tidak terima perlakuan Aluna yang sengaja ingin merusak ponselnya, disana sangat banyak foto-foto mesranya bersama Ines, apalagi pesan mesra mereka yang masih sengaja disimpan oleh Brayen, karena hanya dengan melihat itu, hati Brayen sedikit terobati akan rasa rindu, tapi sekarang Aluna sudah menghilangkan semuanya. "Lo kenapa buang hape gue ke tempat itu?!" Brayen berdiri di depan pintu kamar mandi, tangan telunjuknya mengarah ke closed. "Gue pikir hape lo rusak, soalnya tiba-tiba mati, nggak bisa nyala." jawab Aluna santai, sambil memakan buah pisang yang ada di tanganya, sedikit pun tidak ada gurat penyesalan di wajahnya. "Dasar bego! Itu tandanya hape gue minta di charger, buka rusak." Brayen mengertakkan giginya, kekesalannya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Ya mana gue tau. Gue kira hape lo murahan, gampang rusak." Brayen berdecak kesal, kehamilan perempuan itu benar-benar membuatnya tidak punya kekuasaan, semuanya seolah terampas begitu saja. Seperti burung yang kini hidup di dalam sangkar emas, patuh pada majikan tanpa bisa terbang bebas di udara. "Tinggal hape doang, ya lo beli lagi lah! Miskin amat lo nggak bisa beli lagi, ngakunya anak orang kaya, tapi masak satu hape doang dipermasalahin!" "Mulut lo bisa diam nggak? Kalau lo nggak bia diam, gue cium bibir lo sampe bengkak! Atau, gue pukul sekalian pake linggis, biar gigi lo rontok!" Aluna langsung diam, ancaman seperti itu selalu membuatnya menjadi lemas seketika, tidak bisa berkutik dan melakukan perlawanan, apalagi mereka hanya berdua di ruangan itu, bisa saja Brayen nekat melakukannya secara paksa, mengingat bagaimana pria itu telah berhasil menghamilinya. "Lo harusnya yang diam, gimana gue bisa diam kalau lo kerjanya nyolot terus?" "Iyalah, lo nggak tau, di hape itu banyak kenangam gue sama Ines, dan sekarang semuanya ilang cuma gara-gara cewek bodoh kayak lo! Harusnya otak sama mulut ko dikuliahin yang bener, bukan cuma badan doang yang dikuliahin, ngapain? Mau sok eksis? Halu, jangan mimpi lo bisa jadi cewek berpendidikan tapi otak lo dangkal!" Aluna mengepalkan kedua tangannya, ucapan laki-laki itu kembaki menohok dadanya, bahkan saat laki-laki itu tau kehamilannya tetap tidak pernah mau perduli, mungkin ia terlalu malang mendapatkan suami yang romantis, ayahnya telah salah memilihkan seorang suami. "Nggak usah lo bawa-bawa pacar lo, bikin gue sakit telinga, kalau lo emang mau mikirin pacar lo, mending sekarang lo pergi!" "Lo ngusir gue? Oke, dengan senang hati, jadi gue nggak usah capek-capek harus jagain lo di tempat ini!" Brayen menyambar jaketnya, lalu pergi begitu saja, tanpa memerdulikan tubuh mungil yang butuh sentuhan, Brayen benar-benar tidak punya hati, semenjak Ines menjalin hubungan dengan Rio, membuatnya menjelma menjadi laki-laki b******k. Terdengar isakan kecil dari bibir Aluna, bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa harus menangisi laki-laki itu, sejak awal ia sudah tau, Brayen hanya mencintai Ines, dan dia juga tidak mencintai laki-laki itu, pernikahan mereka terjadi atas dasar keterpaksaan, tidak akan pernah ada cinta, sampai kapan pun. Aluna benar-benar merasa malu, dihamili tanpa dicintai, membuat dirinya seolah hina dalam pandangan orang-orang, haruskah ia meminta cerai? "Bahkan lo nggak sedikit pun bisa peka, gue tau gue nggak pantas bilang cemburu, tapi gue nggak bisa terima, setiap hari otak lo cuma penuh dengan Ines, hati gue sakit, Bra! Sakit..." lirih Aluna, nafasnya mulai tersendat-sendat, air mata sudah saling bertumpahan, membahasi pipi mulusnya, medua bahu Aluna sudah naik turun, mulai menggelugut dalam kebimbangan. "Kalau sejak awal gue tau akan kayak gini, demi lagit dan bumi, gue nggak pernah rela lo sentuh gue, lo milikin gue sepenuhnya tanpa lo pertahanin gue, gue terlalu bodoh, entah hipnotis apa yang lo mainin, sampe gue nggak bisa melakukan apa-apa, lo berhasil, lo benar-benar b*****t!" umpat Aluna, tangisnya benar-benar pecah, sendiri di dalam ruangan itu membuatnya seolah tidak berarti, rasanya ingin lenyap dari dunia ini. *** Brayen berdiri di depan rumah Ines, sejak kemarin ia belum pernah bertemu Ines, bahkan saat ini rumah itu terlihat kosong seolah tidak berpenghuni, Brayen masih bisa mengingat kejadian kemarin, menanamkan kebencian di dalam hati Ines, Brayen benar-benar sangat menyesal, membuat gadis itu kecewa. "Brayen, lo ngapain ke sini?" Kening Brayen berkerut, menatap Rio dengan tatapan tak terbaca, lalu kembali diam menghiraukan laki-laki yang berdiri di sampingnya. "Lo ngapain?! Harusnya lo di rumah sakit, jagain Aluna!" "Ngapain? Dia usir gue kok!" "Kenapa lo mau diusir sama dia, harusnya lo temenin dia! Lo lupa dia lagi mengandung anak lo, darah daging lo!" Brayen berdecak, lalu tertawa sarkastis. "Oh ya? Gue nggak yakin itu anak gue!" "b******k!" Rio kembali menghajar Brayen, memukul kembali luka memar yang belum sembuh. "Lo pikir adek gue cewek apa, b*****t!" Rio kembali menoyor pipi Brayen, menbuat pria itu terseungkur di atas tanah, Rio benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya lagi, Brayen benar-benar sudah kertelaluan. "b******n!" Brayen yang suah emosi, ikut kembali membalas pukulan Rio, membuat Rio membuang muka, keduanya sudah berkutat dalam emosi yang saling mendidih, pukulan berbalas terulang beberapa kali, Brayen tidak bisa menahan emosinya lagi, hingga menghajar Rio berkali-kali. "Lo yang udah ngerebut Ines dari gue, jadi gue mau kehancuran lo, kehancuran lo itu cuma saat liat adik lo hancur, stres, terus mati dengan cara menyedihkan!" Rio kembali menendang kuat perut Brayen hingga tergolek di atas lantai, Rio langsung menindih tubuh Brayen menghajar wajahnya berkali-kali, hingga bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar. "Harusnya lo sadar, lo udah beristri. Gue nggak pernah merebut perempuan itu dari lo, gue jadian sama dia saat hubungan kalian udah kandas!" rasanya Rio benar-benar ingin membunuh Brayen saat itu juga, laki-laki itu benar-benar menganggap adiknya seperti sampah yang hanya dibuang. "Gue nggak perduli!" "Oke, setelah Aluna melahirkan! Lo boleh ceraikan dia! Gue nggak akan pernah sudi, adek gue menderita di tangan laki-laki busuk kayak lo, dan lo boleh bebas, milikin Ines semau lo, gue bakal putusin dia." Brayen tertawa, apa yang ia inginkan mudah didapatkan. Dengan senang hati, akan menunggu saat itu tiba, otaknya benar-benar sudah tidak waras, cinta telah membuat buta, memaksakan kehendak. "Dengan senang hati, bro. Hebat, lo lebih sayang sama adek lo." "Jelas, karena otak gue masih bia berpikir dengan waras, dan gue pastiin, seumur hidup lo, lo nggak bakal pernah bisa ketemu sama anak lo, dan saat itu terjadi, lo akan menyesal, gue adalah orang pertama yang akan menertawakan kehancuran lo!" "Gue nggak perduli sama anak itu, meski gue harus dibuang dari keluarga gue, gue nggak perduli, karena gue bisa ngerebut Ines dari, Rio." Rio mengepalkan kembali tanganya, lalu melangkahkan kakinya, tidak ingin terlanjur emosi hingga gelap mata dengan menghabisi nyawa Brayen. *** Rio baru saja sampai di dalam ruangan Aluna, tadi ia mendapatkan kabar Aluna mengamuk tidak jelas, hingga terpaksa diberi obat penenang. Dengan langkah pelan, Rio berjalan mendekati tempat tidur Aluna, mengelus rambutnya pelan, wajahnya begitu lelah, mataya sembab seperti habis menangis, Breyen benar-benar berhasil menghancurkan Aluna, jika Om Arif tahu, mungkinkah papahnya itu mau mengakhir perjodohan mereka? "Kak, Rio..." Aluna mengerjabkan matanya, bisa melihat wajah memar Rio dengan jelas. "Maaf, ya. Kakak udah ganggu kamu." "Kakak kenapa?" Aluna bakik bertanya, sangat terkejut dengan wajah Rio yang memar akibat bekas pukulan. "Kakak nggak apa-apa, biasa, ini anak laki-laki." "Kakak bikin aku khawatir, siapa yang udah lakuin ini, kakak dikeroyok pereman?" "Ya, tadi kakak bantu ibu-ibu hamil kena copet, kakak inget kamu, jadi kakak nggak tega, kakak bantuin deh." Rio kembali tersenyum, meyakinkan Aluna yang sempat ragu. "Kamu tadi kenapa? Dokter bilang kamu marah-marah, kenapa?" "Kak, kalau aku minta cerai, kira-kira, papah marah nggak ya?" Terdengar helaan nafas berat dari mulut Rio, "emangnya kenapa?" "Aku capek hidup sama dia." "Nanti kakak bilang sama papah dan mamah." Aluna menatap Rio dengan tatapan nanar, "tapi, kak..." Kening Rio berkerut. "Kenapa?" "Aku juga nggak bisa pisah sama dia segampang itu, nggak tau kenapa, keinginan aku berpisah sama dia, udah nggak kayak dulu." keinginan itu melebur tanpa sebab, bahkan Aluna sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sesang terjadi. "Jangan bilang, kamu cinta sama dia." "Aku rasa, ini akibat kehamilanku, bikin aku nggak bisa berfikir jernih, mungkin setelah anak ini lahir, tekat aku bisa balik kayak dulu." Rio tersenyum, lantas membawa Aluna ke dalam pelukanya, mencium puncak kepala Aluna dalam, ia benar-benar sangat menyayangi Aluna. "Kakak sayang sama kamu, kakak nggak pingin kamu diperlakukan seperti itu sama dia. Kamu bisa pegang ucapan kakak, laki-laki itu akan menyesal." Aluna hanya mengangguk, terlalu nyaman berada dalam pelukan Rio. "Kamu janji sama kakak, jangan keliatan lemah di depan dia. Itu semua bakal bikin dia semakin  ngelukain kamu, Al. Kamu tetap bersikap kayak biasa sama dia." "Iyaa, kak. Aku tahu." "Yaudah, sekarang kamu istirahat lagi ya. Kakak bakal temanin kamu di sini." "Makasih ya kak, cuma kakak yang bisa ngertiin aku, aku nggak tau apa yang bakal terjadi, kalau kakak nggak ada, mungkin aku nggak punya kekuatan untuk berdiri di sini, apalagi, mamah sama papah nggak pernah perduli sama aku." "Kamu jangan bicara gitu, Al. Ada atau enggaknya kakak di samping kamu, kamu harus tetap jadi Aluna yang kuat, songong dan nyebelin, bikin siapaun gregetan sama, kamu." Rio menarik kuat hidung bangir Aluna, membuat gadis itu menjerit menahan sakit. Ia benar-benar sangat beruntung, memiliki seorang kakak seperti Rio, laki-laki yang selalu melindunginya. "Tapi, aku akan terus butuh kakak." "Aluna sayang, kakak nggak mungkin selamanya bisa bantu kamu, makanya kamu jangan pernah terlihat lembek." Aluna hanya mengangguk, ada ketakutan yang tidak jelas membungkus pikiran Aluna. "Yaudah, kamu istirahat, kakak tidur di sana." Rio menunjuk ke arah sofa, Aluna hanya mengangguk. Kepala Rio benar-benar terasa sakit, akibat pukulan kuat dari Brayen yang menghepaskan kepalanya pada tanah yang keras, seolah menggerogoti, benar-benar pening. "Aku sayang banget sama kakak." lirih Aluna pelan, lalu ikut berbaring, kembali menutup mata seperti sebelumnya. Sementara Rio, membiarkan sakit kepala yang begitu menusuk, memilih tetap berbaring di sana. *** Pagi-pagi sekali, Aluna terbangun dari tidurnya, mengangkat setengah kepalanya, lalu mengintip Rio yang masih berbaring di atas sofa. "Kak..." Rio tidak menyahut, seolah-olah begitu nyenyak dalam tidurnya. Aluna beranjak dari tempat tidur berniat untuk menyelimuti Rio. Tapi, ada yang mengganjil saat beberapa detik Aluna memandang jawah Rio, laki-laki itu sangat pucat. "Kakak sakit?" Aluna menyentuh pipi Rio, kulitnya dingin, menbuat Aluna bagaikan tersambar petir, seperti menelan biji durian, Aluna bahkan nyaris tidak bisa menelan air liurnya. "Kak, Rio!" panggil Aluna lagi, tapi nyatanya, Rio tidak merespons sedikit pun, samar-samar Aluna bisa melihat bercak darah yang keluar dari telinga Rio, begitu kental dan pekat. Lantas Aluna keluar dari dalam ruangannya, berteriak mencari dokter di lorong rumah sakit, tidak memerdulikan rasa sakit yang kini mulai menyerang perutnya, pikirannya mulai kalang kabut, berlari bingung entah kemana, di dalam pikirannya hanya ada Rio, berharap laki-laki itu baik-baik saja. "Sus... Susss tolong sus, tolong kakak sayaaa." Aluna sudah menangis, menatik suster secara paksa. "Mbak, iyaa mbaa tenang." Sambil setengah berlari, Aluna tidak melepaskan genggamannya pada suster. Sampai di ruangan Aluna, suster langsung mengecek kondisi Rio, tidak menemukan denyut nadinya. Lantas suster itu langsung berlari keluar, meminta bantuan perawat Alan yang saat itu melintas di depan ruangan Aluna, dengan cepat mereka membawa Rio ke UGD, harus mendapatkan pertolongan. "Kamu jangan bicara gitu, Al. Ada atau enggaknya kakak di samping kamu, kamu harus tetap jadi Aluna yang kuat, songong dan nyebelin, bikin siapaun gregetan sama kamu." "Aluna sayang, kakak nggak mungkin selamanya bisa bantu kamu, makanya kamu jangan pernah terlihat lembek." Kalimat itu seolah menjadi pesan terakhir yang Aluna dengar, ia tetap menangis di depan ruangan itu, rasanya waktu berjalan begitu lamban, Aluna tidak ingin terjadi hal buruk dengan Rio. Setelah beberapa menit, dokter keluar dengan raut kesedihan, diikuti oleh dua suster di belakangnya. "Dok, kakak saya gimana?" Dokter itu mendesah pelan. "Kita terlambat, harusnya ia ditolong cepat." "Maksud dokter apa?!" tanya Aluna setengah berteriak, lalu berjalan mendekati dokter itu. "Apaaa dok, kakak saya kenapa?!" "Ada beberapa pukulan serius di tubuhnya, apalagi di bagian kepalanya, membuat beberapa syaraf di kepalanya pecah dan mengalami pendarahan di otak. Kerusakan otak yang dialami sangat serius, hingga menyebabkan ia kehilangan nyawanya." jelas dokter itu, dunia Aluna seakan runtuh begitu saja, siapanyang tega memukuli kakaknya hingga kehilangan nyawa, bahkan Aluna sediri tidak habis fikir, kakaknya hanya menolong seseorang, tapi kebaikannya justru malah membuka lebar gerbang kematiannya. Alna tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya, apalagi rasa sakit di bagian perutnya, Aluna tumbang, hingga tidak sadarkan diri. *** Bersambung. Brayen, bunuh Rioooo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN