PEDANG SAPTO DELIMO

1074 Kata
Tanpa Asena sadari. Sebuah pedang melesat kencang beriringan dengan deru angin. Menukik ke arahnya dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Suaranya yang berdesing membelah udara, terngiang keras di telinga. Membuat Asena terdiam sesaat. Dia memejamkan mata. Mengikuti ke mana pun gerakan pedang yang tengah menghunus ke arahnya. "Akan aku tangkap kau!" gumam Asena. Masih dalam keadaan mata yang terpejam. Lelaki tampan itu, berbalik. Dia melompat tinggi. Hanya dengan sekali lompatan. Gagang pedang itu sudah berada dalam genggaman tangannya. Sekilas Asena mengarahkan pandangan pada sang kakek yang berada di seberang sungai. Belum sampai dia bergerak. Sang kakek sudah melesat kencang bagai membelah udara. Yang kini sudah berdiri di hadapannya. "Kakek!" desis Asena. "Lawan aku! Pakai pedangmu itu!" "Melawan Kakek?" Tanpa banyak cakap lagi. Sang kakek sudah menyerang Asena yang masih belum siap. Sebilah pedang berwarna keperakan mengayun secepat kilat. Di bagian gagang pedang tersebut, terdapat ukiran burung rajawali. "Lawan aku anak muda!" teriak lelaki tua itu. Tampaknya Astageni menyerang tak kenal ampun. Dia tidak peduli pada Asena yang masih bertahan dan hanya menangkis. "Ta-tapi untuk apa, Kek?" Sang kakek semakin gencar melakukan p*********n. Membuat Asena sedikit kuwalahan. Dia terus menangkis dan menghindar. Tak ada serangan sama sekali yang dia lakukan. Sriiing! Praaang! Sriiing! Terdengar denting pedang yang saling beradu. Namun Asena belum mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya. Dia masih terus saja menghindar. Membuat lelaki tua itu semakin gusar dan geram. Sampai sebuah serangan merobek pakaian Asena di bagian d**a. Membuatnya terbelalak. Dia tidak menyangka sang kakek benar-benar menyerang dirinya. "Kau tak membalas seranganku. Pakaian itu akan terlepas dari badan kamu anak muda!" Seketika itu juga Asena berbalik menyerang. Gerakannya yang lincah, menyerang cepat pada sang kakek. Pedang terhunus ke arah lelaki tua. 'Aku harus bisa mengalahkannya,' bisik Asena. Kini dia mulai berkonsentrasi penuh. Melihat pada satu titik yang ada di hadapannya. "Aku harus mengetahui ke mana arah gerakan pedang itu." Suaranya lirih tak terdengar. Hingga dia mendapatkan suara pedang dari angin yang dihasilkan. Membuat Asena dengan mudah, mengetahui gerakan sang kakek yang menyerang ke arahnya. Tampak Asena berdiam sesaat. Saat pedang sang kakek menghunjam ke arahnya. Hanya dengan menggeser kedua kaki, Asena sangat mudah menghindar. Dia pun berbalik menyerang, menggebuk dengan gagang pedang punggung sang kakek. Yang membuat tubuh tuanya terpental hingga ke seberang sungai. "Kakeeeek!" Sesaat Asena tersadar. Dia langsung melompat tinggi dan meraih tubuh sang kakek, yang tersungkur. "Maafkan Asena, kek. Maafkan aku!" "Kakaaang! Kenapa kau menyerang Kakek?" teriak Apsari yang melihatnya. "A-aku enggak bermaksud seperti itu Apsari." "Aku melihatnya Kakang. Kilatan cahaya pedang dan gerakan Kakang, itu sangat dahsyat, saat menyerang Kakek. Sepertinya Kakang sengaja menggunakan kekuatan penuh." "Bukan begitu, Apsari. Kekuatan yang aku gunakan baru setengahnya saja." "Cukup! Kalian jangan berkelahi. Aku memang menguji kemampuan Asena, Apsari. Kamu jangan menyalahkan dia!" Apsari langsung terdiam. "Maafkan aku, Kakang. Aku hanya tidak mau, Kakek cidera. Karena selama ini, Kakek menyimpan pedang itu, dan tak pernah menggunakannya lagi." Asena memperhatikan pedang yang berada di tangan sang kakek. "Duduklah kalian berdua, aku ingin bicara!" Apsari dan Asena sudah duduk berhadapan dengan Astageni. "Pedang ini dulu sering aku pergunakan saat masih melintang di dunia persilatan. Pedang ini pun pemberian dari seseorang yang dulu sangat kusanjung dan kukagumi. Walau pada akhirnya dia terhasut oleh seseorang." Ingin hati Asena menanyakan siapakah orang tersebut, tapi lidahnya serasa kelu. Dia lebih memilih diam. Sampai Astageni yang bercerita sendiri. "Dan, pedang Sapto Delimo ini aku kembalikan padamu!" Asena terhenyak. "Kakek mengembalikan pedang ini padaku?" Lelaki tua mengangguk. "Pastinya kamu sudah memperhatikan lambang rajawali di gagang pedang Sapto ini, 'kan?" "Iya, Kek." "Apa yang ada dalam pikiran kamu?" "Lambang yang sama dengan kerajaan Saloka." "Kamu benar. Karena memang pedang ini berasal dari sana." Kembali Asena terhenyak dibuatnya. "Ta-tapi, Kek. Tidak pernah aku melihatnya di istana, atau pun para prajurit menggunakannya." "Karena ... sang Prabu Baga Sadendra yang memberikannya padaku. Pedang yang dibuat oleh Ki Agung Wungu, untuk menemani ajian Bayu Bajra." Asena semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kakek Astageni. "Gerakan sudah mengalami banyak kemajuan. Kemampuan kamu dalam mengolah ajian Bayu Bajra sudah hampir sampai pada titik sempurna, Asena. Tugas kamu yang terakhir, kamu harus mampu mengalirkan kekuatan pada pedang Sapto Delimo yang kamu pegang. Olah pikiran dan tenaga dalam kamu, fokuskan pada pedang yang kamu pegang. Sehingga pedang itu seperti bernyawa dan mempunyai kekuatan yang dahsyat. Kamu paham?" "Sangat paham, Kek." "Cobalah sekarang! Hantam batu besar itu dari jarak jauh!" "Baik, Kek!" Asena kembali bangkit. Dia memasang kuda-kuda, dan mulai berkonsentrasi. Mnegingat apa yang dikatakan oleh Kakek Astageni. Menyalurkan kekuatannya agar terpusat pada pedang. Hiaaahhh! Asena mulai bergerak sangat cepat. Memutar dan melompat cukup tinggi lalu mengarahkan ujung pedang dengan gerakan menyilang dan .... Blaaaarrr! Batu besar itu hancur berkeping-keping. Membuat Astagni dan Apsari terbelalak. Mendapat suguhan luar biasa. Kilatan cahaya perak dari pedang tersebut selaras dengan gerakan Asena. Dia meloncat di atas sungai dan bergerak cepat seperti burung srigunting. Terkadang menukik tajam, berlari, melompat tinggi, dengan gerakan yang lurus, memutar bahkan saling silang seolah sedang menerjang musuh. Senyum kebanggaan mengembang di bibir Astageni. Setidaknya rahasia kelam dirinya bersama atahanda Asena, lunas saat ini. Tanpa perlu dia menyampaikan sesuatu di masa itu. Asena berlari ke arah mereka dengan tawa bahagia. "Bagaimana Kakek?" "Kamu sangat hebat, Asena. Kamu sudah melakukannya dengan benar. Hanya satu pesanku, kamu masih kurang tenang dan terburu-buru. Kamu harus bisa mengatur gejolak perasaan dan jiwa muda kamu!" "Baiklah, Kek. Aku akan selalu mengingat hal ini." "Sekarang kita pulang! Masih ada hal lain, yang kalian perlu ketahui." Sesekali Astageni terbatuk-batuk. Membuat mereka berdua cemas melihat keadaan Astageni yang kesehatannya semakin menurun. "Kakek, kenapa?" tanya Apsari gelisah. Lelaki tua itu hanya tersenyum lebar. Ketiganya pulang berjalan menuju rumah. Sesampainya, Apsari sgeera membuat minuman buat sang kakek. "Asena, kemarilah!" Astageni mengambil sebuah kotak berwarna coklat tua dari lemari kayu. Lalu, meletakkan di hadapan Asena. "Apsariiii ... kemarilah, Nduk!" "Sebentar Kakek. Aku buatkan minuman hangat dulu!" Tak lama, gadis itu sudah membawa dua cangkir batok kelapa. "Kakek minumlah dulu, biar tidak batuk-batuk terus." Astageni mengikuti apa yang diminta cucunya. Setelah menyeruput beberapa kali, dia meminta Apsari duduk di sebelah Asena. "Asena, waktuku sudah tak banyak. Aku menyerahkan kotak ini padamu." Sontak Asena mangarahkan pandangannya pada sebuah kotak yang terbuat dari kayu gaharu. Sebuah kayu yang memiliki kekuatan mistis. "Carilah lelaki tua yang bernama Ki Wasesa. Dulu dia pendiri padepokan Bulus Putih, sebelum padepokan itu diserang oleh orang-orang Palguna. Dia Mahapatih Antapura." Saat mendengar nama Antapura. Darah yang mengalir dalam tubuh Asena seakan bergelora. Sorot matanya berkilat penuh dendam yang membara. "Ta-tapi kenapa Kek?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN