KEMAMPUAN ASENA

1025 Kata
“Benar-benar kurang ajar. Siapa yang melakukan semua ini? Apa ada hubungan dengan pengkhianatan Ayahanda?” Asena masih terpaku menatap serpihan tubuh makhluk yang hancur di hadapannya. Beberapa menjadi abu dan arang yang masih membara oleh balutan api. ‘Asena, kembalilah sekarang juga!’ Suara bisikan itu kembali terdengar. Deru napasnya memburu kuat. Asena semakin ingin tahu siapa yang berada di balik semua ini. ‘Asena, pejamkan matamu sekarang juga! Aku akan mengembalikan sukmamu.’ “Baik, Kek.” Asena melakukan apa yang dikatakan Kakek Astageni. Dia duduk bersila dengan kedua telapak tangan menempel di depan d**a. Hanya dua kali tepukan tangan Astageni, Asena membuka matanya lebar. Dia bisa merasakan semilir angin yang berembus menerpa wajahnya. “Apa yang kamu rasakan sekarang anak muda?” “Badanku seperti jauh lebih enteng, Kek.” Lelaki tua itu tersenyum. “Setelah ini, kamu beristirahatlah dulu! Besok pagi, aku ingin melihat kemampuan kamu yang sebenarnya.” Asena hanya mengangguk pelan. Melihat wajah yang sedih, membuat Astageni mencekal pergelangan tangan Asena Ketika hendak pergi. “Ada apa?” “Apa Kakek tahu semuanya?” “Tentang dua sosok makhluk itu?” “Iya, Kek.” “Aku mendengar dan melihatnya.” “Menurut Kakek apa yang dia katakan itu sebuah kebenaran?” “Dengan resiko yang diterimanya saat ini, itu memang benar. Bahwa ada selir kerajaan yang mengikat energi kamu sejak kecil. Energi hitam, untung saja dia tidak banyak mempengaruhi kamu.” “Maksud Kakek apa?” “Dengan pengaruh energi hitam dalam badan kamu, bisa saja membuat kamu buta hati. Kamu bisa menjadi orang yang jahat dan kejam. Untungnya enegri kebaikan dalam hati dan Nurani kamu, jauh lebih tinggi.” Asena menghela napas Panjang. Dia mencoba mencerna semua perkataan Astageni. “Sekarang katakanlah yang jujur padaku. Siapakah dirimu kamu yang sebenarnya, Asena?” Dengan pandangan yang mengintimidasi ke arahnya. Sang kakek mendekatkan wajahnya pada Asena. Hingga dia bisa merasakan deru napas sang kakek. "Aku tak percaya kalau kau pasukan elit kerajaan. Kau mempunyai sumber kekuatan yang mengalir dalam setiap aliran darahmu. Detak jantung dan nadimu. Hanya sayang semua tertutup, sampai kamu tahu sendiri, bahwa memang ada seseorang yang melakukannya.” Asena tertunduk dalam diamnya. "Kau masih juga diam anak muda?" "Ehhh ...." "Kalau kau masih juga diam. Aku tak akan membantumu!" "Jangan begitu, Kakek!" "Sekarang katakan! Apa hubungan kamu dengan Prabu Baga Sadendra?” Sontak jantungnya berdetak kencang. Seketika raut wajah Asena bagai tersiram debu api yang panas. Lelaki tampan itu, mulai blingsatan. Dia terlihat sangat kebingungan untuk memberikan jawaban. Haruskah Asena mengaku dan membongkar penyamaran dia? "Yang aku tahu, Prabu memiliki seorang putra mahkota dan seorang putri. Apakah … putra mahkota itu kamu, Asena?” Sorot mata Astageni tajam menghunjam tepat di jantung Asena. Membuat anak muda itu tak mampu berkelit lagi. Pandangan lelaki tua itu, mulai memerhatikan dari ujung rambut hingga berhenti di bagian d**a, lalu beralih pada lengan Asena yang terdapat kain hitam. "Katakan sekarang, Asena! Bila perlu kamu buka ikatan kain hitam itu!”" Seketika pandangan Asena nanar. Dia merasa terdesak, tanpa tahu harus berkata apa pada Kakek Astageni yang sudah sangat baik padanya. "Ternyata aku benar anak muda! Kau menyembunyikan identitasmu. Tak usah kamu katakan. Dari perubahan wajahmu aku sudah mengetahuinya." Lelaki tua berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Asena. Melihat kepergiannya, saat Asena tersadar. Dia berlari mengejar. "Kakek Astageni! Ma-maafkan aku, Kek!” teriak Asena, membuat lelaki tua itu menghentikan langkahnya. “Aku sengaja melakukan ini semua atas mandat sang Ibunda. Agar aku bisa selamat dari pengejaran pasukan musuh. Dan ... mewujudkan keinginan Ayahanda untuk membalas dendam pada Antapura." "Dengan kemampuan kamu seperti saat ini? Yang ada kau akan mati di tangan mereka." Mata tua itu berkilat memandang Asena yang terhenyak oleh perkataannya. "Bantu aku, Kek! Aku sangat memohon padamu!" ucap Asena dengan bersimpuh di hadapan sang Kakek. Cukup lama lelaki tua itu terdiam. Tanpa memandang wajah Asena sama sekali. "Prabu Baga Sadendra semasa mudanya memiliki kemampuan. Dia bisa membaca gerakan musuh hanya dari suara yang bergerak ke arahnya. Ilmu itu dia beri nama Bayu Bajra. Sepertinya ilmu diturunkan padamu sejak kau masih kecil. Seandainya tidak ada yang berbuat jahat padamu, mungkin pamor kamnu di dunia persilatan sudah terdengar anak muda.” "Sehebat itukah Bayu Bajra?” Astageni hanya tersenyum masam. “Kamu ini baru melek, dengan dunia di luar istana. Kamu harus bisa menyatu dengan ilmu yang kamu miliki, atau hanya akan jadi pajangan selamanya." "Lalu apa yang harus aku lakukan, Kakek?" "Kau akan tetap berlatih mengolah fisikmu agar lebih kuat. Dan, aku akan menata kembali nadimu. Agar tenaga dalam kamu, bisa kau gunakan dengan sempurna." "Apa pun yang Kakek perintahkan. Asena akan lakukan semuanya, Kek!" "Terus olah tenaga dalam yang ada dalam tubuhmu! Teruskan kau bertapa sampai besok pagi. Hancurkan setiap jengkal pengaruh kekuatan sihir yang masih tersisa. Kurasa kamu sudah memahami dengan kejadian tadi.” “Baik, Kakek.” “Masuklah ke kamar paling belakang, Asena. Bersemedilah di sana untuk memulihkan dan mengobati luka dalam kamu. Sumber energi dariku, bisa kamu olah.” Asena hanya manggut-manggut tanda mengerti. "Baik, Kakek." Sejak itu, selama dua belas purnama. Asena terus melatih fisik dan tenaga dalam yang dia miliki. Kecepatan Asena berlari sangat kencang. Bagai anak panah yang melesat dari busurnya. Membelah angin yang menghempas dirinya. "Bagaimana Apsari? Kau masih belum menyerah?" teriak Asena. "Aku mengaku kalah Kakang!" "Jangan mudah menyerah kamu. Sekarang aku tantang berlari di atas sungai, Apsarii!" Gadis itu menggeleng. Terdengar napasnya yang tersengal-sengal. Dia tak sanggup lagi mengikuti tantangan pemuda tampan itu. "Kenapa kau?" teriak Asena sembari tertawa menggoda Apsari. Yang tenaganya telah banyak terkuras. Kini, Asena tengah berdiri di atas sungai, yang arusnya terus mengalir. Sejenak dia menunduk dan melihat bayangan dirinya. Asena kini terlihat sangat berbeda. Kulit kuning bersih mulus yang dulu dia miliki, kini sirna. Kulitnya nyaris kecoklatan. Garis wajahnya terlihat keras dengan tubuh yang jauh lebih berotot. Mungkin saja jika saat ini dia kembali ke istana dan bertemu dengan orang-orang yang mengenal, tidak ada satu pun yang menyangka, bahwa ini adalah dirinya. "Ini kah aku?" Seraya mengusap wajahnya. "Pencapaian kekuatan yang sangat luar biasa. Memang kau ditakdir untuk memerangi Antapura. Untuk menghapus angkara murka yang ada di muka tanah Jawa ini," bisiknya terus berdecak kagum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN