"Aaaarghhh!" Asena mengerang dan memuntahkan darah segar.
“Sial! Kedua bayangan hitam itu malah menyerang Asena dari dalam. Dasar kutu kupret!”
Gerakan tangan Astageni yang gesit. Segera menarik tubuh Asena agar kembali ke posisi semula. Dia memeriksa keadaan Asena, sembari menekan pergelangan tangan untuk membaca denyut nadinya.
"Kamu masih bisa menolong diri kamu sendiri Asena. Lawan kekuatan hitam yang berada dalam badan kamu, Asena! Lawan dengan tenaga dalam yang kamu miliki! Asal kamu tahu, sebenarnya kamu memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat. Hanya gara-gara energi hitam itu yang mengikatnya. Lepaskan diri kamu sekarang juga. Lawan mereka Asena!!!"
"Aaaarghhh!" Asena masih mengerang kesakitan.
Astageni bertindak cepat. Dia menempelkan kedua tangannya pada ujung tengkuk. Menekan kuat dan bergerak memutar hingga ujung kedua bahu Asena. Tampak Astageni melakukannya berulang-ulang. Lelaki tua itu, mulai mengerahkan tenaga dalam murni untuk membantu Asena.
‘Lawan mereka Asena. Temukan kekuatan kamu dalam diri kamu sendiri!’ Astageni menggunakan ungkapan hati, berharap Asena lebih bisa mendnegar dirinya saat ini. ‘Bangkitlah Asena, kamu jangan lemah! Ingat tujuan kamu!’
Bagai tersadar, Asena merasa berada di suatu tempat yang aneh dan asing baginya. Tidak terlihat apa pun. Semuanya tampak gelap. Asena mencari sosok Astageni yang dia dengar suaranya, akan tetapi wujudnya tidak terlihat sama sekali.
"Di mana aku sekarang? Apa Kakek meninggalkan aku?"
Belum sampai dirinya memahami tempat apa ini. Asena mendengar bunyi yang aneh. Seperti benda logam yang diseret di tanah, dan menimbulkan bunyi kemerincing. Semakin lama bunyi itu bukan menjauh tetapi semakin mendekat. Mmebuat bunyi yang didengarnya, mmebuat telinga Asena pekak.
"Aku harus bisa tenang menghadapi ini."
Bersamaan dnegan bunyi gemerincing tersebut. Dia seperti mendengar suara Kakek Astageni yang berbisik.
‘Jangan ragu Asena! Bangkit dan lawan mereka. Ingatlah perkataan aku ini! Ilmu dan kekuatan kamu jauh lebih dhsyat dari kedua sosok itu!’
“Kakeeeek … baiklah. Aku akan mencobanya!”
Asena bangkit dan mengawasi dengan mata yang awas di sekitarnya. Dia bisa merasakan derus napas yang aneh. Yang jelas bukan berasal dari dirinya. Seiring dengan aroma busuk yang sangat menyengat seakan mulai menyerang Asena.
‘Kamu harus bisa tenang. Tarik napas pelan, atur tenaga dalam yang kamu miliki. Rasakan kekuatannya mengalir dan merasuk di setiap rongga badan kamu. Dari ujung kepala hingga kaki. Gunakan mata hati kamu, Asena!’ Terdengar suara berbisik di telinganya. Yang tak lain Kakek Astageni.
"Kakek, "ucapnya lirih.
'Baiklah aku harus bisa melihat semua ini dengan mata batinku! Dan melakukan semua yang dikatakan Kake Astageni padaku!'
Asena mulai bisa menguasai dirinya sendiri. Dia mulai merasakan energi positif yang mengalir dalam tubuhnya. Sehingga dia bisa mendengar dengan jelas pergerakan bunyi yang berdenting itu semakin mendekat. Dua bayangan hitam melesat cepat, seakan hendak menyerang. Secepat kilat Asena menghindar. Dia melompat cukup tinggi dan berganti menyerang dua makhluk yang terlihat aneh.
Dua makhluk berbulut hitam lebat. Dengan gigi bertaring sebatas d**a, dua mata berwarna kemerahan dengan darah yang terus menetes. Dia kedua tangan mereka, memegang sebuah rantai besi baja, dengan ujungnya terdapat benda bulat menyerupai tengkorak.
Sesekali mereka membanting ke tanah dan menggerakkan rantai itu ke arah Asena.
Duuummm!
Praaang!
Perkelahian tidak bisa dihindari lagi. Dalam hati Asena dia harus bisa memenangkan pertarungan ini. Kedua sosok berwajah menyeramkan itu, mulai menyerang dengan rantai yang mereka pegang. Menyambar dan berputar menyerang cepat ke arah Asena. Yang saat ini hanya berkelit sambal mencari cara untuk mengalahkan mereka.
‘Lepaskan semua kekuatan yang kamu miliki anak muda!’
“Baik, Kakek!”
Asena kembali menyerang . Dia memusatkan pikiran dan tenaga pada kedua telapak tangannya. Lelaki tampan itu bergerak cepat dengan berlari di antara bebatuan hitam yang berkabut. Lalu mengerahkan hantaman yang kuat ke rah mereka. Cahaya kebiruan melesat dari kedua tangan Asena.
Blaaarrr!
Mereka terseret oleh kekuatan angin yang menyerang. Kedua sosok terseret ke dalam putaran yang diciptakan oelh Asena. Namun, salah seorang dari mereka berhasil keluar dan menyerang sangat cepat. Gerakannya berkelebat seperti kecepatan cahaya. Dan ….
Cruuuus!
Cruuuus!
Sebuah cakaran merobek pakaian atas Asena. Hingga dadanya tergores beberapa luka yang memanjang. Membuat Asena semakin geram.
"Baik, akan aku ladeni kalian, para dedemit. Iblis blontang atau siapa pun kalian. Sini majuuuu!" teriak Asena lantang.
'Pergunakan kekuatan tenaga dalam kamu! Jangan terpancing oleh mereka Asena! Ingat, Bayu Bajra mengandalkan kekuatan angin. Satukan dengan aliran energi yang aku salurkan dalam badan kamu. Kau harus bisa mnegolahnya anak muda!'
“Baik, Kakeeek!”
Asena bersikap lebih tenang. Dia mulai memerhatikan gerakan musuh hanya dari suara pergerakan mereka. Angin yang tercipta dari setiap gerakan dua makhluk jahat itu, Asena bisa merasakannya. Bahkan Gerakan apa yang hendak mereka lakukan, dia sudah bisa menerka.
Saat kedua bayangan itu mulai menyerang. Asena menggunakan kekuatan angin yang datang. Putaran angin mulai terlihat berkumpul mengelilingi tubuh Asena. Terlihat percikan cahaya kebiruan yang mulai bergulung sangat cepat, membentuk bulatan besar, dengan suara yang bergemuruh. Aliran yang tercipta, seakan terus bergerak mengelilingi kedua kepalan tangan Asena. Tanpa banyak cakap lagi,
“Rasakan ini! Ajian Bayu Bajraaaaa!”
Tubuh Asena terngakat ke atas, lalu meluncur dengan cepat menukik tajam kea rah mereka. Dari jarak yang jauh, Asena menghantamkan kedua tangannya kea rah mereka yang menangkis.
“Rasakan kekuatanku yang sebenarnya makhluk busuk!”
Ciaaaaahhhh!
Blaaaaarrr!
Terdengar ledakan yang kencang, hingga membentuk asap yang bergulung-gulung kehitaman. Tidak lama, tercium bau sesuatu yang terbakar. Salah satu sosok makhluk itu, hancur yang menyisakan taringnya yang tertinggal.
Sengaja Asena menyisakan satu makhluk yang masih bergerak lemah. Lelaki dengan postur tinggi tegap dan tampan itu berjalan mendekatinya.
“Katakan padaku, siapa yang menyuruh kamu!”sentak Asena.
“Erghhhh!”
Makhluk itu hanya menggeram.
“Atau … aku akan menyiksa kamu. Menjadikan tontonan di pasar malam gunung Arjuno. Mau?”
Sosok itu langsung bergerak dan bersimpuh di hadapan Asena.
“Katakan sekarang juga! Siapa yang telah menyuruh kamu untuk mengikat kekuatan aku?”
“Se-seliiir … Ban—”
Kalimatnya terputus-putus.
“Katakan selir siapa?” teriak Asena.
“Se-seliiir … Ban—”
Tiba-tiba, sebuah serangan cahaya merah kehitaman, melesat dan langsung menyerangt sosok itu. Membuat Asena terperanjat. Hanya sekian detik berselang. Sosok itu tubuhnya hancur dan terbakar api.
Asena bergerak menjauh.
“Benar-benar kurang ajar. Siapa yang melakukan semua ini? Apa ada hubungan dengan pengkhianatan Ayahanda?”