JAMUR BOKASHI

1128 Kata
Asena masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia lakukan. Keempat lelaki itu jatuh terhempas ke tanah, dengan pakaian yang compang camping. Bahkan ada salah satu dari mereka pakaiannya terlepas hampir keseluruhan. Mereka tidak mati, hanya terkapar tidak berdaya. Dari telinga dan hidung mereka, keluar darah segar. “Nah, mampus kau, begundal jelek!” Tawa Apsari di sela rintihan mereka yang kesakitan. Tiba-tiba, Apsari sudah berdiri di dekat Asena. Dari balik sebuah pohon. Wanita cantik yang sedari tadi bersembunyi keluar dan mendekati mereka. “Terima kasih Kakang dan Nisanak. Kalau tak ada kalian, hancurlah sudah harga diriku ini. Tak punya lagi martabat di mata siapa pun.” “Nyimas sendiri kenapa sepagi ini pergi ke hutan sendirian? Sangat berbahaya sekali. Apalagi Nyimas cantik.” Seketika Apsari menoleh pada Asena kesal. Dia mendengkus keras. “Kamu benar sekali Kakang. Sekali lagi, terima kasih banyak. Asena hanya membalas dengan senyuman. Membuat sang wanita terpesona. Baru kali ini, ada lelaki tampan dan berbudi. Bisa menghormati wanita dengan cara yang membuat wanita itu terkagum-kagum. “Siapa dirimu ini Kakang? Kamu tidak seperti lelaki kebanyakan. Kamu mampu menjaga sikap dan cara bicara pada wanita.” Wanita ini benar-benar terpesona dengan Asena. “Aku Asena, Nyimas.” “Uhuk uhuk uhuk!” Apsari terbatuk-batuk, walau Asena tahu itu disengaja olehnya. Dia melirik sebentar, dan berpamitan pada wanita yang ada di hadapannya. “Kami harus menyelesaikan tugas yang belum selesai, Nyimas. Kami akan pergi dulu. Sebaiknya Nyimas segera pulang!” "Tunggu dulu, Kakang Asena!" Dia menghentikan langkahnya. Lalu berbalik. Wanita itu setengah berlari mengejarnya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian. "Namakku Sri Rejeki, Kang. Aku pergi ke hutan ini karena mencari jamur Bokashi. Jamur yang sudah langka. Mekarnya hanya dalam waktu singkat saja. Sebelum ayam berkokok, kalau Mentari pagi mulai bersinar, jamur ini akan layu, membusuk dan mati. Padahal khasiatnya sangat besar. “Jamur Bokashi? Ehhh … aku barui mendengarnya Nyimas.” “Cukup panggil aku Sri saja, Kakang.” Kembali Asena tersenyum. Sedang Apsari terlihat bersungut-sungut. Entah perasaan apa yang tengah melandanya saat ini. Dia sangat tidak menyukai bila Asena bicara dengan wanita itu. Mungkin wanita-wanita lainnya. Seketika Apsari membuang muka. Dari pada dia kesal dan membuat perasaannya campur aduk, dia memilih duduk di bawah pohon. Sambil melihat para bandit m***m itu, menggeliat kesakitan. “Aku tertarik dengan cerita kamu, Sri. Kebetulan teman aku itu, Kakeknya seorang tabib juga. Memang khasiatnya untuk apa?” “Ohhh … nanti Kakang bisa tanyakan pada Kakek itu. Pasti dia tahu tentang jamur Bokashi ini.” Wanita itu mengulurkan sesuatu berwarna kebiruan pada Asena. "Untuk aku?" Sang wanita mengangguk. "Tapi, buat apa?" "Jamur ini hanya tumbuh di tempat yang mempunyai kelembaban sangat tinggi. Dan dia hanya tumbuh tepat di malam purnama. Umurnya pun sangat pendek. Sekali Kakang memakannya. Maka racun apa pun tak akan mempan. Inti sari yang ada dalam jamur ini, mampu menetralkannya." "Hanya sekali makan?" Kembali wanita itu mengangguk. "Simpanlah, Kang. Atau kau bisa langsung memakannya. Dia akan menyatu pada aliran darah tubuhmu." Mendengar penjelasannya. Asena kembali menatap jamur yang berbentuk payung. Berwarna kebiruan. "Dia tak akan meracunimu. Percayalah padaku." “Bukannya Nyimas berjuang sedari tadi malam mencari jamur ini, kemudian di kasih ke aku?” Wanita cantik itu, memperlihatkan rinjingnya. “Lihatlah ini Kang Asena. Banyak bukan aku mendapatkannya?” Seketika mata Asena membulat lebar. “Banyak sekali Nyimas kamu mendapatkannya?” “Sri, Kakang. Cukup Sri saja.” “Iya, Sri. Tapi, sebanyak itu apa tidak membusuk? Katamu tadi jamur ini cepat sekali busuk.” “Tidak, Kang. Aku mengusap bagian akarnya ini dengan garam. Dia akan awet sampai puluhan tahun Kang. Dan kelopaknya ini, akan tetap segar.” “Ja-jadi … Nyimas sungguhan memberikan ini?” Wanita itu mengangguk lagi. "Terima kasih, Nyimas. Akan aku simpan dulu, mungkin nanti aku akan memakannya." "Baiklah. Sekali lagi terima kasih, Kang." Mereka pun berpisah. Melihat sinar matahari yang mulai terang benderang. Membuat Asena teringat akan tugas yang harus dia selesaikan. Pandangannya jatuh pada Apsari yang terlihat cemberut duduk di bawah pohon. “Ayo, jalan!” Apsari hanya diam. “Kenapa?” “Kenapa Kakang lama sekali bicara dengan wanita itu? Apa karena dia cantik? Lebih menarik dari aku?” Dahi Asena langsung berkerut. Dia tidak memahami maksud pembicaraan Apsari. “Kamu, kenapa?” Tanpa menjawab Apsari langsung berjalan mendahului Asena. “Kamu tahu soal jamur Bokashi?” Apsari hanya menggeleng. Dia langsung mengambil beberapa tanaman yang tumbuh liar di hutan ini. Tanpa pedulikan pandangan Asena yang merasa aneh atas perubahan sikapnya. “Hemmm ….” Segera Asena mengisi keranjang dengan tanah yang diminta Kakek Astageni, sampai penuh. "Kakang!" teriak Apsari. “Sudah selesai?” Apsari yang masih cemberut, memberikan sebungkus nasi yang dibawanya untuk bekal mereka. “Kakang, makanlah dulu!” “Makasih, Apsari. Sudah tak marah lagi sama aku?” “Hemmm ….” “Kenapa cuman … heeemmm?” “Kakang makan dan ini minumnya. Setelah ini kita pulang!” Asena memilih duduk di atas rerumputan, sambal mekan nasi tanpa lauk itu dnegan lahap. Walau butuh penyesuaian, tapi dia menyemangati diri, untuk kuat dan tegar. Apalagi hanya karena makanan yang tidak sama sseperti saat di istana dulu. “Sudah selesai Kakang?” “Su-sudah, Apsari.” “Kita jalan pulang!” Tampak Asena memanggul rinjing di punggul;, sesekali dia masih terlihat meringis menahan sakit. Apsari pun mengiringi langkahnya. Lalu berbisik, " siapa wanita tadi?" "Namanya Sri Rejeki. Dia sepertinya seorang tabib juga seperti Kakek.” "Apa yang dia berikan tadi?" "Kamu ternyata lihat juga?" Terdengar tawa Apsari yang seakan mengejek. Seolah meledek Asena. “Apa kamu tidak mendnegar percakapan kami tadi?” “Memang sengaja tidak ingin mendengarkan.” Asena tak menanggapi kekesalan Apsari yang tidak beralasan menurutnya. Tiba-tiba, Asena menarik lengan gadis itu. Dia yang bertubuh tinggi tegap, sedikit membungkuk menatap tajam ke arahnya. Membuat Apsari semakin salah tingkah. "Katakan sama aku! Siapa Kakek Astageni itu sebenarnya?" "Lepaskan tangan kamu dulu!" Asena melepaskan cengkeraman tangannya. "Kamu harus bisa merebut hatinya. Kakek dulu seorang pendekar yang disegani. Hanya … ada sebuah peristiwa, yang akhirnya membuat Kakek menarik diri dari lingkungannya dulu." "Aku sudah duga. Kakekmu bukanlah orang sembarangan. Katakan padaku! Peristiwa apa itu?" Apsari berbalik menatap Asena dengan tajam. Kedua matanya menyipit, dengan sudut bibir yang menyeringai. Tawanya pun kembali meledak. "Kmau mau memancing aku, Kang? Sudah aku bilang sama Kakang! Rebut hatinya, biar dia luluh dan senang sama kamu." Sembari gadis itu sedikit berjinjit dan mendekatkan bibirnya. Membuat Asena sedikit mengangkat kepala, agar menjauh dari wajah Apasri yang berkringat. Wajahnya terlihat makin cantiuk, bersemu merah merona. "Tanyakan saja semua pada Kakek. Aku tak akan pernah menjawabnya. Paham?" bisik Apsari lagi. Lalu dia berjalan mendahului Asena. "Setidaknya aku bertemu salah seorang pendekar yang bisa menjadi guru. Hemmm … aku harus bisa menaklukkan Kakek itu." Langkahnya bergerak cepat menyusul Apsari yang sudah menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN