Bab 19

1072 Kata

Ingatannya runtuh seperti daun kering yang jatuh satu per satu. Cantika berdiri mematung di kamar, napasnya tercekat. Ia meraih bingkai foto di meja, foto yang diambil bertahun setelah Tuan Danu tiada, tapi senyum Cantika di sana berasal dari kenangan yang baru saja muncul di benaknya. Ia menyusuri wajah Orion dengan ujung jarinya, suaranya pecah pelan. “Aku … selalu jatuh cinta padamu, Mas. Sejak hari itu.” Kalimat itu menggantung di udara—manis, getir, dan menakutkan sekaligus. Ia tak pernah menyangka, jika jatuh cinta dengan Orion malah menuntunnya seperti ini. Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekati pintu. Cantika menoleh, tubuhnya segera menegang dengan perasaan gusar yang tak bisa dijelaskan. Pintu terbuka perlahan, mengungkap wajah Orion yang datar. Tangannya memegang cangkir a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN