“Sayang ….” Sebuah tangan besar tiba-tiba memeluknya dari belakang, suaranya begitu familiar yang membuat d**a Cantika terasa sesak sejenak. Tubuhnya langsung membeku di tempat. Selama ini, dia hanya pernah dipanggil dengan nama, atau kadang tidak disebut sama sekali. “Aku mempunyai suatu hadiah untukmu,” lanjutnya, suaranya melembut seperti tidak pernah ada sebelumnya. Seulas senyuman langsung meluas di bibir Cantika. Bahkan sebelum melihatnya, hatinya sudah berdebar kencang. Saat sebuah kalung dihadapkan ke lehernya, ia melihat liontin bunga yang dibalut permata, kilapnya membuatnya terkesan begitu berkelas dan mahal. Cantika perlahan menyentuh kalung itu dengan jari-jari yang lemah. Rasa bahagia langsung menyeruak hingga membuat matanya berkaca-kaca. Gegas ia menoleh, memandang Orio

