“Bagaimana semua ini bisa terjadi?!” Brak! Tangan menabrak meja dengan kekerasan, bunyinya melengking menyebar ke setiap sudut ruangan. Matanya membelalak ke arah Riko dan Dante yang kepalanya menunduk, ragu-ragu mengangkat wajah. Jantung berdebar kencang, benak tergelincir. Bagaimana kalau Cantika menyadari tentang adiknya? Wanita itu pasti tidak akan diam, pasti akan menggali semuanya sampai ke akar-akarnya. “Ceroboh!” Suaranya menggelegar. “Sudah kubilang, mainlah dengan hati-hati. Walau dia lemah, tak punya kekuatan melawan ku, bukan berarti kalian bebas bawa mobil sialan pria itu ke jalan raya!” “Tuan, dia tidak tahu apa-apa,” ujar Riko dengan suara yang gemetar, tubuh sedikit bergoyang. “Dia yakin mobil itu bukan milik Keenan. Saya sudah menjelaskannya.” Dante mengangguk cepat.

