Gelap. Itu yang pertama kali menyelubungi Keenan ketika matanya perlahan terbuka. Tubuhnya membeku, sakit menyebar dari ujung kepala sampai jari kaki terutama perut yang terasa seperti tertusuk dan mulut yang masih menyumbat darah hangat. Lalu, bau menyebalkan menyerang indra penciumannya: anyir, lembab, dan bau busuk yang terasa sudah lama. Dia meraba-raba dengan tangan yang gemetar. Jari-jarinya menyentuh dinding kasar dan basah, lantai yang licin seperti terlapisi lendir. Ah, ya. Dia ingat sekarang. Dia berada di basement rumah Orion. Artinya, kakaknya ada di sini juga. “Tidak …,” bisiknya dengan suara tersedak, tubuhnya langsung menggigil. Keenan berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. Badannya terjatuh kembali ke lantai, napasnya terengah-engah seperti orang yang kehabisan u

