Tubuh Cantika serasa remuk redam. Ia mencoba menarik selimut dengan tangannya yang memucat dan gemetar. Tapi sebuah tangan kuat sudah lebih dulu menahan pergerakannya, tekanan yang cukup membuatnya terhenyak. Ia menoleh perlahan, hatinya langsung terasa seram melihat Orion yang sudah berada di atas tubuhnya, tubuhnya menutupi cahaya dan membuatnya terhimpit. Ruang di bawahnya seolah menghilang. “Aku lelah, Mas,” ucap Cantika dengan suara yang lirih dan tersedu, mata memandangnya dengan harapan yang tipis. Orion mendekat perlahan, hingga napas mereka saling beradu di udara yang padat. Matanya gelap dan kosong, tanpa secercah belas kasihan. “Kau lihat wajahku?” katanya dengan nada yang dingin seolah es. “Apakah aku terlihat peduli?” Cantika menahan napas, dadanya terasa sesak. “Mas, sedi

