ENERGI HITAM

1208 Kata
Blaarrrr! Asena terpental cukup jauh. Dia langsung terduduk menghimpun kembali kekuatannya. Darah segar menetes dari hidungnya.  “Kakaaaaang!!!” teriak Apsari kencang. Dia berlari mendekati Asena. Namun, dari jauh Astageni membentangkan tangannya. "Biarkan dia di sini bersamaku!" tegas sang kakek. Apsari menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada Asena yang masih terduduk di tangan, dengan darah yang masih bercucuran. Tanpa mendebat lagi, gadis itu berlari masuk rumah. “Bangunlah anak muda! Kita lanjutkan lagi pertarungan kita!” Asena menatap tajam ke arahnya. “Baik, Kek!” Lelaki tampan itu, segera bangkit. Dia kembali memasang kuda-kuda. Tanpa menunggu serangan dari Astageni, Asena langsung menyerang. Dia mengumpulkan kekuatan pada serangan di tangan dan tendangan pada kakinya. Tubuh Asena melompat tinggi, menerjang ke arah Astageni. Namun ternyata lelaki tua itu sudah bisa menangkap ke mana arah gerakan Asena.  Dia hanya menggeser sedikit, dan berkelit. Segala serangan Asena mampu dia elakkan. Membuat lelaki tampan itu semakin penasaran. ‘Tak mungkin aku tak bisa menyentuh tubuhnya,’ bisik Asena yang bersemangat. “Keluarkan ajian kamu bila ingin melawanku Asena. Kalau hanya dengan teknik bela diri yang kamu pertunjukkan, sudah aku pastikan untuk menyentuh rambutku saja kau tak akan bisa,” ujarnya terkekeh. “Wahhh … Kakek, kau mengecilkan aku sekali.” “Memang, Asena. Berapa tahun kau di istana, hanya memiliki kemampuan seperti ini saja? Payah kau!” Asena semakin tertantang untuk bertarung dengan sungguh-sungguh. Dia kembali melesat dengan kecepatan tenaga dalam yang dimiliki. Menghentikan Langkah Astageni. Pertarungan kembali terjadi. Tampak Asena mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan yang dia miliki. Kecepatan tangannya bergerak menangkis segala serangan Astageni. Dia memutar tubuhnya dan melompat tinggi hingga berada di belakang Astageni. Kesempatan yang tak disiakan Asena. Dia menghantamkan kedua tangan ke arah punggung. Bughhh! Bughhh! Lelaki tua itu terhuyung. Hingga kedua kakinya terseret cukup jauh. ‘Hemmm … kekuatan anak muda ini cukup lumayan. Hanya saja, dia tidak bisa mengerahkan kekuatan yang ada dalam dirinya. Harusnya pukulan ini tadi akan mematikan bila dia padu dengan ajian Bayu Bajra yang dia miliki.’ Astageni berbalik memandang tajam pada Asena. “Serang aku dengan kekuatanmu itu anak muda. Jangan lemah! Kekuatan hantamanmu tak mampu melukai orang setua aku, Asena. Bagaimana kamu ingin menjadi seorang pendekar sakti mandraguna?” Aliran darahnya serasa panas, mendengar omelan Kakek Astageni. “Aku memang menahannya, Kakek.” “Kalau begitu keluarkan semua kekuatan kamu! Hantam dengan pukulan yang kamu padu Bersama ajian Bayu Bajra.” Asena terdiam sesaat. Selama ini dia memang tidak pernah melakukannya, menjadi suatu kekuatan yang bersamaan saat menyerang musuh. “Baiklah Kakek!” Asena berdiri menghimpun kekuatan angin yang berada di sekitarnya, lalu menyalurkan pada kedua tangan. Huhhhhh! Tubuhnya bergerak cepat, dengan berlari kencang menuju sang kakek. Yang berdiam diri mengamati Gerakan Asena. Saat hantaman dengan kekuatan yang cukup besar datang. Astageni menghadang dengan jurus Putaran Gledek. Kedua tangan kakek bergerak cepat berputar seolah menyerap semua kekuatan angin yang ada di sekitarnya. Dari kedua tangan Astageni terlihat percikan api yang mengelilingi putaran angin yang dihasilkan. “Rasakan serangan aku, Kek!” Duuum! Blaaaarrrr! “Aaaaahhhh!” Tubuh Asena terpental jauh hingga menabrak sebuah p[ohon sampai tumbang. Kekuatan yang sangat dahsyat menggempur tubuhnya. Lelaki tampan itu bersimbah darah. Segera Asena menghampiri. “Kau masih hidup?” Dengan wajah penuh darah segar. Asena masih bisa tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Kakek.” Namun, hanya hitungan detik tubuhnya terkulai lemas. Astageni  langsung menyandarkan tubuh Asena pada batang pohon yang tumbang. “Maafkan aku anak muda. Aku hanya ingin tahu sampai di mana Ki Agung Wungu mengajari kanuragan padamu. Tapi, sungguh aku tak menyangka. Bahwa ilmu yang dia berikan hanya sebatas ini saja. Atau—"   Astageni langsung memberikan pertolongan dengan mengerahkan energi tenaga dalam pada tubuh Asena. Dia meletakkan kedua tangan dan menepuk cukup keras. Tubuh Astageni sampai bergetar hebat. Sepertinya dia mgerahkan semua energi putih dalam tubuh, untuk Asena. “Asena … bangunlah!” “Ehhhh ….” “Bangunlah, rasakan energiku yang memasuki setiap aliran darahmu. Jangan kau menolaknya!” “A-aku … tidak menolaknya, Kek. Badanku benar-benar lemah. Aku … tak bisa melakukan apa pun.” Suara Asena benar-benar lemah. “Seharusnya kau bisa lebih dari ini, Asena. Kekuatan yang kamu miliki seharusnya jauh lebih besar. Tak mungkin Ki Agung Wungu hanya memberikan ilmu yang secuil, Asena!” Lelaki tampan itu hanya menggeleng. "Detak nadimu tak beraturan. Ini yang membuat tenaga dalammu tak keluar," bisiknya lirih. Membuat Asena semakin kebingungan. Dia tidak mengerti dengan perkataan sang kakek. “Kematian gurumu disebabkan oleh apa, Asena?” “Kata mereka karena diracun oleh seseorang.” “Hemmm … tak mungkin!” “Memangnya kenapa Kakek?”   "Seperti ada seseorang yang sengaja menutup seluruh kekuatan yang mengalir pada setiap urat syaraf, detak jantung, dan nadimu. Ini bukan energi yang baik, Asena. Seseorang sepertinya telah menggunakan sihir untuk membuntu kekuatan yang ada dalam tubuhmu sejak lahir. Sehingga ilmu yang kamu serap tidak seutuhnya berjalan.” “Aku semakin tidak mengerti, Kek.” Tidak ada jawaban dari Astageni. Yang membuat Asena semakin bertanya-tanya. ‘Kenapa Ki Agung Wungu tak mengetahuinya?’ tanya Astageni dalam hati. “Sekeras apa pun kamu berlatih, walau dengan berbagai jurus yang kau miliki, semua tidak akan membuatmu menjadi pendekar digjaya.” “Karena energi buruk itu kah, Kek?” “Iya, ini energi hitam. Yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuhmu, Asena. Mungkin ada orang-orang yang memang berniat jahat padamu.” Asena terdiam lagi. Dia mencoba mengingat semua kejadian saat masih di istana. Bahkan saat dia menimba ilmu pada gurunya. "Kau harus bisa menyatu dengan ilmu yang kamu miliki. Atau ilmu hanya akan jadi pajangan dalam dirimu kamu." "Lalu apa yang harus aku lakukan, Kakek?" "Kau akan tetap berlatih mengolah fisikmu agar lebih kuat. Dan, aku akan menata kembali nadimu. Agar tenaga dalam kamu, bisa kau gunakan dengan sempurna. Aku juga harus menghilangkan sumbatan yang berasal dari energi negatif itu." "Duduklah menghadap aku, Asena!" "Baik, Kek." Asena mengikuti semua yang dipinta Astageni. "Lepas pakaian atas kamu! Dan berbaliklah!" "Pa-pakaian?" Sang lelaki tua mengangguk pelan. Lalu kedua matanya terpejam rapat. Sejenak Asena menatap raut wajahnya yang tersirat bijaksana. Walau ragu, akhirnya Asena mengikuti semua yang dikatakan lelaki tua itu. Terlihat Astageni mulai mengeluarkan tenaga dalamnya. Menotok beberapa bagian titik syaraf, untuk melepas ikatan dari sesuatu yang tak kasat mata. Begitu juga bagian punggung dan tengkuk Asena. Tangan Astageni bergerak seolah sedang membuka sebuah ikatan.   Dalam waktu yang bersamaan, muncul asap hitam. Yang berasal dari tubuh Asena. Menguar seperti sebuah bayangan yang berkelebat. 'Sepertinya kekuatan Asena diikat oleh sihir hitam. Pasti ada petinggi istana yang sengaja melakukannya, tapi siapa? Yang jelas dia pasti sangat dekat dengan raja,' bisik sang Kakek dalam hati. Aroma busuk menguar di sekitar mereka. Bercampur bau anyir yang membuat mual dan ingin muntah. "Apa Kakek mencium bau ini?" "Sebaiknya kau diam dan jangan bergerak sedikit pun!" Dua bayangan hitam tanpa bentuk yang jelas, mulai menyerang Astageni. Masih dalam keadaan duduk, Astageni melayani serangan mereka. Lelaki tua itu berusaha untuk melindungi Asena yang masih lemah. “Enyah kalian!” Hanya sekali kibasan tangan Astageni. Kedua bayangan itu terhempas. Dalam detik yang bersamaan. Asena mengerang kesakitan. Tubuhnya terhuyung ke depan dan ambruk. Seolah dia tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Membuat Astageni terperanjat dengan pergerakan dua bayangan hitam tersebut. "Aaaarghhh!" “Sial! Kedua bayangan hitam itu malah menyerang Asena dari dalam. Dasar kutu kupret!”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN