Dua orang prajurit menarik lengannya secara paksa. Namun, Sang Pangeran terus memberontak dan meronta.
“Tunggu dulu, Panglima! Aku ingin membantu kaliaaan …!” teriaknya nyaring. "Biarkan aku ikut berperang bersama kaliaaaan!!!"
“Yang ada Pangeran Nawasena akan mati di medan pertempuran! Kalau semua mati di pertemuran ini, siapa yang akan mengobarkan lagi panji kerajaan Saloka?!” teriak sang Panglima tak kalah sengit.
Sontak kalimat panglima, seakan merobek hatinya. Nawasena menahan air mata yang hendak menetes. Dua orang prajurit tak kenal ampun. Terus menarik paksa Nawasena.
“Panglimaaa … Panglima!” teriak Nawasena. Namun, sang panglima mengabaikannya. Dia terus melanjutkan pertarungan.
Dari kejauhan Nawasena bisa melihat, bagaimana gagah dan beraninya panglima menghadapi serangan musuh. Hingga sebuah pedang, bergerak cepat menebas lengan kiri. Tak hanya itu saja. Sebuah tombak dengan kecepatan sangat tinggi. Langsung menghujam tepat di jantung sang panglima. Saat itu juga, Pangeran Nawasena sadar. Bahwa kerajaan Saloka akan runtuh.
“Panglimaaaa!” teriaknya dengan berurai air mata.
Tubuh Sang Panglima pun ambruk saat serangan bertubi-tubi mengarah padanya. Begitu juga dengan pasukan kerajaan Saloka yang lain. Para prajurit mulai bergelimpangan saat mendapat serangan hujan panah.
Erangan kesakitan semakin terdengar jelas di telinga Nawasena. Teriakan penuh semangat para prajurit yang masih hidup pun sanggup menggetarkan jiwanya.
“Tutup gerbang utama istana yang menuju kamar Raja dan Permaisuri!” teriak salah seorang pasukan elit kerajaan.
“Tapi Pangeran masih di luar!” teriak salah seorang prajurit.
“Tarik paksa agar masuk ke istana!!!”
Para prajurit elit kerajaan membentuk barisan perisai. Untuk melindungi ruangan utama Raja dan Ratu.
_Di dalam kamar utama_
Terdengar langkah yang bergegas menuju kamar agung permaisuri. Sontak sang ratu terperanjat dengan kedatangannya, yang diiringi seorang prajurit khusus. Melihat raut wajah suaminya dan prajurit. Sang ratu tahu, bahwa sesuatu yang genting telah terjadi.
“Permaisuriku, kemarilah!”
“Iya, Paduka Prabu. Ada apa?”
“Pergilah sekarang juga bersama Nawasena dan Ratna!
“Ta-tapi, Paduka? Kenapa kami harus pergi?”
“Ini perintah dari Rajamu, Permaisuriku!”
Wanita cantik itu bergeming. Dia masih menatap sang raja, tanpa mengerjap sedikit pun. Dia tahu bahwa semua sedang tidak baik-baik saja. Dia pun tahu, apakah kerajaan ini masih bisa bertahan atau akan hancur ke tangan musuh.
“Kau dengan anak-anak harus selamat! Biarkan Nawasena yang akan menuntut balas dan mengambil alih kembali kerajaan ini! Putra kita yang akan menghancurkan pengkhianat kerajaan Saloka!!!” Suara sang raja terdengar serak dan bergetar.
“Ta-tapi, di mana dia?” Permaisuri terlihat kebingungan. Ekspresinya tegang dan panik.
Seketika sang raja dan seorang prajurit menoleh ke belakang. Mereka tak melihat keberadaan sang pangeran, yang tadi bersama mereka.
“Prajurit, di mana dia?!” bentak Raja Baga Sadendra.
“Cepat cari dia sekarang juga!” sentak sang Ratu Ratih Sekar Sadendra cemas.
Terlihat kegetiran menggantung di wajah keduanya. Sang Raja berjalan mondar mandir menunggu kehadiran Nawasena. Sedangkan Ratna Sekar Sadendra yang masih berusia 15 tahun, ikut cemas.
“Ada apa ini sebenarnya Ayahanda?”
Tanpa menjawab pertanyaan dari sang putri. Raja langsung memeluk erat anak gadisnya.
“Kamu harus mengikuti ke mana pun kakak kamu pergi anakku. Kamu harus selalu bersamanya.”
“Memangnya mau pergi ke mana, Ayahanda?”
Sang Ratu menghampiri Ratna Sekar, dengan sikap yang berusaha untuk tenang.
“Ikuti semua apa yang dikatakan oleh Ayahanda anakku.”
Ratna Sekar yang belum mengetahui apa yang akan terjadi. Hanya mengangguk tertunduk, menanggapi ucapan Ibunda.
Gusti Prabu Agung Baga Sadendra semakin gelisah. Lelaki itu hanya menggeleng berulang. Saat ini adalah titik tergenting dalam kehidupannya. Antara hidup dan mati. Tak hanya jiwanya, tapi juga kerajaan Saloka.
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah berlari beberapa orang.
“Ayah … Ayahanda!” teriak Nawasena.
Dari riak wajah, lelaki muda dan tampan itu, tergambar jelas, kecemasan yang sangat besar. Dia juga tidak bisa menahan manik mata yang mulai berkaca-kaca.
“Para pasukan Antapura sudah menghantam pasukan kita. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Tidak ada yang harus kamu lakukan Pangeran! Yang ada saat ini, kamu bersama permaisuri dan adikmu segera berkemas-kemaslah!”
“Tidak, Ayah! Nawasena tidak akan meninggalkan kerajaan ini!”
Seketika sang raja tersulut amarah.
“Jangan pernah sekali pun menentang perintahkuuu!!!”
Detak jantung siapa pun juga, yang berada di dalam kamar ini, berdegup lebih kencang. Semua orang akan mengetahui apa yang terjadi, terutama Nawasena. Dia pun tahu bahwa sang ayah akan memilih tetap bertahan di istana.
Suasana ketegangan yang mencekam semakin terasa. Apalagi teriakan para prajurit dari arah luar, semakin kencang terdengar.
"Apakah Ayahanda dan Ibunda tahu bagaimana keadaan di luar sana?" Suara Nawasena terdengar sangat tenang. "Apakah Ayahanda melihat bagaimana semua prajurit Saloka berjuang mati-matian untuk mempertahankan kerajaan ini? Apakah Ayahanda tahu, saat ini mereka kehilangan pimpinan di lapangan, karena kematian Panglima? Salahkah bila aku, menggantikan posisinya, dan berjuang untuk negeri ini, Ayah?!" teriak Nawasena menggelegar, ditengah suara teriakan dan hingar bingar di luar.
Sang Raja hanya mengepalkan kedua tangan, dengan bibir yang bergetar.
"Kamu bicara hanya dengan napsu semata anakku! Kalau kamu mati saat ini, siapa yang akan berjuang untuk merebut kembali Saloka dari tangan musuh? Apa hanya sampai di situ saja pemikiran kamu anakku, Pangeran Nawasena Sadendra?!"
Hening, tidak ada pembicaraan sama sekali. Nawasena tertunduk dalam. Air mata yang mneggantung dan sedari tadi dia tahan, kini luruh membasahi wajah tampannya.
"Apakah kamu bisa mengerti yang aku maksud wahai anakku?"
"Iya, Ayahanda."
"Masihkah kamu ingin tetap bertahan di kerajaan ini?"
Sang permaisuri mendekati anak lelakinya, memeluk cukup lama.
“Kamu sudah mendengar titah sang Prabu. Sebagai seorang anak dan putra mahkota satu-satunya. Kamu harus mengikuti apa yang sudah menjadi keputusan beliau. Bisa kamu mengerti Pangeran?”
“Hamba tetap tidak menyetuji keputusan Sang Paduka yang sepihak. Nawasena ingin berjuang untuk kerajaan Saloka! Hamba sanggup dan bisa Ibu!”
“Anakku!!!” teriak sang Raja mulai murka.
Mereka yang berada di dalam kamar itu, terkesiap dengan bentakan keras sang raja.
“Ingat pesan Ayah ini, Nawasena dan Ratna. Jadilah kalian berdua pendekar terkuat dan terhebat. Kalahkan semua pasukan musuh. Hancurkan kerajaan Antapura yang menyerang kerajaan kita saat ini. Balaskan semua kejahatan yang menimpa kerajaan kita. Kau bisa mengingatnya Nawasena?!”
“Bisa, Ayah. Tapi—“
Belum sampai Nawasena selesai bicara. Sang permaisuri sudah menyuruhnya untuk mendekat.
“Sini anakku! Kamu juga Ratna Sekar!”
Sejenak sang Ratu terdiam, dan berulang kali mengambil napas panjang. Sebelum mengatakan lebih lanjut. Ratu Ratih Sadendra memeluk kedua anaknya. Mendekap erat tanpa jeda sedetik pun.
“Prajurit!” teriak sang permaisuri.
Dengan langkah cepat, prajurit elit kerajaan mendekat. Dia membungkuk, lalu berdiri beberapa jarak dari permaisuri.
“Berikan sangkurmu!”
Terlihat prajurit itu ragu.
“Kau tidak mendengar perintahku?!” Tatap matanya tajam mengarah padanya.
“Ba-baik, Gusti Ratu!”
Prajurit pun menyerahkan sangkur padanya. Sang ratu menerima dan mencabut sangkur dari warangkanya
Sriiing!