Apsari terus mengejar laju Asena yang berlari sangat cepat. Hingga keduanya melihat seorang wanita. tengah di hadang empat orang pria bertubuh kekar dan berotot. Dari wajah sangar mereka telihat hidung yang kembang kempis menatap sang wnaita bagai mangsa.
“Wajah-wajah m***m,” gumam Asena.
Pandangannya ke sana kemari mencari sesuatu.
“Ahhh … Kakang kok main tinggal aja sih.”
Akan tetapi Asena terus mencari di antara semak belukar. Sampai pandanganya tertuju pada sebuah ranting cukup dalam genggaman tangan.
“Apa yang mau Kakang lakukan?”
“Ya, menolong wanita itu lah, Apsari. Apa kamu mau diam saja? Coba kamu lihat wajah mereka yang m***m itu!”
“Arghhhh …. tolong!” Kembali jeritan wanita itu terdengar saat salah seorang lelaki, menarik tangannya. Hingga tubuh sang wanita jatuh ke pelukan. Tak ayal tawa mereka menggelegar seolah senang mendapat mangsa yang empuk.
“Berteriaklah minta tolong, tak akan yang sanggup menolong kamu manis!”
Cuihhhh!
Sang wanita cukup berani meludahi lelaki berjambang dan berkumis lebat.
“Kurang ajar! Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi, kawan-kawan! Ayo angkat dia, kita bawa ke semak-semak itu!”
“Jangan … jangan! Tolong … tolooong!”
“Berhenti!” teriak Asena yang sudah berdiri di belakang tubuh mereka.
Salah seorang menoleh dan tertawa.
“Mau apa kamu anak muda? Mau ikut biar dapat jatah? Kamu bisa menikmati bdannya setelah kami!”
“Dasar muka m***m, hidung belang!”
Apsari yang risih dengan perkataan mereka yang merendahkan kaumnya, langsung menerjang ke arah lelaki tersebut. Tanpa menunggu tindakan Asena. Terjangan Apsari membuat lelaki itu, mundur beberapa Langkah.
“Sialan juga kau tengil! Apa kau ingin bergabung dengan wanita itu juga … haaa?! Sambil tertawa lebar.
Dari tempat Asena berdiri, dia mementikkan ujung jarinya, dengan sebuah batu sebesar jempol ke arah lelaki yang tengah tertawa. Membuat lelaki berjambang tebal itu, tersedak dan kesakitan. Bibirnya meneteskan darah segar.
“Siapa yang melempar batu?!” teriaknya dengan nada garang.
Ketiga lelaki yang lain melepaskan wanita yang berada dalam genggaman. Mereka memilih melayani Apsari, yang berdiri di tengah mereka.
“Sepertinya wanita mud aini, ingin mendapatkan giliran pertama Kakang.”
“Kamu benar. Kita keroyok saja!”
Keempat lelaki langsung menyerang Apsari dalam waktu yang bersamaan.
Ciaaaat!
Apsari melompat tinggi ke atas, kedua kakinya menendang kuat salah satu dari mereka. Segera tubuhnya berbalik, dan kepala ketiganya menjadi pijakan Apsari.
Sesaat, Asena takjub akan ilmu bela diri Apsari yang mampu bergerak cepat. Sengaja dia tidak membantunya, untuk melihat sampai sejauh mana kemampuan gadis cantik ini.
Rambut yang terikat satu ke belakang, tertiup angin seiring Gerakan Apsari yang kembali menerjang ke arah d**a salah seorang lelaki.
Bughh! Bughh!
Dua kali tendangan tajam mengarah kuat, sampai membuat lelaki terjungkal dan terbatuk-batuk.
“Keluarkan golok kalian! Wanita ini tidak bisa kalian buat main-main!”
Apsari yang tidak memegang senjata mulai waspada. Begitu pula Asena. Dalam waktu bersamaan, keempat lelaki garang itu menyerang Apsari tanpa ampun. Dalam keadaan yang terdesak, Asena melompat ke tengah serangan golok mereka. Membentangkan ranting yang dia pegang, dan bergerak memutar dengan cepat, serta kekuatan penuh. Sehingga membuat senjata keempat lelaki m***m tersebut terlempar.
Mendapatkan serangan tiba-tiba, membuat mereka semakin marah. Asena tersenyum mengejek dengan melambaikan tangan, pertanda untuk maju.
“Ayo, maju kalian kalau masih bernyali!”
“Makin urang ajar kau! Sikat dia!”
Apsari langsung masuk dan berdiri di samping Asena.
“Kakang dua aku juga dua.”
Asena mengangguk. Mereka langsung menyerang dengan tendangan dan serta pukulan. Asena mampu menangkis segala serangan keduanya. Ini adalah pertarungan pertama kali yang dia lakukan di luar istana. Selama ini hanya latihan dan Latihan. Sedang saat ini adalah pertarungan yang sebenarnya.
‘Aku harus kerahkan kemampuanku yang aku miliki,’ bisik Asena.
“Kau belum merasakan jurus mautku anak muda. Bersiaplah tubuhmu hancur terpenggal-penggal!” Diiringi seringai mengejek.
“Jurus Golok Bergoyang! Rasakaaan!”
Mereka berempat melakukan gerakan yang sama. Keempat lelaki itu berlari sangat cepat mengelilingi Apsari dan Asena yang sudah memesang kuda-kuda. Lelaki tampan itu pun langsung berdiam, dengan memejamkan mata.
Tarikan napasnya sampai terdengar berembus keluar. Dia sedang memusatkan pikirannya. Seperti menangkap gerakan angin di sekitarnya. Memusatkan pikiran, rasa, pendengaran menjadi satu kesatuan.
Masih dengan mata terpejam, perlahan Asena seperti melihat gerakan yang sangat lambat dari mereka yang mulai menyerang ke arahnya. Walau sebenarnya di penglihatan Apsari Gerakan para b******n itu sangat cepat.
“Awaaas Kakaaaang!” teriakan Apsari membuat Asena membuka mata.
Hanya dengan dua kali Gerakan, satu serangan golok yang mengarah ke dirinya bisa dia hindari. Suara angin yang mengiringi sabetan mereka, seperti memberikan pertanda pada Asena. Sehingga lelaki tampan itu, dengan mudah meghindar dan mengelak serangan mereka.
Melihat celah, Asena langsung merunduk dan membentangkan sebelah kaki dan bergerak memutar, menyapu tungkai kaki mereka. Membuat keempat begundal tengik itu, terpental. Namun mereka seperti pantang menyerah.
Begundal itu langsung bangun dan kembali menyerang dengan sebuah teriakan yang sama, “Golok Bergoyaaaang!”
Ciaaaaat!
“Bunuh diaaa!” teriak salah seorang pemimpin mereka.
“Mundurlah, Apsari!”
“Ta-tapi, Kakang tak membawa senjata sama sekali.”
“Mundurlaaah!” sentak Asena. Membuat gadis itu terkejut dan langsung mundur beberapa Langkah.
Dari tempatnya dia melihat keempat lelaki itu mulai menyerang Asena dengan tebsan maut mereka. Asena sesekali melompat tinggi, dan menerjang.
Bughh!
Bugh!
Tendangan keras menghantam salah satu punggung para begundal itu. Tak tinggal diam, salah satu dari mereka menyerang balik, dan sabetan mengenai lengan Asena.
“Kakaaang, awaas!” teriak Apsari tegang. Hatinya berdegup kencang melihat pertarungan itu. Karena gadis itu tahu, Asena belum smebuh total dari lukanya.
“Mampus kau!” teriak lelaki itu pongah.
‘Sepertinya aku harus mencoba ajian yang diajarkan mendiang Ki Agung Wungu.’
Asena mulai menggerakan kedua tangannya, seperti menghimpun kekuatan yang berasal dari angin yang berembus ke arahnya.
“Rasakan kekuatanku, ajian Bayu Bajraaaa!”
Kedua tangan Asena membentang ke arah depan, gumpalan angin sebesar pohon tertinggi di sekitar tempat itu, menghantam tubuh mereka bersamaan. Mereka seperti masuk ke dalam putaran angin topan yang menyerang tubuh para begundal itu.
“Aaaaarghhh!”
Hanya terdengar teriakan Panjang.
Praang!
Praaang!
Praaang!
Golok maut mereka berjatuhan tak jauh di mana Asena berdiri. Apsari yang melihat langsung terperanjat. Mulutnya terbuka lebar, ternganga. Dia tidak pernah menyangka bila Asena mempunyai ilmu seperti tadi.
‘Aku harus menceritakannya pada Kakek.’