“Ahh!” Lenguhan itu keluar bukan karena kesakitan, melainkan karena Orion menahan rahangnya dengan jari-jari yang kuat sebelum mencumbunya dengan kekerasan yang terkontrol, membuat Cantika tergelincir ke dalam sofa. Udara di ruang tengah villa tiba-tiba terasa padat, dipenuhi napas mereka yang mulai kencang. “Mas, nanti ada yang masuk,” ujar Cantika dengan suara yang tersedu, bibirnya masih tertekan oleh ciuman Orion yang tak mau berhenti. Orion menjauh sebentar, matanya membelakangi Cantika dengan cahaya yang gelap dan mendalam. Ia terkekeh. “Kau terlalu banyak berpikir, sayang. Villa ini milikku. Tidak ada yang berani masuk tanpa izin. Yang seharusnya kau khawatirkan adalah … apakah kau cukup kuat untuk menahan aku?” Tanpa menunggu jawaban, ia menunduk dan menggenggam bukit kembar C

