Tubuh Cantika langsung membeku, otot-ototnya menegang sampai terasa sakit. Dia menoleh perlahan, jari-jari menggenggam batu kecil yang masih tergenggam di tangannya dan mendapati Dante berdiri di belakangnya, tatapannya datar tapi tajam seperti pisau yang siap menusuk. “Kamu ngapain disini?” tanya Cantika, suaranya terdengar pelan dan bergemetar, seolah napasnya mau terputus. Sontak beberapa pria yang berada di dalam gudang langsung melotot, mata mereka membelalak. Tak ada yang menyangka Cantika akan datang ke tempat yang sunyi dan kumuh ini. “Bukankah harusnya saya yang mengatakan itu, Nona?” balas Dante, suaranya datar tapi penuh tekanan. “Anda ngapain berada di sini? Tuan Orion pasti tak suka jika Anda melewati perintahnya—dia sudah larang Anda keluar tanpa izin.” Cantika menghembus

