Tangan Orion terkepal erat sampai uratnya menonjol, ketika nama dalang itu menggema di telinganya. Ia menoleh cepat, mendapati Cantika yang berdiri diam di belakangnya—tubuhnya ramping terlihat tersendat di ruangan yang masih terang sinar pagi. Napasnya langsung memburu, lalu ia mendekatinya dengan langkah perlahan, sampai tak ada jarak lagi di antara keduanya. Tubuh Cantika langsung mengeras. Ia tak berani menatap, hanya sibuk meremas ujung bajunya yang sudah kusut karena ketakutan. “Kemarin kau dari mana?” tanya Orion dengan suara datar, tapi nada itu cukup membuat Cantika bergetar hebat. “A-aku ….” “Jangan mengelak, Cantika!” teriak Orion, suaranya naik satu oktaf, menggema di kamar dan membuat gadis itu terkejut. Cantika menundukkan kepala lebih dalam. Tubuhnya berguncang karena s

