Cantika senyumnya melengkung lembut, tapi pandangannya terjepit pada giok hijau yang tergenggam di tangannya. Ia memalingkan wajah, memperhatikan keringat yang menetes di pipi nenek, mengikuti lekukan usia yang dalam. “Nek, bukankah ini terlalu banyak? Giok ini milikmu. Aku tidak berhak menerimanya.” “Tidak, ini cuma sedikit dibanding kebaikanmu pada nenek.” Tangan nenek menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan. “Terima kasih, Nak. Tanpa kamu, cucu ini sudah tidak ada.” Cantika menunduk, mengangkat tangan nenek lalu mencium pucuk tangannya. “Sekarang saya pamit dulu. Semoga cucu Nenek segera sembuh.” Nenek hanya mengangguk, bibirnya bergetar seolah ada kata-kata yang terperangkap di tenggorokan. Tapi Cantika sudah melangkah, langkahnya semakin cepat. Dadanya terasa sesak, menginga

