"Kakaaaang!" teriakan Apsari terdengar kencang. Membuat Asena terpecah perhatiannnya.
“Apsari,” desis Asena lirih.
Asena yang tengah menghalau dan menerjang musuh dengan satu kali hentakan pedang yang berpadu dengan ajian Bayu Bajra. Melompat tinggi dan berlari ke arah Apsari yang terjatuh di tanah di hadapan Adiyaksa yang masih terbahak, menyaksikan Apsari yang tak berdaya.
Di tengah denting pedang yang saling beradu,
Sriiing!
Praaang!
Sriiing!
Hanya sekali gerakan, Asena sudah berada di depan Adiyaksa yang pongah.
“Apsari, kamu tidak apa-apa?”
“Hanya goresan kecil Kakang.”
“Goresan kecil? Yang ada kini racun itu mulai menjalar di dalam tubuhmu gadis cantik.”
“k*****t kau!”
Ciaaat!”
Asena menerjang tanpa memberi jeda pada lelaki itu. Mereka bertarung saling ingin membunuh. Walau tidak pernah mengenal sebelumnya. Wajah Adiyaksa terus mengeluarkan mimik yang mengejek pada Asena, seolah dia masih anak kemarin sore yang tong kosong nyaring bunyinya.
Asena abaikan ejekan itu. Dia terus melompat tinggi dan menukik dengan kececepatan cahaya layaknya burung srigunting yang sedang mencari mangsa.
“Rasakan ini!”
Pedang Sapto Delimo meluncur dengan kekuatan sangat tinggi mengarah pada Adiyaksa. Lelaki berjambang lebat itu terbelalak melihat kemampuan Asena yang sebelumnya dia remehkan. Dengan cepat dia menangkis serangan pedang Asena.
Sriiing!
Praaang!
Tanpa disangka pedang Adiyaksa terpenggal. Membuat lelaki itu smekain terperangah. Rasakan ini, Asena tanpa menggunakan pedang langsung menyerang dengan kekuatan Bayu Bajra. Kekuatan angin yang dimiliki Asena sedari kecil.
“Rasakan ini!”
Asena langsung menerjang dan menghantam ke arah d**a.
“Aaaarghhh!”
Membuat Adiyaksa terhempas dan terseret sejauh beberapa depa, hingga tubuhnya membentur pohon. Begitu juga dengan beberapa prajurit yang berada di sekitarnya, ikut merasakan kekuatan ajian Bayu Bajra. Mereka terhempas dan terpelanting ke tanah.
“Kakaaang, lihat!”
Beberapa orang prajurit tampaknya berhasil menyulut api di rumah Kakek Astageni.
“Mereka membakar rumah Kakek, Kakang!” teriak Apsari histeris.
Hanya dalam sekejap. Rumah sang kakek terbakar. Si jago merah melalapnya tanpa ampun.
"Kurang ajar kalian!" teriak Apsari yang bangkit langsung menghunus pedang dan menerjang mereka tanpa ampun.
“Apsari … jangan!” sergah Asena. Namun sang gadis tak peduli.
Terdengar beberapa teriakan para prajurit yang tertebas oleh pedang gadis itu. Tanpa kenal ampun, Apsari menyerang mereka. Melihat Apsari yang mulai kewalahan. Hanya sekali hentakkan kaki di tanah, Asena melesat dengan kecepatan yang tak mampu tertangkap oleh pandangan mata. Tiba-tiba, dia sudah berada di sebelah gadis itu.
"Kau tidak apa-apa Apsari?"
"Hanya goresan kecil Asena. Mari kita hajar mereka."
Kini para prajurit dengan jumlah puluhan telah mengepung mereka.
"Maju kalian semua!" tantang Asena.
"Seraaaang! Bunuh mereka berdua," teriak salah seorang kepala prajurit.
Hujan panah dan tombak beracun mengarah pada mereka berdua.
"Awaaaas, Apsari!"
Sebuah anak panah meluncur dengan kecepatan tinggi mengarah pada sang gadis yang mulai limbung, oleh luka akibat sabetan pedang Adiyaksa.
Dari jarak yang cukup jauh. Asena melesat tinggi dengan kecepatan yang luar biasa, dia mematahkan serangan anak panah yang mengarah pada Apsari. Namun, dia mendengar jeritan Apsari yang terkena anak panah lainnya. Yang menancap di paha kanan gadis itu.
"Aaaarghh!"
Sontak Asena melihat ke arahnya. Tubuh Apsari sudah terduduk di tanah mengerang kesakitan. Beberapa prajurit sudah menodongkan tombak tepat di jantungnya.
"Kau menyerah atau saudaramu ini mati!" ancam kepala prajurit mengarah pada Asena.
"Kau pikir mudah mengancam aku?"
"Jangan sombong kau! Dengan jumlah kami puluhan kau hanya berdua. Aku pastikan kau akan mati di ujung tombak kami!"
"Coba saja k*****t!"
Ciaaaattt!
Asena melompat tinggi, keluar dari lingkaran yang mengepung dirinya. Dia berusaha untuk mengecoh para prajurit untuk menjauhi Apsari. Setelah dirasa cukup jauh. Asena berdiri tegak di tengah kepungan mereka. Dengan tenang dia menyarungkan kembali pedang Sapto Delimo.
"Rasakan hantaman aku!"
Tangannya bergerak ke atas dengan terkepal. Matanya terpejam dengan embusan napas yang terdengar kencang.
"Tembakkan panah dan tombak kalian sekarang! Seraaaang ... anak muda itu!"
Para prajurit mulai mengerahkan serangannya pada Asena.
"Awaaas, Asenaa!" teriak Apsari dari kejauhan. Dirinya pun tak mampu berbuat banyak Apalagi dengan todongan tombak pada dirinya.
'Hemmm, sebenarnya aku bisa lepas dari dua orang prajurit tengik ini. Tapi, kaki aku benar-benar sakit! Benar-benar prajurit sialan,’ umpat Apsari kesal. ‘Sepertinya racun dari pedang bekel sialan iutu, telah merasuki badan aku. Kepalaku mulai berdenyut, napasku pun sepertinya sesak.’
Sedang dalam jarak cukup jauh,
"Ajian Bayu Bajraaaa!"
Kedua tangan yang mengepal, bergarak cepat menghantam ke arah mereka. Laju kecepatannya sebanding dengan kecepatan cahaya.
Sorot cahaya putih kekuningan menghantam siapa saja yang berada di dekat Asena. Angin kencang berembus sangat kuat. Merobohkan pohon hingga tercabut dari akarnya. Membuat para prajurit terlempar cukup tinggi dan terhempas ke tanah.
Asena sendiri tak menyangka jika dirinya memiliki kekuatan sedahsyat itu. Jelas aksinya menarik perhatian Palguna yang tengah bertarung dengan Astageni.
"Ternyata kau telah memiliki murid lelaki tua."
Astageni tak menanggapinya.
"Apa yang kau inginkan Palguna?"
"Berikan kotak itu, maka aku tak akan pernah lagi mengusik dirimu."
Sang Kakek tersenyum lebar. Dengan pandangan sinis, dia mengusir Palguna dari tempatnya. Lelaki jahat itu tertawa.
"Lawanlah aku kalau kau sanggup laki-laki tua!"
"Dari dulu aku tak pernah takut padamu b*****h!"
"b******n kau!" umpat Palguna, dengan kilat mata tajam mengarah Astageni. “Sudah puluhan tahun kita tak saling menyerang lagi, kini saatnya kau menyerahkan kotak peninggalan padepokan Bulus Putih!”
“Punya hak apa dirimu? Ini adalah milik KI Wasesa. Dia yang berhak, bukan dirimu dan begundal-begundal tengik pengikutmu!” tegas Astageni marah.
“Benar-benar b*****h kau lelaki tua!”
Keduanya saling menyerang dengan kekuatan tangan kosong. Tampak sang Kakek mengerahkan jurus Cakar Elang Penghancur Bumi.
Dari kejauhan, Asena melihat jurus yang dimiliki sang kakek.
"Kenapa dia tak pernah menurunkan ilmunya padaku?" tanya Asena memandang aneh pada lelaki tua itu. Lalu dia bergerak menuju Apsari yang semakin lemah. Dengan sekali gerakan, Asena menghantam cepat dua prajurit yang masih menodong Apsari.
Bugh!
Bugh!
"Mati kalian!"
Dua prajurit langsung terjengkang. Kekuatan Asena tak berbanding dnegan mereka.
"Kau tidak apaa-apa Apsari?"
"Pasti apa-apa, Asena. Lihatlah paha dan lengan aku ini! Semua snejata mereka beracun. Aku mulai merasakannya."
Asena terlihat cemas.
“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan racunnya agart tak menjalar, Apsari?”
“Jamur biru itu, Kakang.”
Teringat akan jamur yang diberikan oleh wanita bernama Sri, Asena merogoh kantong yang berada di balik celana.
“Ini kah?” Apsari mengangguk pelan.
Asena memberikan setangkai jamur pada gadis itu.
“Aku ambil sedikit Kakang. Ini terlaau banyak.”
“Tapi aku masih ada.”
“Simpanlah yang sebagian Kakang. Dalam perjalanan kita nanti, jamur ini akan bermanfaat sekali.”
Untuk kali ini, dia tak ingin mendebat Apsari. Karena apa yang dikatakannya benar.
"Duduklah bersandar di sini dulu. Aku akan membantu Kakek."
"Hati-hati Asena. Ilmunya sangat tinggi. Dia jahat dan licik pula."
"Baik, aku akan tetap membantu Kakek."
Masih dalam waktu yang sama. Di sisi lain, sang kakek tengah bertarung menghadapi Palguna yang tak mudah untuk dikalahkan.
Gerakan lelaki tua itu sangat cepat. Dia bergarak memutar. Melompat dan menerjang di saat Palguna lengah. Hantaman beruntun mendarat di punggung dan kepala lelaki bertubuh tinggi besar dengan rambut lebat di bagian dadanya.
Tak hanya hantaman, tapi juga cakaran yang penuh kekuatan dahsyat. Membuat tubuh Palguna terdorong dan terhuyung beberapa jengkal dari sang kakek.Cakaran dari Astageni, mengoyak sebagian d**a lelaki berwajah keras itu.
Darah menetes dari lukanya.
"Benar-benar b*****h kau, Astageni. Semakin tua kekuatan kamu bertambah hebat."
Astageni hanya menyeringai dan mendengkus geram.
"Lawan aku b*****h!"