Keenan berdiri di depan pintu kantor yang tertutup rapat, tangan sudah siap mengetuk. Jantungnya berdebar kencang, ia harus segera bertemu kakak Cantika untuk memberitahu sesuatu yang penting. Dengan napas yang sedikit terengah, dia membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. “Kak—” panggilnya dengan suara pelan, sambil menoleh ke arah meja besar di sudut ruangan. Tidak ada siapapun kecuali seorang pria yang berdiri menghadap jendela, bajunya rapi dan posturnya tegap. Pria itu berbalik perlahan, dan Keenan segera menyadari: itu bukan kakak Cantika. Itu Orion, kakak iparnya yang selalu membuatnya merasa cemas. Matanya Orion memancarkan amarah yang menyala, tatapannya tajam seperti belati yang siap menusuk. Keenan terkejut mundur sejenak, segera mengurungkan niat memanggil. Bibirnya sedi

