“Dia hanya menghubungiku, menanyakan kerjaan saja. Lagipula, dia bilang, ‘tidak ingin bertemu denganmu lagi!’” Kalimat itu benar-benar menggema di telinganya, bergema berulang-ulang sampai membuat kepalanya terasa pusing. Haruskah Cantika mempercayainya? Atau justru malah sebaliknya, apakah itu cuma alasan Orion buat melarang dia bertemu adiknya? Ia duduk di pinggir ranjang, tubuhnya masih pegal dan lelah dari semalam, tapi pikiran itu tidak bisa terhenti. Perlahan, ia turun dari ranjang tidurnya dengan hati-hati, takut membuat suara yang bisa membangunkan Orion. Langkahnya ringan melintasi karpet, matanya terus menatap pria itu yang masih tertidur dengan wajah yang tenang. Gegas ia meraihnya, membukanya secara cepat, tapi layar ponsel itu terkunci dengan kode. Jantungnya berdebar ken

