PELARIAN MENUJU GUNUNG RAUNG

1019 Kata
Prajurit pun menyerahkan sangkur padanya. Sang ratu menerima dan mencabut sangkur dari warangkanya. Sriiing! Sangkur itu, berkilap dan siap untuk menghunus siapa pun. Kemudian sang permaisuri menarik lengan Ratna Sekar, agar lebih mendekat padanya. “Peluklah Ibu yang kencang, Putri!” “A-apa yang hendak Ibunda lakukan?” “Berbaliklah!” Gadis cantik mengikuti semua perkataan sang ratu. “Ibunda, mau apa?” Wanita itu tersenyum penuh kehangatan. “Ibu akan lakukan yang terbaik untukmu anakku!” Tangannya mulai bergerak menuju belakang leher sang anak. “Mahkota ini, kau tak akan memilikinya lagi anakku!” Crusssh! Sangkur yang tajam, langsung menebas rambut yang berada dalam genggaman. Membuat semua dayang dan prajurit yang berada dalam kamar terhenyak. Mereka tak menyangka permaisuri akan melakukannya. Termasuk Pangeran Nawsena yang tak bisa berkata-kata lagi. “Dayang Laksmi simpan rambut Ratna Sekar, jangan sampai ada yang tersisa! Bila ada kesemptan baik, buanglah rambut ini ke sungai!” “Baik, Ibunda Ratu.” Terlihat wajah gadis cantik itu memerah. Bola mata yang lebar mulai berkaca-kaca. Dadanya pun terasa sesak, menahan situasi yang terjadi saat ini. Namun, isak tangis masih tertahan. “Kenapa rambut Ratna dipotong pendek, Ibunda …?” Nawasena seakan tidak terima melihat adiknya berpotongan seperti pria. Sang Ratu menarik lengan sang putri. “Dengarkan ibumu dengan baik, Ratna dan Nawasena! Sejak saat ini, Ratna Sekar Sadendra akan berganti nama menjadi Ranujaya. Kamu saat ini, hanya seorang laki-laki kampung. Tidak ada kaitan dengan kerajaan Saloka sama sekali, paham kalian berdua?” "Hamba paham Ibunda." Sang Prabu menghampiri kedua anaknya. “Ranujaya, anakku. Kamu harus bisa menerima ini semua! Seperti yang disampaikan Ibunda, kalian harus bisa merebut kembali kerajaan Saloka. Semua yang Ibu kalian lakukan, untuk keselamatan dirimu, dan juga Nawasena. Dan, ingat pesan ayahanda! Jadilah kalian pendekar yang hebat. Rebut kembali kerajaan Saloka!” “Ta-tapi—“ Masih saja Ratna belum bisa terima. Sang Ratu kini mendekati Putra Mahkota. “Kemarilah, Putra Mahkota!” Tiba-tiba …. “Maafkan, hamba Gusti Ratu! Kita harus segara keluar dari sini. Pasukan musuh mulai memasuki istana Ratu,” ucap prajurit elit kerajaan cemas dan panik. “Tunggu sebentar!” Sang Ratu menarik tangan Nawasena hingga ke atas kepala. “Lebarkan telapak tanganmu Putraku!” Tanpa banyak bertanya lagi. Nawasena melebarkan telapak tangannya. Lalu …. Cruusssh! Cruusssh! Sabetan sangkur bergerak cepat menggores telapak tangan Nawasena. Sebuah goresan yang membentuk sebuah tanda silang. Seketika darah muncrat membasahi wajah sang ratu. “Aaarghh!” Tampak Nawasena menahan kesakitannya. “Kalian semua yang ada di sini. Lihat tanda yang ada di telapak tangan sang Pangeran! Tanda ini menunjukkan dia satu-satunya pemegang mahkota kerajaan. Carilah dia! Carilah Asena Sadendra!” Suara terdengar tegas dan tenang. Kemudian, Ratih Sadendra berjalan menuju ranjang. Dia membuka sebuah kotak yang berisi batu segel kerajaan. Serta sebuah kalung dari mutiara putih, berliontin gading gajah, yang diukir indah bergambar rajawali. Dua benda yanga memiliki arti khusus bagi kerajaan Saloka. "Asena, maafkan Ibu yang telah menyakiti tanganmu. Maafkan Ibu juga, yang menebas rambut panjang kesukaan kamu putriku. Kalian jangan cengeng! Kalian pun jangan pernah bertengkar. Kalian berdua harus biasa menjadi seseorang yang kuat dan tegar.” “Maaf, sang Ratu. Prajurit musuh sudah masuk ke dalam istana. Kita harus segera pergi!” sela sang prajurit. "Pakailah kalung ini, Ranujaya. Simpan yang baik jangan sampai ada orang yang tahu. Kamu Asena, bawa dan simpan batu segel kerajaan Saloka ini, jangan sampai hilang!" Raja Baga Sadendra, menarik kedua tangan anaknya. “Ingat semua yang dikatakan Ibunda kalian!” Kemudian sang raja mendekati permaisuri. “Ikutlah bersama mereka!” “Paduka Raja," Suara permaisuri seakan tercekat di ujung tenggorokan, dengan napas yang memburu, "A-apa Saloka akan benar-benar hancur?" Keduanya hanya saling berpandangan. Permasuri menggenggam erat kedua tangan sang suami. Tubuh mereka serasa bergetar menahan rasa haru dan kesedihan yang mendalam. "Sekarang pergilah istriku!" Sang Raja melepaskan genggaman erat sang ratu. “Prajurit! Bawa pergi Asena dan Ranajaya dari sini secepatnya!” teriak sang Raja. "Asena! Bawa adik kamu sekarang juga!" sentak sang Ratu keras. Tatap matanya terus memandang tajam pada sang baginda. Lalu, dia menggeleng pelan. Pertanda dia menolak perintah sang raja. “Ta-tapi Ayah dan Ibunda—“ Belum sampai selesai teriakan Asena dan Ranujaya. Terdengar derap langkah puluhan prajurit yang memasuki istana. Asena yang menggandeng sang adik, melihat sepintas sang raja yang segera keluar kamar. Menyongsong para prajurit musuh. “Ibuuuu …!” teriak Ranajaya. “Asena! Ranujaya, ikuti saya!” teriak sang prajurit dengan menarik paksa lengan sang putri dan putra mahkota. "Pergi kalian sekarang juga!" teriak Raja Baga Sadendra. Melihat para prajurit musuh yang mulai mengepung dalam istana. Sang Prabu mencabut pedang. Dia betempur menghalau para musuh membaur dengan para prajurit yang tersisa. Gerakannya masih lincah dan membuat panik para pasukan musuh. Begitu juga dengan sang permaisuri yang tak mau tinggal diam. Dia langsung melompat ke tengah pertempuran. "Kenapa kamu masih di sini?" "Maafkan hamba, Kanda. Hamba memilih mati bersama Kanda, mati dengan terhormat mempertahankan kerajaan ini." Mereka berdua bertarung, menyerang dan menghalau kekuatan pasukan musuh, yang semakin bergelombang memasuki istana. Para prajurit elit yang melindungi sang raja serta sang ratu mulai kewalahan. Sampai sebuah tombak menyerang mereka, meluncur dengan cepat dan menghujam tepat di d**a sang ratu. "Ratiiih ... Ratih!" teriak sang Raja histeris. Tubuh wanita cantik yang perkasa itu pun ambruk dan tergelatak di lantai yang dingin berlumuran darah. Membuat sang raja berlari ke arahnya. Memeluk erat dan menangisniya. Beberapa prajurit elit yang tersisa segera melindungi dengan membentuk lingkaran. "Paduka kami mohon, masih ada waktu untuk pergi dari istana. Kami mohon, Paduka!" "Aku akan tetap bersama kalian. Bila memang takdirku mati di dalam istana aku snediri, biarkan aku berjuang dengan sisa tenaga yang masih aku punyai." Tidak ada lagi yang bisa mendebat sang raja. Melihat kematian Ratih, membuat Baga Sadendra mengambil tombak yang tidak jauh darinya. Dia melemparkan tombak tersebut pada prajurit yang telah membunuh sang ratu. Wushhh! Tombak meluncur dengan kecepatan sangat tinggi. Menancap di tubuh salah seorang prajurit. Aksi itu menyulut kemarahan dari pasukan musuh. Sampai mereka beregrak hendak menyerang, akan tetapi sebuah teriakan panjang menghentikan mereka. "Hentikaaan!" "Wikrama ... apa kamu otak dari semua ini?"desis Baga Sadendra melotot, seolah tidak mempercayai pada penglihatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN