Hari itu IGD sedang kacau. Suara langkah buru-buru, aroma alkohol medis, dan teriakan pasien bercampur menjadi satu. Cantika baru saja selesai mengisi berkas saat teriakan keras menggema dari lorong. “Dokter! Tolong …. ada yang luka parah!” Ia menoleh dan melihat dua pria menompang seseorang dengan darah berceceran di lantai. Cahaya lampu fluorescent memantul di wajah pria itu begitu pucat, marah, dan menyimpan tatapan yang tajam bahkan dalam keadaan sekarat. “Baringkan dia di sini,” ujar Cantika cepat. Begitu tubuh itu diletakkan di ranjang, Cantika mendekat untuk memeriksa nadi. Denyutnya lemah, tetapi bukan itu yang membuat ia berhenti sesaat. Pria itu menatapnya dengan mata yang sangat gelap. Bukan tatapan meminta tolong. Tatapan itu seperti sedang menilai, mengukur, bahkan mencu

