Rasanya seluruh tulangku lolos seketika. Tubuhku lunglai, mendapati fakta Bella yang kusayangi dan kucintai sampai ke relung hati bukan anak biologis ku. Langkahku gontai meninggalkan tempat praktek Farhan. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk d**a. Kuratapi nasibku yang salah menitip hati pada sosok perempuan penghianat seperti Mirna. Kutangisi ketololan ini yang telah menukar sebongkah berlian dengan seonggok sampah seperti Mirna. Ya, Mirna hanyalah sampah, atau lebih dari itu. Dengan sisa tenaga aku membuka pintu mobil yang kuparkir di halaman tempat praktek Farhan. Aku lama termenung di belakang kemudi. Napas rasanya sesak dengan d**a berdenyut, terbayang wajah lucu Bella yang menangis dan tertawa. Wajah mungil yang mewarnai hari-hariku yang beku bersama Mirna menjadi sedikit be

