Bab 42

1058 Kata

Tubuh Cantika luruh sejenak di lantai kamar bawah, tulang punggungnya menabrak ubin dengan bunyi yang perlahan tapi menyakitkan. Matanya sudah berlinang air mata sebelum ia menyadari, tetesan demi tetesan menetes ke lantai tanpa dia sadari, dan ketika jari-jarinya yang gemetar sekuat tenaga menyentuh kepala adiknya yang tergeletak, seluruh tubuhnya bergetar lebih parah. Kulit Keenan dingin seperti es yang baru dikeluarkan dari lemari es, tanpa secercah panas yang menyisakan harapan. “Adek,” suaranya pelan tapi bergetar. “Kok kamu disini? Kok kamu—” Isak tangis meledak sebelum kalimat selesai. Tenggorokannya tercekik seolah dirantai duri tajam, pandangan mengabur sampai tidak bisa melihat wajah Keenan yang pucat seputih kertas dengan mata yang melotot tak bernyawa. “Keenan, plis … ja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN