Tiga hari. Tiga hari tanpa secercah kabar dari Keenan, hingga Cantika terpaksa berbohong pada Orion untuk menempuh perjalanan yang melelahkan hanya untuk sampai di depan gerbang rumah yang dulu menjadi tempat mereka bermain bersama. Setiap langkahnya dipacu oleh harapan yang tersisa hanya harapan menemukan jejak adiknya, atau setidaknya melihat wajahnya sekali lagi. Rumah di hadapannya nampak sepi secara mengerikan. Tak ada bunyi suara, tak ada cahaya yang menyala, seolah dunia di dalamnya telah berhenti berputar. Debu menutupi setiap sudut, dari jendela yang kusam hingga tangga yang dulu selalu mereka lari-lari. Kening Cantika mengkerut, benaknya penuh pertanyaan. Apa yang terjadi di sini? “Keenan …! Ini kakak, aku ada di luar!” teriak Cantika, tangannya terentang menuju knop pintu

