"Hentikaaan!"
"Wikrama ... apa kamu otak dari semua ini?" desis Baga Sadendra melotot, seolah tidak mempercayai pada penglihatannya.
Lelaki yang sudah berusia tua itu terkekeh. Tanpa banyak bicara dia langsung menyerang Baga Sadendra. Serangannya sangat tajam dan membabi buta. Dengan sangat lihai sang raja membalas, dan menangkis semua serangan. Hingga membuat Wikrama kewalahan.
"Sepertinya aku akan sia-sia bertarung denganmu Sang Prabu."
Wikrama mengangkat sebelah tangan ke udara. Tak pelak pasukan musuh langsung menyerang Baginda Raja dan prajurit yang masih tersisa.
"b******n pengkhianat! Akan aku pastikan,selama kehidupan kamu dan anak turunmu, akan sengsara. Karma akan membalas semua perbuatanmu ini, Mahapatih! Pengkhianatanmu akan menjadi awal kesengsaraan hidupmu!!!"
Wikrama semakin tertawa lebar. Dia merasa senang dengan ocehan Baga Sadendra.
"Sudah saatnya kita akan berpisah Gusti Prabu. Sangat tepat bila Paduka segera menysul Permaisuri."
"k*****t kau!"
Dari kejauhan Asena dan Ratna bisa melihat bagaimana perjuang ayah mereka mempertahankan kerajaan Saloka. Asena pun masih sempat melihat, bagaimana pasukan musuh menghabisi sisa-sisa prajurit elit kerajaan. Yang bertugas melindungi sang raja.
Keduanya masih sempat melihat dari jarak yang tak dekat. Bagaimana pasukan musuh, membunuh sang ayah. Menjambak, membanting tubuhnya. Hingga menikam beberapa kali dengan ujung tombak. Lalu menyeret jasadnya.
“Ayaaaah …!” teriak Ranujaya, yang berlari mengikuti gerak langkah Asena. Namun, pandangannya masih tertuju pada arah istana.
Dalam penglihatan yang semakin nanar. Asena melihat seseorang yang melintas tak jauh dari jasad sang Raja. Lelaki yang sangat dia kenal dan menjadi orang paling dipercayai oleh ayahnya.
"Mahapatih?" desis Asena. “Aku tak menyangka jika itu engkau, Mahapatih” bisik Asena, yang terus berlari menjauh meninggalkan kerajaan Saloka.
“Ternyata Ayahanda memercayakan pada orang yang salah. Paman lihat tadi, Mahapatih Wikrama berada di dekat mereka?” teriak Asena berang. Penuh dendam kesumat yang diselimuti amarah.
“Iya, Putra Mahkota. Hamba melihatnya.”
“Hentikan memanggil dengan sebutan Putra Mahkota, Paman!” sentak Asena kesal.
“Maafkan Paman, Asena! Tapi sebaiknya kita jangan berhenti di sini. Pasukan musuh sepertinya masih mengejar kita.”
“Aku tau itu, Paman. Tapi hatiku masih sakit melihat pengkhianatan Wikrama pada kerajaan kita. Aku tak sangka dia bekerja sama dengan kerajaan Antapura, untuk menghancurkan Saloka.”
“Paman sangat mengerti, Asena. Tapi, ayo jangan berhenti. Atau kita bertiga mati di sini?”
Terdengar dia mendengkus kasar. Mencoba menahan segala kebencian dan kemarahan yang memenuhi hati Asena saat ini.
“Kakang Asena!” sentak Ranujaya. Dia terus menarik pergelangan tangan sang kakak. Yang masih terpaku dengan semua yang baru saja terjadi.
“Ma-maaf, Ranajaya. Ayo kita lari lagi!” ajak Asena. Lalu dia berpaling pada prajurit yang mengikuti mereka. “Kita akan lari ke mana Paman?”
“Kita lari ke hutan Chandra Loka. Aku ingatkan lagi Asena. Kau jangan jadi pemuda cengeng. Semua sudah terjadi. Kau tak akan bisa menghidupkan lagi raja dan ratu. Kau harus ingat itu!”
“Iya, Paman.”
“Jika Paman mati dalam pelarian ini, tolong jaga baik-baik adik kamu. Dia bukan seorang yang ahli bela diri.”
“Aku sangat paham mengenai hal ini, Paman.”
“Kalau begitu, ikuti aku! Larilah yang kencang!”
“Paman, kita akan ke mana?” tanya Ranujaya.
“Kalian lihat bukit yang berada di balik gunung Raung itu?”
Asena dan Ratna mengangguk.
“Ke sana kita akan pergi! Instingku mengatakan, kalau pasukan musuh akan mencari kalian.”
Ranujaya menatap wajah sang kakak. Melihat kecemasan adiknya, Asena menggenggam erat telapak tangan adiknya.
“Apakah kita akan ke hutan angker yang sangat terkenal itu, Paman?” tanya Asena memastikan.
Prajurit elit itu mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi. Sang prajurit mulai berlari kencang diikuti oleh Asena dan Ranajaya.
“Kita tak akan berhenti, sebelum sampai hutan Asena!”
“Baik, Paman!”
Derap langkah yang berlarian kian terdengar menembus keheningan siang ini. Tampak Asena dan Ranajaya, mengejar laju sang prajurit elit. Mereka bertiga mulai memasuki hutan Chandra Loka. Letak hutan yang masih masuk di wilayah kerajaan Saloka.
Seraya detak jantung yang terus berpacu. Beriringan dengan kegetiran hatinya. Asena masih belum mampu menghilangkan rasa sakit yang kian mendera. Walau hanya sejenak. Bayang-bayang kematian mengenaskan kedua orang tuanya. Seakan menghantui.
“Paman!” teriak Ranujaya dengan terengah-engah.
“Ada apa Ranujaya?”
“Berhenti dulu apa tak boleh Paman? Aku sangat lelah. Mana kakiku sakit, Paman.”
“Di belakang para prajurit kerajaan Antapura masih mengejar kita. Jangan sampai Tuan Putri tertangkap.”
“Aku sudah bukan Tuan Putri, Paman! Lagian aku seorang laki-laki!”
“Ma-maafkan hamba! Sekali lagi maafkan Paman, Ranujaya.”
“Jangan bersikap seolah aku ini seorang Tuan Putri, Paman! Aku adalah Ranujaya yang hanya seorang rakyat biasa. Begitu juga dengan kakakku, Asena Sadendra. Paman paham ‘kan?” tegas Ranujaya, membuat Asena mengulum senyum bangga.
“Pa-paham sekali, Ranajaya.”
Asena pun melepaskan genggaman tangannya. Lalu, dia sedikit berjongkok di hadapan Ranajaya.
“Kakang, mau apa?”
“Naiklah di punggung Kakang, Ranujaya! Kita harus segera pergi dan menembus kawasan hutan angker itu sebelum malam.”
“Baik, Kang!”
Ranujaya pun naik ke punggung kakaknya.
“Setelah ini kita akan ke mana Paman?”
Prajurit itu membuka selembar daun lontar.
“Tadi, Raja sempat memberikan ini padaku, Asena.” Seraya menyerahkan gulungan daun lontar pada Asena.
Segera Asena membuka dengan pelan gulungan daun lontar itu. Sejenak Asena membaca beberapa tulisan yang tergores di setiap lembarannya.
“Ini beberapa nama padepokan persilatan. Ada padepokan Bangau Putih. Padepokan Saroja, dan beberapa nama lainnya Paman. Kita jadi pergi ke padepokan yang mana?”
“Kita akan mendatangi padepokan Bangau Putih. Ketuanya kakek Wuyut Wasesa.”
“Di mana itu Paman?”
“Padepokan itu berada di balik hutan ini. Cukup jauh juga Asena. Di sekitaran gunung Raung.”
“Gunung Raung?”
“Iya, Asena.”
Tiba-tiba ….
Mereka mendengar suara anjing yang menyalak, dari kejauhan. Sepertinya berasal dari pasukan musuh yang mengejar. Asena memandang sang adik yang terlihat ketakutan.
“Sepertinya kita tak bisa berdiam lebih lama. Lari, Asena!” Prajurit elit tersebut meminta agar mereka berdua segera meninggalkan tempat ini. "Pergilah sejauh mungkin. Semoga takdir Dewata, akan mempertemukan kita kembali Pangeran Asena!"
"Ta-tapi ... Paman mau ke mana?"
"Jangan hiraukan aku! Percaya dengan yang aku bilang. Bawa lontar ini dan tunjukkan saat kamu sudah sampai ke padepokan Bangau Putih!”
"Ta-tapi__"
Asena tak mampu berkata-kata lagi. Dia menatap sang prajurit yang terus menunduk di hadapannnya. Asena langsung berjongkok di depan Ranujaya. Yang membuat gadis itu kebingungan.
“Naiklah! Cepat kamu naik lagi ke punggung aku, Ranujaya!”
“Kakang mau gendong aku?" Asena mengangguk.
"Cepatlah!" sentak Asena.
"Ba-baik, Kakang.”
Prajurit pun membungkuk pada mereka berdua, untuk yang terkahir kali. Sampai tubuhnya melesat di antara pepohonan yang cukup lebat. Membuat beberapa gerakan yang menimbulkan bunyi agar memancing para prajurit musuh. Untuk mengikuti.