Kedatangan mereka sudah disambut Astageni, yang melempar sebuah keranjang bambu yang kosong, jatuh tepat di hadapan Asena. Lelaki tampan itu hanya diam sambal meletakkan keranjang yang terisi tanah.
Asena menatapnya heran.
“Apa maksud Kakek?”
“Satu keranjang masih kurang anak muda.”
“Jadi, aku harus kembali ke atas dan memenuhi keranjang ini?”
“Kurasa kamu sudah paham maksud aku anak muda.”
Astageni berjalan mendekatinya.
“Angkat kedua tangan kamu ke atas!”
Asena berusaha menekan harga diri dan emosi. Dia sebagai putra mahkota belum pernah ada orang yang berani memperlakukan dirinya seperti ini. Apalagi meremehkan. Memperlakukan layaknya b***k.
“Kenapa kamu masih diam? Tengah bergelut dengan hati Nurani?”
Seketika Asena tersadar, bahwa dirinya bukanlah berada di dalam istana. Dia kembali menata hatinya lagi. Dalam benaknya, dia berpikir lelaki ini tahu apa yang bergejolak dalam diri saat ini. Sengaja Asena menekan semua perasaan tentang siapa dirinya. Apalagi dia sangat membutuhkan bantuan lelaki ini.
‘Saat ini aku bukan lagi seorang putra mahkota. Namun, aku seseorang yang akan menjadi raja dan penguasa di tanah Jawa Dwipa. Antapura dan Wikrama tunggu saja pembalasan aku! Akan aku rebut kembali Saloka. Kalian tidak akan pernah menyangka, aku akan menjadi mimpi buruk dalam hidup kalian!’ bisik Asena berusaha untuk menyemangati dirinya.
Tanpa ragu, Asena langsung mengangkat kedua tangan ke atas. Astageni langsung tersenyum. Dia berjalan semakin dekat, tiba-tiba memukul kedua lengan Asena.
Bughh!
Spontan Asena menahan rasa sakit di lengannya.
“Sepertinya luka di bahu kamu sudah tidak terlalu sakit, anak muda.”
“Sebenarnya masih, Kek.”
“Jangan cengeng!”
Seketika Asena terdiam.
“Nanti malam akan aku berikan obat lagi. Sekarang pergilah. Sebelum matahari terbenam, jangan berhenti kamu mengambil tanah dari atas. Paham, Asena?”
“Sangat paham Kek.”
Tanpa banyak bertanya dan mengeluh lagi, Asena mengambil keranjang dan segera pergi berlari meninggalkan Kakek Astageni bersama Apsari.
“Kenapa Kakek begitu jahat sama Kakang? Dia sudah Lelah Kek.”
“Biar dia terbiasa menjalani kerasnya kehidupan.”
“Bukannya Kakang seorang prajurit kerajaan? Dia pasti sudah banyak melewati tempaan Latihan kekuatan dan jurus pedang Kek.”
Apasari terus mengajukan protes pada sang kakek.
“Kenapa kamu jadi begitu perhatian sama dia?”
Raut wajah Apsari merona kemerahan.
“Jangan bilang kamu menyukainya?”
Apsari hanya menggeleng pelan.
“Dia sepertinya bukan seorang prajurit. Seorang prajurit tindakannya tidak seperti Asena. Berkulit bersih dan sangat tampan. Ada aura yang berbeda pada wajahnya. Apalagi selendang merah yang kamu temukan itu.”
“Memangnya kenapa dengan selendang itu Kek?”
“Tidak semua orang akan memilikinya, sedekat apa pun dia dengan keluarga raja. Kalau pun ada pemberian hadiah tidak mencantumkan lambing kerajaan dengan sulam benang emas. Yang berarti selendang itu memang milik adik Asena.”
“Jadi, menurut Kakek?”
“Entahlah? Aku masih ingin mengujinya.”
Apsari terdiam dengan memandang lekat pada sang kakek.
“Kek, tadi Kakang diberi jamur berwarna biru sama seorang wanita.”
“Jamur berwarna biru terang?”
“Kakek tahu?”
“Tahu. Itu jamur yang paling dicari untuk penangkal semua racun. Bagaimana bisa dia mendapatkan dari wanita itu?”
“Kami melawan para begundal yang ingin berbuat m***m sama dia, Kek. Para begundal itu kayaknya cukup punya ilmu kanuragan yang lumayan. Tapi—”
Apsari menghentikan kalimatnya.
“Kenapa, Apsari?”
“Sepertinya apa yang Kakek pikirkan tentang Kakang Asena bisa saja benar. Karena aku lihat, Kakang mengeluarkan sebuah jurus yang bisa menghimpun kekuatan angin di sekitarnya, Kakek. Lalu kalau tidak salah dengar, Kakang meneriakkan ajian itu bernama Bayu Bajra.”
“Bayu … Bajra?”
“Benar sekali, Kek. Apa … Kakek merasa pernah mendengarnya?”
“Aku tahu siapa pemilik ajian itu. Hanya ada satu orang yang memilikinya selain dia.”
“Siapa, Kek?”
“Sang Prabu Baga Sadendra. Raja dari Saloka.”
Apsari terbelalak.
“Jadi, siapa Kakang Asena itu sebenarnya Kek?”
“Itu yang Kakek akan cari tahu dulu. Aku tidak mau menebak-nebak, Apsari.”
“Baiklah, Kek.”
“Kamu jangan coba mengungkit perihal dirinya.”
“Iya, Kek. Tak akan Apsari lancang.”
***
Waktu berjalan sangat cepat. Tampak Asena kelelahan. Dia duduk di pinggiran ranjang. Tak lama Apsari sudah datang untuk menyuruhnya makan Bersama.
“Mari, Kakang! Diajak Kakek makan bersama.”
“Makasih, Apsari.”
Langkahnya mengikuti gadis cantik itu ke arah belakang.
“Duduklah sini, Asena. Aku tahu kamu pasti sangat lelah. Makanlah!”
“Iya, Kek.”
Dengan lahap Asena yang sudah terbiasa dengan makanan sederhana, menghabiskan semua nasi yang ada di piringnya.
“Setelah ini aku ingin bicara sama kamu.”
“Ba-baik, Kek.”
Asena mengikuti Langkah Astageni yang mengajaknya keluar rumah. Keduanya merasakan semilir angin malam yang mempermainkan rambut mereka.
“Lihatlah langit itu Asena! Apa yang kamu lihat?”
“Gelap, sepertinya mendung Kek. Akan turun hujan.”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Langit bisa menjadi saksi apa yang pernah terjadi pada kita.”
Asena menoleh pada lelaki di sampingnya.
“Maksud Kakek apa?”
“Apsari sudah menceritak semua kejadian hari ini, saat bersama kamu. Kenapa kamu bisa menguasai ajian Bayu Bajra?”
Raut wajah Asena tegang, dengan rahang yang mengeras. Jantungnya berdebar lembut. Dia takut jika pertanyaan itu mengenai identitas dirinya.
"Kenapa kamu bisa memiliki selendang merah itu? Katakan kalau itru sebenarnya milik adik kamu?”
Deg!
Asena semakin tertunduk dalam diam.
“Pemilik ajian itu bernama Ki Agung Wungu. Setahu aku hanya ada satu murid yang diajarkan ajian ini, yaitu Baginda Prabu Saloka. Tapi, ternyata kamu juga memilikinya anak muda. Siapa kamu sebenarnya?”
Asena semakin kelimpungan. Dia kebingungan untuk menjawab.
"Kenapa kau tak menjawabnya, anak muda?"
“Ada hubungan apa antara kamu dengan Baginda Prabu dan juga Ki Agung Wungu?”
“Ma-maafkan Asena, Kek. Sampai saat ini masih belum bisa menjawab pertanyaan Kakek.”
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk berterus terang padaku. Untung saja instingku bilang, kalau kamu bukanlah orang jahat.”
“Sekali lagi, maafkan Asena, Kek.”
Tanpa berkata-kata lagi. Astageni tiba-tiba menyerang dengan Gerakan sangat cepat ke arah Asena yang tidak siap. Beberapa kali pukulan langsung bersarang ke d**a, perut serta punggung Asena.
“Kakek! Apa yang Kakek Astageni lakukan?”
“Layani serangan aku anak muda!”
Ciaaat!
Astageni kembali melompat tinggi, dengan kedua kaki yang menekuk dalam. Lalu bergerak cepat menendang kea rah Asena. Yang tampak bingung untuk menghadapi serangan lelaki tua ini.
“Jangan salahkan aku, bila kau mati-mati sia-sia, karena tak mau melawanku anak muda!”
Mendapatkan perkataan seperti itu, Asena mulai begerak melawan. Dia mulai menangkis dan bergerak cepat mengiringi gerakan Astageni. Kedua tangan mereka saling terarah bke depan dan saling berbenturan.
Blaarrrr!
Asena terpental cukup jauh. Dia langsung terduduk menghimpun kembali kekuatannya. Darah segar menetes dari hidungnya.
"Kakaaaang!"