SERANGAN PALGUNA

1009 Kata
"Ceritanya panjang, Asena. Karena berkaitan dengan Palguna. Orang yang mengkhianati kerajaan Saloka. Kotak ini menjadi buruannya bersama dengan gurunya. Jadi berhati-hatilah kalian! Siapa pun yang membawa kotak ini, mereka akan memburu sampai kapan pun!" Keduanya terhenyak dengan penjelasan kakek. Bersamaan dengan suara burung gagak yang sedari tadi terus berbunyi di atas genteng. Membuat Astageni menghentikan perkataannya. Dia mendongak sejenak. "Waktuku sudah tak banyak lagi. Dengarkan aku!" "Maksud Kakek apa?" Apsari tampak cemas. "Kamu jangan cemas, Nduk. Ini memang sudah waktu mengatakan semua." Seraya Astageni menepuk kotak yang berada di pangkuannya. "Kotak ini amanat dariku untuk kalian." "Memang isinya apa, Kek?" tanya Apsari yang sudah tidak sabar. Tangan Astageni tidak berhenti menpuk-menepuk kotak itu. Sesekali dia memandang pada Asena, dengan penuh pengharapan. Entah apa? "Aku tak berani membukanya. Dari dulu aku hanya menyimpan. Mungkin saat ini sudah waktunya. Kurasa kemampuan kamu sudah cukup untuk berkelana Asena. Kau harus menimba ilmu dari Bulus Putih. Kekuatan yang dia miliki, mampu untuk menghancurkan sebuah gunung berapi." "Bukankah nama itu sama dengan padepokan yang ingin aku cari, Kek?" Lelaki tua tersenyum. "Iya, dulunya begitu Asena." "Dulu?" "Iya, Asena. Tapi sekarang, Bulus Putih bukan lagi diisi orang-orang baik. Semenjak Ki Wasesa meninggalkan padepokan itu, semua menjadi kacau. Orang-orang Palguna yang berada di balik kekacauan itu. Kini, Bulus Putih hanya tinggal nama. Di sana telah dijadikan sarang ilmu hitam guru Palguna, Balabadra. Dia berasal dari negeri seberang timur laut kita. Ilmu yang mereka gunakan layaknya ilmu sihir yang sangat jahat, Asena. Kamu harus berhati-hati." "Baik, Kakek. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" "Dengarkan perkataan aku ini, jangan ada yang ngeyel!" Asena dan Apsari hanya bisa saling berpandangan. "Asena ada satu permintaan padamu, dariku." "Apa itu Kakek?" "Tolonglah jaga Apsari seperti kau menjaga adikmu sendiri. Paham?" "Adik, Kek?" protes Apsari. Lalu dia menoleh pada Asena. "Tapi, Kek?" Apsari terus mendebat sang Kakek. "Husssst! Dengarkan Kakekmu ini bicara, Apsari!" sentak Astageni keras. Membuat gadis itu tertunduk lesu. "Aku mengutus kalian untuk memberikan kotak ini, pada Ki Wasesa. Peninggalan dari padepokan Bulus Putih yang tersisa. Yang sangat dicari oleh Balabadra dan Palguna. Karena kotak ini juga mereka membumi hanguskan padepokan Bulus putih, dan merebutnya." Asena terperanjat saat mendengar cerita Kakek Astageni. "Memangnya apa isi dari kotak itu, Kek?" "Sudah aku katakan tadi, Asena. Bahwa aku tidak pernah membukanya, aku tidak berani sama sekali. Karena ini satu-satunya peninggalan Bulu Putih yang mampu aku selamatkan." Mereka berdua semakin tertegun mendengar kisah Astageni. "Sekarang pergilah kalian menuju arah barat, menuju gunung Lawu. Keberadaan Ki Wasesa, aku mendengar kabar jika dia berada di sana. Tapi, itu sudah puluhan tahun yang lalu. Semoga saja sekarang dia masih berada di sana." Astageni mengambil gulungan daun lontar. Dia mengguratkan potongan ranting yang tajam di atasnya. "Aku menuliskan surat untuknya. Terurtama perihal tentang kamu, Asena. Surat ini aku masukkan ke dalam kain bersama kotak hitam ini. Tolong jagalah dengan nyawamu, kotak ini. Jangan sampai jatuh pada tangan orang yang salah!" "Baik, kek. Aku akan menjaga dengan segenap hati dan jiwaku, Kek." "Bagus sekali anak muda! Sekarang kalian berdua pergilah. Perasaan aku sudah tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu dengan tempat ini. Sebelum terjadi kalian harus sudah pergi jauh!" "Ta-tapi ... Kek? Aku tidak mau membiarkan Kakek sendirian di sini!" Suara Apsari meninggi. "Jangan mendebat atau menantangku, gadis muda. Sudah waktunya kamu berkelana dan menimba ilmu. Jemputlah takdirmu, Apsari. Bersama Asena aku tenang melepasmu." "Ta-tapi, Kek?" "Pergilah sekarang kalian!" Tetap saja Asena dan Apsari tidak beranjak sama sekali dari tempat mereka. "Pergiii!!!" Belum sampai mereka beranjak pergi. Serangan tombak mulai menghujani mereka. Menembus dinding kayu dan bambu. Sontak mereka bertiga keluar dari rumah. Sebelumnya Asena masih sempat menarik tas kain dan menyelempangkannya. "Keluar kalian semua! Hadapi aku!" teriak Asena dengan suara lantang.   Tak lama, dari rimbunnya semak belukar dan pepohonan di sekitar rumah Astageni. Muncul ratusan orang prajurit dari kerajaan Antapura yang telah mengepung. Tampak seorang pemimpin dari mereka memakai kuda hitam. Wajahnya terlihat sombong dan bengis. Asena sudah bisa menebak kalau dia yang bernama Palguna, karena di bagian leher terdapat lencana Mahapatih dengan simbol kerajaandia Antapura. "Asena, Apsari! Pergilah kalian sekarang!" sentak Astageni. Bukan Asena kalau dia tak menolak perintah sang Kakek. Tanpa menghiraukan lelaki tua itu. Dia mulai menyerang para prajurit yang menembakkan panah. Segera Asena mencabut pedangnya. Denting pedang beradu dengan hembusan angin dan anak panah yang terhempas di tanah. Begitu juga dengan Apsari yang menghalau mereka dari sisi utara.Mereka berdua menghalau para prajurit yang mulai menyerang dengan tembakan panah api. Mmebuat Astageni tak bisa berucap sepatah kata. "Kami tidak akan pernah membiarkan Kakek, menghadapi semua ini sendirian!" teriak Asena. "Iya, Kakek! Kakang benar!" Ciaaaat! Apsari bergerak lincah. melompat tinggi dan menerjang musuh dengan menghunuskan pedang. Bergerak memutar dan membabat habis para prajurit satu persatu. "Kalian tidak akan aku biarkan melukai Kakek!" geram Apsari. Ciaaat! Gerakan gadis itu berkelebat cepat, menukik tajam dengan serangan yang membabi buta. Dia terus menyerang, sampai sebuah pukulan menghantam punggung Apsari telak. Bughh! Bughhh! "Aahhhhhh!" teriakan Apsari cukup keras terdengar. Gadis itu terjungkal dan tajuh bergulingan id atas tanah. Dengan cepat dia bangkit dan menghunus pedang pada seorang lelaki yang sudah berdiri di hadapannya. "Kita bertemu lagi gadis cantik!" "Kamu ... lagi?" "Iya. Aku Bekel Adiyaksa, yang telah terpikat denganmu sejak awal. Kamu lupa?" "Persetan denganmu!" Apsari langsung menyerang dengan lompatan yang lihai. Dia bergerak secepat cahaya, menyerang Adiyaksa yang memiliki kemampuan setara dengannya. Pertarungan diantara mereka sangat sengit. Denting pedang mulai beradu cepat. Sampai ujung pedang Adiyaksa mampu mneyentuh lengan Apsari, sehingga membuat pakaiannya terkoyak. "Ha ha haaaaa! Kulitmu ternyata putih bersih, Cantik. Asal kamu tahu, setiap pedang prajurit Antapura pasti beracun. Sekarang, kamu masih kuat bertarung denganku?" "Sialan kau, Adiyaksa. Sampai mati pun aku tak sudi, dan akan tetap menghunuskan pedang ini padamu!" Apsari tidak mempedulikan kesakitannya. Dia kembali bergerak cepat dan menyerang ke arah Adiyaksan yang menangkis seghala serangan gadis cantik itu, dengan tertawa. "k*****t kau!" teriak Apsari yang merasa dipermainkan. "Lihatlah prajurit serangannya!" Sembari tertawa yang melihat Apsari sempoyongan. "Sebelum dia pingsan, bakar rumah itu. Biar dia menyaksikannya!" "b*****h kau Adiyaksa!" Apsari yang terluka, mulai merasakan racun sudah menjalar di aliran darahnya. Napasnya mulai sesak. "Kakaaaang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN