"Lawan aku b*****h!" teriak Palguna geram.
Lelaki dengan kekuatan ilmu hitam, seperti tengah mengerahkan kemampuannya.
"Untuk apa kau selalu mengejar aku?" Astageni menyipitkan matanya.
"Karena aku tau kotak hitam gaharu itu, kau yang membawanya. Sebaiknya berikan sekarang juga. Atau … kedua muridmu akan aku buat mati!"
"Coba saja kalau kau bisa!" teriak Astageni pantang menyerah.
Tiba-tiba, Asena muncul dari arah belakang. Mengejutkan mereka berdua.
"Ohhh, ternyata kau anak muda. Ilmu yang kau miliki cukup hebat. Sayangnya belum tentu mampu melumpuhkan aku."
“Kita lihat saja Palguna. Lelaki sombong dan kejam sepertimu pantas untuk dilibas!”
“Berani juga nyalimu. Maju kau!”
Asena bergerak maju dan saling berhadapan dengan Palguna.
"Apa kau mau bertarung denganku?" tantang Asena.
Tawa Palguna menggelegar bagai membelah tanah yang mereka pijak. Pertanyaan polos dari Asena membuat dirinya semakin pongah.
"Kau menganggap remeh aku anak muda!" Suara parau Palguna terdengar tegas.
"Asena pergilah!" teriak sang Kakek.
"Tidak, kakek!" Asena masih bersikeras. Ternyata dia sangat keras kepala.
"Asenaaa, kau--" Belum selesai sang Kakek berucap.
Palguna menghentakkan kedua kaki. Di kedua tangannya terdapat gelang yang membuat bunyi menyakitkan telinga mereka. Tak hanya sekali. Dia terus menghantamkan tangannya di sisi kanan kiri. Hingga kedua gelang itu saling beradu sangat keras.
Praaaang!
Praaaang!
Praaaang!
Suaranya sangat memekakkan telinga. Siapa saja yang mendengar, bisa mati bediri. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu tenaga dalam yang baik. Mampu menghindar dari kekuatan bunyi ilmu yang dimiliki Palguna.
Asena dan Astageni ,masih berdiri terdiam. Mereka melawan kekuatan Palguna dengan tenaga dalam yang mengalir dalam tubuh mereka.
“Jangan terpusat pada bunyi itu, Asena. Dengarkan angin yang mendekati dirimu. Kerahkan semua kekuatan angin yang berada di sekitarmu. Dengan begitu kau tidak akan mendengar suara itu lagi.”
“Baik, Kek!”
Baik Astageni mau pun Asena, tidak terpengaruh dengan bunyi yang bisa membuat siapa saja mati.
Tampak beberapa prajurit yang mendengar bunyi gelang tersebut, langsung terkapar di tanah. Dari mata,. Hidung dan mulut mereka meneteskan darah segar.
Bahkan dalam waktu yang bersamaan, mereka juga bisa melihat, tubuh Palguna yang mulai berubah. Suaranya mengaum kencang.
"Si-siapa dia sebenarnya, Kek?"
"Dia keturunan dari siluman serigala, Asena. Kau harus berhati-hati. Cakar yang ada di tangannya mengandung racun paling tinggi di dunia persilatan."
"Sebaiknya Kakek mundur. Biar aku yang hadapi."
"Kau melupakan janji kamu, anak muda! Ilmu yang kau miliki belum bisa menyamai dia."
Sejenak Asena terdiam.
"Dan lagi Apsari sedang terluka. Aku meminta padamu Asena, pergilah sekarang!"
"Tidak, Kek. Tak akan aku biarkan meninggalkan Kakek seorang diri melawan dia."
"Kau jangan bodoh!"
Sebuah serangan kuku beracun mengarah pada mereka. Untung keduanya dengan cepat berkelit. Secepat kilat sang kakek bergerak maju, mendahului Asena.
Lelaki tua itu mengerahkan segala kekuatannya. Menghantam dan menerjang ke arah Palguna. Sebagian tubuh lelaki setengah siluman itu, ditumbuhi bulu lebat. Giginya berubah menjadi taring yang berkilat tajam. Secepat kilat Asena mencabut pedangnya.
"Aku tak akan menyerah dengan b******n tengik ini," gumam Asena geram.
Tanpa memedulikan perintah sang kakek. Asena turut bertarung menghadapi Palguna.
Dirinya melompat tingggi, lalu menukik tajam. Kemudian menghujamkan pedang ke arah d**a Palguna. Tak pernah dia sangka. Lelaki bengis itu mengetahui gerakannya. Dengan mudah dia menangkap ujung pedang Asena. Mengangkat dengan tinggi, hingga tubuh Asena ikut terangkat.
"Mati kau anak muda!!!" teriak Palguna.
"Aku tak akan menyerah dengan b******n tengik ini," gumam Asena.
Tubuh Asena terlempar cukup jauh. Membentur batang pohon. Membuatnya terpental dan tersungkur ke tanah.
"Aaaarghhh!" Dia mengerang kesakitan.
"Asenaaaaa!" Apsari berteriak keras. Dia ingin berlari membantunya. Namun apa daya, kakinya semakin sulit untuk digerakkan. Entah kenapa?
Beberapa kali Asena terbatuk-batuk dan muntah darah. Dia merasakan seluruh tubuhnya yang dingin seketika. Seperti ada angin yang bergerak masuk memenuhi setiap rongga tubuhnya.
Tarikan napas Asena, terlihat naik turun dengan cepat. Segara dia duduk bersila dan merapatkan kedua telapak tangannya di depan d**a. Asena berkonsentrasi penuh untuk memulihkan kembali, tenaga dalamnya yang terkuras.
"Aku harus bisa membantu Kakek," ucapnya lirih. Dari raut wajahnya terlihat dia sedang menahan rasa sakit. Sesekali Asena meringis dan mengusap kasar darah di bibirnya. Tulangnya terasa remuk redam. Serasa patah dan tercabik-cabik.
'b*****h kau Palguna!' umpatnya dalam hati.
Tubuhnya mulai bergetar hebat. Asena bisa merasakan seperti ada sebuah dorongan yang menyentak keluar. Dia berusaha untuk mengikutinya. Membiarkan energi yang ada terus bergerak. Seperti melesak memenuhi setiap aliran darah dan pori-pori dalam sekujur tubuh.
'Kekuatan apa ini?' tanya Asena dalam hati. Dia membiarkan tubuhnya mengikuti gerakan dalam setiap aliran darah menjadi sebuah energi. Seketika tubuh Asena terasa ringan. Teramat sangat ringan jauh dari sebelumnya. Seolah dia mampu terbang dan bergerak di atas angin.
Asena semakin penuh berkonsentrasi. Dia ingin kekuatan yang entah dari mana asalnya itu. Mengalir dalam setiap jengkal tubuhnya. Sayup dia mendengar suara yang berbisik,
'Ringankan tubuhmu. Ikuti pergerakan angin dan jadikan kekuatan yang bisa kau gunakan untuk menyerang musuhmu, Asena.'
Asena mengangguk pelan. Tanda dia mengerti apa yang harus dilakukannya saat ini.
Sedangkan dari jarak yang cukup jauh. Asena bisa mendengar dengan sangat jelas. Kalau sang kakek kembali menyerang Palguna. Lelaki yang tubuhnya tiga kali lipat dari sang kakek itu pun bergerak sangat lincah.
Kekuatan yang dimiliki lelaki tua itu, mampu membuat Palguna kalang kabut. Dia mulai kewalahan. Apalagi ajian Cakar Maut yang dimilikinya. Mampu merobek sebagian wajah Palguna. Hingga darah segar terus menetes dari wajahnya yang keras dan bengis. Rahang kokohnya mengeras menahan kesakitan.
"Kau b*****h tengik! Telah menghilangkan ketampanan wajahku b******k!" teriak Palguna dengan suara bergetar.
"Aku semakin tak segan membunuhmu!" sahut Astageni.
Terdengar tawa terbahak-bahak Palguna yang membahana. Yang seolah luka di wajahnya, tak dirasa.
"Asal kau mampu membunuhku, kakek peyot!"
Palguna melompat tinggi dengan menyiapkan cakar-cakar tajam yang penuh racun. Sang kakek pun terlihat sangat waspada. Gerakan musuhnya kali ini di luar perkiraan.
Palguna kembali melesat dengan sangat cepat. Hanya sekali gerakan dia sudah mampu mematahkan serangan Astageni. Sang kakek terus menyerang dan mencari akal bagaimana bisa melumpuhkan manusia setengah siluman itu. Tanpa harus terkena cakaran beracun darinya.
Melihat sang kakek mulai kewalahan. Apsari ingin membantunya. Dia berusaha untuk merangkak, mendekat. Sedangkan dari kejauhan tampak Asena masih memulihkan kondisinya.
"Aku harus menyerang dengan pedangku!" ujar Apsari.
Sang Kakek tengah menangkis cakar-cakar tajam Palguna, yang menyerang dengan membabi buta. Langkahnya terseret dan terus bergerak mundur. Apsari yang melihat bertambah panik dan cemas.
Tepat ketika Palguna membelakangi Apsari. Gadis itu berusaha sekuat tenaga bergerak. Dia melesat tinggi menggunakan sisa-sisa kekuatan dirinya.
"Mampus kau b*****h!"
Apsari berhasil menghunuskan pedangnya ke punggung Palguna.
Kraaakkk!
Yang ada pedang itu patah menjadi dua. Sontak Palguna berpaling dengan wajah yang geram. Hanya sekali mengibaskan tangan. Tubuh gadis itu, terpental dan terhempas ke tanah.
Buuugh!
"Aaaahhhh!"
“Apsariii!” Sang kakek tersentak.
Namun dia tak bisa langsung menolongnya. Pertarungan dirinya dan Palguna sangatlah genting. Beberapa kali pukulan dia lontarkan pada musuh bebuyutannya. Akan tetapi, Palguna masih juga terlihat tangguh. Bahkan luka cakaran di wajahnya tak mampu menghalangi kekuatan yang dia miliki.
Lelaki keturunan siluman srigala itu. Semakin ganas menyerang sang kakek. Keduanya terlihat melompat tinggi ke udara dan saling menyerang menggunakan kekuatan mereka masing-masing.
"Mati kau Kakek peyot!"
Bugh bugh!
Cruaaasss!
Kuku-kuku tajam beracun milik Palguna menghantam dan mencengkeram d**a sang Kakek. Begitu juga ajian Cakar Maut menancap pada d**a Palguna. Tubuh keduanya saling berputar cepat. Gerkan mereka saling mencengkeram kuat. Sampai sebuah hentakan kuat, bagai ledakan dahsyat membuat keduanya terpental cukup jauh.
Terdengar suara berdebum.
Duuummm!
Bruaaakkk!
Tubuh Palguna menghantam sebuah pohon. Yang membuat tumbang dan terbelah menjadi dua.
"k*****t kau. Ternyata ilmu kamu tak bisa aku buat main-main,” umpat Palguna kesakitan. Ajian Cakar Maut milik Astageni, merobek sebagian syaraf dan organ vital Palguna.
Astageni pun terhempas dan terjerembab ke tanah. Dia mengerang kesakitan. Darah kehitaman mulai menetes. Ujung jarinya mengusap darah segar itu. Sang kakek tau racun dari kuku Palguna telah mengalir dalam tubuhnya.
"Aku harus bisa membunuhnya."
Saat lelaki tua hendak bergerak. Asena sudah berada di sebelahnya dan mengangkat tubuh sang kakek.
"Asena!"
"Kakek tunggu di sini!"
"Ta-tapi, Asenaa!" Suaranya yang lirih, hampir tak terdengar.
Asena sudah melesat kencang. Melebihi laju kecepatan cahaya. Bagai membelah angin. Gerak tubuhnya menimbulkan embusan suara angin yang cukup keras.
Wussssh!
Asena tak pedulikan panggilan Astageni yang lemah. Hanya dalam sepersekian detik. Dia sudah berdiri di hadapan Palguna.
"Hadapi aku sekarang!"
"Kau lagi anak muda? Mending kau gabung dengan kerajaan Antaapura. Akan aku jadikan kau kepala pasukan elit kerajaan. Bagaimana?" Sembari memegang luka di bagian d**a.